Belajar dari Gadis Kretek, Perempuan itu Berperan
Gadis Kretek merupakan salah satu judul serial dalam Over The Top (OTT) Netflix yang saat ini sudah tayang dan masuk ke Top 10 Netflix Series di 22 negara di seluruh dunia. Serial tersebut diambil dari sebuah novel dengan judul yang sama yaitu “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala yang telah terbit pada tahun 2012. Novel tersebut terinspirasi dari kisah keluarga penulis yang menceritakan mengenai perusahaan kretek keluarga. Juga terdapat kisah romansa percintaan dan juga peran perempuan yang menonjol dalam cerita.
Dalam serial “Gadis Kretek” terdapat tokoh bernama Dasiyah yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Di mana dia merupakan anak perempuan dari Idroes Moeria pengusaha kretek. Dasiyah merupakan anak perempuan kesayangan yang tertarik dengan usaha bapaknya yaitu usaha kretek. Ia tertarik belajar mengenai kretek sejak kecil hingga beranjak dewasa. Dan sampai pada titik di mana Ia ingin masuk pada ruang rahasia yang ada di perusahaan bapaknya. Yaitu ruang peracik saus kretek.
Peran tersebut biasanya dilakukan oleh laki-laki dikarenakan perempuan dianggap tidak pantas untuk menjadi peracik saus. Hal tersebut disebabkan ada anggapan bahwa apabila perempuan menjadi peracik saus, maka rasanya akan beda dan tidak enak. Dasiyah pun ingin membuktikan bahwa anggapan tersebut salah, perempuan dapat berperan dalam peracikan saus kretek. Maka Dasiyah pun melakukan berbagai usaha peracikan saus dengan ciri khas yang ia miliki. Hal tersebut untuk membuktikan pada bapaknya bahwa dia layak untuk meracik saus kretek. Berbagai cara ia lakukan dan sampai di mana ia menemukan ide untuk membuat saus kretek dengan aroma yang memiliki ciri khas yaitu aroma mawar merah. Dan terbukti bahwa Dasiyah dapat melakukan hal tersebut dengan lahirnya “Kretek Gadis”.
Dari serial tersebut dapat diambil beberapa perspektif mengenai peran perempuan. Melalui peran “Jeng Yah” atau Dasiyah dapat terlihat bahwa pada masa itu perempuan memiliki batasan-batasan dalam ruang gerak atau ruang dalam berperan. Perempuan dituntut untuk bersikap “nrimo ing pandum” tulus menerima sesuatu yang diberikan. Namun dalam series tersebut juga dibuktikan bahwa “Jeng Yah” mampu meracik saus kretek. Dan berhasil lahir merek “Kretek Gadis” yang memiliki ciri khas aroma sausnya dan laku terjual. Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan dapat memiliki kualitas dan kapasitas yang sama. Juga dengan laki-laki dan melalui hal tersebut dapat mengubah status perempuan yang tadinya hanya sebagai pelinting kretek dengan membuktikan berhasil menjadi peracik saus kretek.
Sesuai dengan latar waktu pada series tersebut, sekitar tahun 1960-an perempuan sudah mulai mencoba mengambil beberapa peran pada hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Dia mencoba melakukan hal tersebut karena sebenarnya perempuan memiliki ide terhadap hal-hal tersebut, dan mampu untuk melakukan itu. Namun stereotip yang telah tertanam pada diri perempuan yaitu mereka hanya bisa melakukan pekerjaan domestik untuk mengerjakan tugas rumah tangga yang biasa kita dengar dengan istilah “Kanca Wingking” macak (berias), manak (melahirkan), masak (memasak). Hal tersebut merupakan budaya yang terbangun pada Jawa yang kemudian melekat pada pola pikir masyarakat Jawa.
Selain itu, perempuan juga lekat dengan beberapa karakter yang dianggap memiliki jiwa lemah dan mudah terbawa perasaan atau baper. Perempuan yang memiliki karakter lemah lembut biasanya dianggap memiliki jiwa yang lemah. Dan ia tidak memiliki kekuatan yang mampu melakukan hal-hal yang bersifat kepemimpinan dan menjadi sosok yang kuat. Stereotip tersebut juga dapat menyebabkan ruang gerak perempuan terbatas. Hal tersebut dapat menyebabkan masyarakat kurang yakin dalam memberikan kepercayaan pada perempuan dalam berbagai hal. Seperti pekerjaan, pembagian kerja dalam organisasi, jabatan, dan lain sebagainya. Padahal perempuan memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk berperan dalam dunia pekerjaan, organisasi, jabatan, pemerintahan, dan ruang-ruang berperan lainnya.
Perempuan saat ini banyak yang sudah memutuskan untuk menempuh pendidikan tinggi dan berperan pada ruang publik dalam rangka mengangkat martabat perempuan. Mereka memilih untuk menempuh pendidikan sampai pada tahap S1, S2, bahkan S3. Kemudian berani mengambil peran-peran strategis pada ranah pemerintahan seperti menjadi anggota dewan baik di ranah daerah maupun pusat, menduduki jabatan-jabatan sebagai menteri, menjadi pimpinan lembaga pendidikan rektor, kepala sekolah, dan masih banyak lagi posisi posisi strategis yang diduduki oleh perempuan.
Melalui media sosial pun saat ini perempuan mulai menciptakan ruang-ruang yang khusus untuk menyuarakan mengenai kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, melakukan campaign-campaign mengenai perempuan dan peran perempuan. Bahkan, saat ini terdapat gerakan ”women support women” atau menjadi perempuan yang mendukung wanita. Artinya itu merupakan bentuk kepedulian sesama perempuan yang juga saling memeberikan dukungan untuk dapat mengangkat martabat perempuan melalui berbagai peran. Dengan ini perempuan pun saling menguatkan satu sama lain yang dapat memberikan energi baik bagi sesama perempuan. Sehingga mereka semakin kuat untuk berperan di ruang publik.
Yuk para perempuan jangan lupa saling memberi dukungan ya ingat bahwa “women support women” bukan “women bring down women”.
Saya seorang mahasiswa semester 7 di Universitas Negeri Yogyakarta yang merangkap sebagai aktivis persyarikatan Muhammadiyah melalui IPM. Saya selalu tertarik dengan isu-isu gender terutama mengenai pemberdayaan perempuan. Instagram @khansarafidaa.
