Agar Anak Cerdas Finansial
Cerdas finansial sejak dini dalam sistem hidup kapitalis saat ini seolah menjadi hal yang wajib. Bagaimana anak bisa mengelola keuangan sejak dini sehingga bisa berhemat dan tepat membelanjakan uangnya. Atau mendidik anak agar dari uang yang dibelanjakan akan mendapatkan keuntungan dari uang itu. Lagi-lagi materi memang sebagai tujuan utama dalam sistem hidup kapitalis.
Semua mengatakan bahwa uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Maka jadilah semua aktivitas kita akan dikaitkan dengan hasil berupa uang. Salah satu contoh yang paling nyata adalah apa yang menjadi tujuan orang tua saat menyekolahkan anaknya. Adalah seberapa uang yang nanti akan dihasilkan? Jadi tujuannya adalah anaknya bisa kerja di mana, menjadi apa dan Berapa gajinya.
Bagaimana dengan pandangan Islam? Islam memiliki pandangan yang berbeda terhadap uang atau lebih lengkapnya harta. Demikian juga dengan pengelolaannya. Mendidik anak cerdas finansial adalah bagian dari pendidikan keterampilan kehidupan dalam Islam yang harus diberikan kepada anak. Dimulai saat anak sudah memasuki usia tamyiz. Pada saat itu anak sudah bisa mulai diajarkan pengelolaan keuangan. Tentunya dimulai dari yang sederhana.
Uang dan Rezeki
Hal pertama yang harus disampaikan kepada anak adalah bahwa uang adalah bagian dari rezeki yang datangnya dari Allah. Bukan hasil dari kerja kita. Kalaupun kita bekerja, itu adalah jalan agar kita sampai pada rezeki kita. Bekerja adalah perintah Allah yang akan mendapatkan balasan berupa pahala dari Allah. Adapun hasilnya, kembali kepada Allah. Bukan berarti kalau orang bekerja dengan keras otomatis akan mendapatkan uang banyak. Demikian juga sebaliknya. Anak perlu juga ditunjukkan ada saatnya kita sudah berusaha sekeras mungkin ternyata ada kemungkinan gagal. Sukses atau gagal itu bukan wilayah kekuasaan kita.
Hal ini akan menunjukkan pada anak-anak atas Maha Kuasanya Allah dalam mengatur rezeki manusia. Ini akan meningkatkan keimanan anak. Tugas manusia adalah mengusahakan dengan sungguh-sungguh, sementara hasilnya Allah yang menentukan. Sebagai manusia ketika kita berhasil sesuai harapan atau lebih, maka kita wajib mensyukurinya. Apabila gagal, maka kita wajib bersabar. Pasti Allah akan memberi yang terbaik buat kita. Anak sangat perlu kita kuatkan hal itu.
Hal yang tidak boleh kita lupakan juga adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang konsep keberkahan rezeki. Rezeki yang berkah tidak tergantung pada jumlahnya. Misalnya uang yang banyak otomatis berkah dan yang sedikit kurang berkahnya. Berkah bukan bergantung pada jumlah. Tetapi kembali pada bagaimana cara memperolehnya. Apakah sesuai dengan syariat Allah ataukah tidak. Sesuai dengan syariat Allah misalnya bekerja dengan jalan yang halal. Ada banyak ragam pekerjaan halal. Ini juga perlu ditunjukkan kepada anak-anak. Sehingga mereka punya wawasan yang luas bahwa pintu untuk sampainya rezeki dari Allah kepada manusia sangat beragam. Hal ini akan meningkatkan daya kreatifitas anak. Juga ragam pekerjaan yang tidak sesuai syariat misalnya mencuri, menipu, riba dan sebagainya. Ini juga anak harus tahu. Sehingga mereka bisa menghindarinya.
Selain itu anak juga harus tahu bahwa keberkahan harta ada pada pemanfaatannya. Anak harus paham bagaimana memanfaatkan uang di jalan yang benar. Jangan lupa bersedekah. Bahwa bersedekah itu ada di awal mendapatkan rezeki. Bukan di waktu akhir pada sisa-sisa uang yang telah digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan melampiaskan keinginan. Kalau begini jadinya sering kali tidak bersisa. Dengan alasan masih kurang ini masih kurang itu.
Juga perlu kita sampaikan kepada anak bahwa rezeki tidak semata berupa uang. Kita berbadan sehat, tidak ada gangguan kesehatan sedikit pun itu adalah rezeki yang besar. Setiap hari kita bisa memberikan kasih sayang kepada orang-orang di sekitar kita, itu juga rezeki. Semuanya kalau dinilai dengan uang tidak terhingga besarnya.
Dengan memahami semua ini, anak akan mempunyai pandangan yang benar. Bahwa uang bukan segalanya. Meski saat ini segalanya butuh uang, tapi dengan pandangan yang benar anak akan bersikap tepat terhadap uang.
Cerdas Finansial
Setelah uang dimiliki dengan cara yang halal, selanjutnya bagaimana mengelolanya dengan benar. Uang boleh dikelola dengan apa saja yang penting halal. Dengan jual beli, pinjam meminjam, diinfakkan, ataupun ditabung.
Dalam jual beli, anak harus dipahamkan untuk membelanjakan uangnya dalam perkara yang dihalalkan Allah. Bukan untuk memperjualbelikan barang yang haram dan dilarang Allah. Di sini tentu berkaitan dengan memahamkan anak mana perkara yang halal mana yang haram. Selain itu penting juga untuk melengkapi pemahaman anak dengan tidak bermewah-mewahan dalam hidup. Tren hedonisme dan flexing di kalangan generasi sekarang perlu diwaspadai. Sehingga sedini mungkin anak-anak harus direm dari sifat-sifat tersebut. Tentunya semua ini harus dengan contoh riil dari orang tua serta nasehat dan kontrol dari orang tua secara terus menerus. Sehingga akan tertanam dengan kuat di benak anak dan menjadi pemahaman.
Untuk menabung, anak harus memahami konsep bahwa menabung dilakukan dengan tujuan tertentu. Jadi tidak asal menabung atau menyimpan uang. Misalnya ingin membeli mainan atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Jika seperti ini, maka perlu dijelaskan kepada anak-anak kita. Menabung diperbolehkan dalam Islam asal ada tujuan tertentu yang ingin diraihnya. Sebagaimana dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 34.
Ingin atau Butuh?
Saat anak merengek minta sesuatu, kita harus jeli. Kira-kira barang yang diminta adalah yang diinginkan atau memang dibutuhkan. Bahwa barang yang dibutuhkan, harus dipenuhi. Dengan pemenuhan yang harus segera ataukah masih bisa ditunda. Namun kalau itu sifatnya keinginan, maka tidak harus dipenuhi. Dan itu tidak untuk dihilangkan. Tetapi untuk diatur. Tidak semua keinginan itu buruk dan harus kita tolak. Tapi kita sebagai orang tua harus memahami waktu yang tepat untuk memenuhi keinginan anak atau menolaknya. Dan semua itu bisa diatur. Anak harus paham itu. Bisa saja ini menjadi kesempatan buat kita untuk mengenalkan kebiasaan menabung pada anak. Misalnya anak ingin punya sepeda. Nah, meskipun kita secara keuangan mampu, kalau itu bukan kebutuhan bisa kita tunda pemenuhannya. Anak kita ajari bagaimana memenuhi keinginan. Bisa dengan menabung dulu. Ini merupakan bagian dari perjuangannya untuk mendapatkan barang yang diinginkan.
Semua ini kita ajarkan pada anak-anak agar mereka cerdas finansial. Dengan pemahaman yang tepat maka akan tepat juga sikap anak terhadap uang.
Tinggal di Malang Jawa Timur. Senang dengan dunia anak-anak. Aktif menulis cerita anak. Selama ini masih terus belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas dan belajar mempraktikkannya.
