Ancaman Perubahan Iklim di Pesta Pernikahan
Peristiwa sepasang pengantin di Bekasi pada 20 Februari 2021 (tribunnews) terpaksa menggelar resepsi pernikahannya di saat banjir, di bulan yang sama juga sepasang mempelai di Kudus menaiki gerobak untuk melintasi jalan demi melangsungkan pernikahannya (merdeka.com). Keduanya mengadakan pesta pernikahan di tengah banjir akibat cuaca ekstrem dan perubahan lingkungan.
Sejatinya, pesta pernikahan merupakan momen sakral nan membahagiakan, bertemunya dua insan dan berjanji bisa sehidup hingga akhir hayat, dan selanjutnya menjalin bahagia. Banyak dari keluarga pengantin akan mengundang kerabat, saudara jauh, hingga rekanan kerja untuk hadir dan merayakan pesta pernikahan. Namun harapan tak selalu indah bila hal itu seketika berantakan karena cuaca tak mungkin bisa diprediksi lagi. Semua persiapan bisa gagal total, anti klimaks, dan tak meriah.
Tentu harapan indah menyajikan kegiatan nan romantis bagai sejoli Romeo dan Julia. Tetapi tak terbayang bila manusia menuju ke situasi serba tak terduga apalagi soal prakiraan cuaca.
Perhitungan matang sebelum pesta dirancang oleh kedua belah keluarga pengantin, dengan kesepakatan akhirnya dipilihlah hari baik; kemudian akan menjadi malapetaka dan kenangan buruk. Selanjutnya tidak mungkin lagi ada hari baik lagi, karena semua hari adalah bagian yang tak bisa diprediksi kapan akan turun hujan, matahari bersinar penuh, awan menggelembung di udara. Mungkin hanya ada satu solusinya yaitu menyiasatinya.
Perubahan iklim menjadi gerbang lahirnya bencana alam. Kondisi diperparah akibat kegiatan eksploitatis manusia. Kini perlahan dampak itu dirasakan dari lini terkecil, atau nantinya akan sangat berpenagaruh pada kehidupan kita kelak.
Hasil Interaksi Manusia dan Lingkungan
Kondisi alam di Indonesia membentuk hubungan antara manusia dan alam; sehingga melahirkan kepercayaan tertentu yang lahir dari proses pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk beradaptasi dengan cara membaca tanda-tanda alam; dalam budaya Jawa terdapat istilah Pranata Mangsa yakni patokan untuk menentukan hari baik suatu pekerjaan terutama untuk melaut dan menanam. Prinsip Pranata Mangsa berawal dari budaya lisan masyarakat agraris di Jawa, terutama bagi mereka yang bermukim di sekitar gunung berapi.
Dalam Pranata Mangsa terdapat cuaca yang disebut sebagai mangsa sempleh artinya penderitaan. Hal itu ditandai peralihan cuaca ekstrem sehingga mengakibatkan kerugian panen bagi petani. Angin kemarau bisa membawa bibit penyakit atau hama mengakibatkan tanaman terkena hama sehingga hasil panen bisa menurun. Saat kondisi─angin barat─itu juga, para nelayan wajib waspada, gelombang tinggi bisa menghantam kapal dan mengancam keselamatan nelayan. Alhasil tangkapan ikan menurun.
*
Cuaca buruk perubahan musim membawa dampak buruk di sektor lini mengandalkan cuaca sebagai daya dukung suatu usaha. Manusia mana mungkin bisa mengelak dari perubahan cuaca, hanya dapat mempelajari, menyiasati, serta beradaptasi dengan itu. Kearifan budaya Jawa tersebut menunjukkan adanya respon manusia dengan lingkungan demi menjaga keberlangsungan hidupnya.
Kemarau terlalu menyengat membuat tanah-tanah retak, tumbuhan melayu, lumbung air menipis. Musim hujan terlalu deras berkepanjangan, sungai meluap, daratan banjir, dan muncul bermacam penyakit. Itulah cuaca ekstrem. Menjadi ancaman bagi umat manusia juga bagi alam.
Tak heran jika tahun lalu (2020) kita nyaris merasakan hujan di tiap bulannya. Langit terang cerah lalu bertransisi menjadi gumpalan hitam; kemudian hujan, disapu angin, sementara reda, lalu hujan kembali. Tak bisa diprediksi. Perubahan iklim makin mendekat, hingga kita sadar saat hal itu benar-benar mengganggu lalu lantas kita telat tahu.
Bencana akan datang menghampiri manusia. Kegiatan perekonomian di kota terhenti karena banjir. Banyak desa mengalami kekeringan, hewan ternak bertambah kurus, panen gagal total akibat sawah yang terendam banjir, tenda pengungsian terbentang menunggu bantuan tiba. Pesta pernikahan tidak luput dari ancaman cuaca ekstrem.
Matinya Perayaan
Apa jadinya bila manusia mengulang kembali niatannya dalam mengadakan suatu pesta. Ada keraguan dalam benaknya bila suatu saat akan terjadi hujan lebat, membuat tempatnya akan tergenang air dan tamu undangan enggan untuk datang. Ia akan merugi dengan tenda yang terlanjur ia pasang dan makanan mubazir terbuang. Kedua mempelai tampak lesu di kursi “darurat” pelaminan. Mereka menyaksikan air menggenang dan berkecipak ria di betis kaki. Seakan ia hadir dan mengucapkan selamat berbahagia tidak ketinggalan juga ucapan selamat menempuh hidup baru.
Mimpi buruk menggelayut di tiap hari-hari. Bisa jadi pasangan mempelai sebelum berembuk untuk menentukan hari jadi akad dan hajat pernikahan, mereka berduyun-duyun datang ke kantor badan prakiraan cuaca. Mereka menanyakan sejumlah hari tertentu untuk meminta keterangan kepada meterologis. Apa jadinya bila badan prakiraan cuaca hanya mengurusi keperluan hajat penganten, bila musim kawin tiba, kantor tersebut akan ramai sesak, mereka antre untuk konsultasi tentang cuaca. Tentu hal itu berbeda dengan masyarakat kota menengah. Balai pertemuan bisa dengan dekor pakai janur kuning, ucapan selamat datang, dan pernak-pernik lainnya.
*
Usaha baru bermunculan. Para oportunis tak mau kalah mengambil kesempatan ini. suatu wedding organizer menawarkan konsep baru. Menyatu dengan air. Kira-kira itu tagline yang ia rancang. Kedua mempelai berserta orang tuanya akan berada pada sampan atau sekoci mungil nan cantik. Sekoci itu tersulap bagai singgasana indah bagi penganten. Sesekali sekoci itu bergoyang mengikuti gelombang air, tak jarang badan mereka bergoyang mengikutinya. Mereka tak bisa berbuat banyak, seperti penganten, hanya menaruh senyum pada tamu dan duduk manis.
Para tamu akan diantar oleh sampan semacam kano, terdapat pendayung untuk bergerak perlahan ke arah mempelai, dayungannya sangat santai agar tak membuat gelombang terlalu tinggi yang bisa menjatuhkan kedua mempelai. Mereka semua senyum bukan karena berbahagia, tetapi karena badan mereka bergoyang untuk menyeimbangkan dengan kapal agar tidak tercebur, ada jeritan karena tak ingin basah, anak kecil kegirangan mengecipakkan air. Hujan mengguyur kembali bercampur angin kencang, karena tidak ada tenda, hasil tata rias berantakkan, luntur. Para tamu menghindar dari hujan. Semua bubar tanpa harus ada aba-aba. Sungguh suasana yang berbeda. Setelah itu mereka mengeluh dan memikirkan apa yang terjadi dengan alam ini. Menyesal.
Kepala Bidang Lingkungan Hidup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Jakarta Timur; Lembaga Kajian dan Solidaritas untuk Alam (LKSA)

Pingback: Liburan Memang Hak Anak, Tapi Kesehatan Anak Tetap Harus Diperhatikan - Inspirasi Muslimah