Menjadi Pengantin Baru Setiap Hari dengan Membangun Komunikasi Asertif
Saat membaca judul-judul tema dalam Sayembara Menulis yang diadakan oleh Rahma.Id, pandangan mata saya terhenti pada dua tema yang berurutan, yaitu ‘Adaptasi New Couple’ dan ‘Komunikasi Pasangan’. Dua tema ini, bagi saya amat sangat berkaitan dan bisa dibilang dapat menjadi kunci dalam keberlangsungan rumah tangga.
Kaitan antara kedua tema tersebut dapat dengan mudah ditemukan dalam celetuk spontan ketika melihat pasangan yang sudah cukup lama menikah dan terlihat mesra, kompak, dan rukun. Misalnya, “Wah, seperti pengantin baru, nih!” Kita seperti lupa bahwa justru kebanyakan yang kompak dan terlihat mesra memang bukan pengantin baru, tapi mereka yang sudah menikah cukup lama dan berhasil membangun komunikasi yang baik.
***
Sementara dalam kenyataannya, pada pengantin baru, kemesraan yang ada biasanya masih di kulitnya saja. Ibarat bermain game, pengantin baru adalah player noob yang baru mulai bermain game.
Terlihat gembira dan bahagia karena baru mulai, tapi belum cukup punya gambaran tantangan apa saja yang akan dihadapi selanjutnya. Bisa atau tidak untuk terus naik ke level selanjutnya? Apalagi ini bukan game, ini pernikahan yang nyata.
Maka tak berlebihan jika kadang kala dalam pikiran manusia yang sudah menikah, muncul kekhawatiran-kekhawatiran, seperti: bisa bertahan berapa lama pernikahan saya; akankah pasangan saya kuat bertahan hidup bersama dengan saya; akankah ada orang ketiga yang bisa mencuri hati pasangan saya; dan sederet kekhawatiran lain tentang bisa tidak langgengnya hubungan pernikahan.
Kadang, kekhawatiran itu muncul tanpa butuh pemicu berupa konflik serius. Kadang, kekhawatiran itu muncul begitu saja akibat akumulasi dari persepsi dan asumsi yang tidak komunikasikan secara asertif.
Adaptasi secara terus menerus adalah hal yang mutlak dilakukan dalam berumahtangga, bukan hanya dilakukan oleh pasangan yang baru menikah saja. Semangat berperilaku selayaknya pengantin baru dapat menjadi solusi yang bisa diupayakan dalam tiap rumah tangga.
Perihal pengantin baru, biasanya identik dengan urusan ranjang dan rambut yang basah di pagi hari. Namun, tidak demikian dalam hal beradaptasi tanpa henti. Adaptasi yang perlu dilakukan bukan soal urusan ranjang, namun lebih ke komunikasi antara suami dengan istri.
***
Bagi mereka yang dididik dalam keluarga yang asertif, membicarakan keinginan dan bertanya soal keinginan pasangan menjadi hal yang sangat mudah dilakukan. Tapi seperti hidup yang banyak tantangannya, demikian pula pernikahan.
Sikap asertif seringnya perlu dibangun antara suami dengan istri dari nol sebagai upaya membangun keluarga yang harmonis. Dan praktik dari teori ini, sungguh tak semudah menuliskannya.
Kita sering mendengar kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT); yang salah satu penyebabnya adalah kekurangmampuan pelaku KDRT dalam mengungkapkan pikiran; perasaan dan keinginannya secara verbal dan dalam keadaan yang tenang.
Kita juga sering mendengar tentang para ibu yang memilih diam untuk menghindari keributan dalam rumah tangganya. Andaikata, sebelum menikah sudah menemukan pola-pola komunikasi yang lugas dan efektif tentu saja hal-hal semacam itu bisa dihindari.
Terkadang komunikasi antara suami istri hanya dipahami sebagai obrolan atau diskusi antara suami dan istri untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Misalnya saja saat membahas pendidikan anak, menentukan memilih investasi tertentu, membahas anggaran kesehatan keluarga, dan hal-hal serupa itu.
Padahal obrolan yang berisi ungkapan perasaan dan pemikiran berupa rasa senang, kecewa, kekhawatiran, kemarahan, dan kecurigaan justru sangat penting untuk dilatih dibicarakan.
***
Seringkali ledakan emosi justru terjadi karena hal sepele-sepele yang terus ditahan dengan pemikiran naif. Bahwa lebih baik diam untuk menghindari debat dengan pasangan. Meski, ledakan emosi dalam rumah tangga juga tak selalu memberi hasil negatif, karena terkadang justru suami dan istri dapat memperoleh hikmah dan menjadi semakin kompak.
Tapi dalam kondisi tertentu, yang dipengaruhi oleh faktor budaya, ekonomi dan kesehatan, bisa saja ledakan-ledakan emosi yang terlalu sering dan tidak mendapat penyelesaian yang tuntas justru akan berujung pada KDRT ataupun perceraian.
Dalam hal membangun komunikasi, memang akan lebih mudah jika pasangan suami istri sudah cukup mengenal latar belakang masing-masing dan mempelajari bagaimana kondisi psikis pasangan dalam keadaan terburuknya.
Tapi memang tidak semua orang berkesempatan mempelajari ilmu psikologi yang dapat diterapkan dalam pernikahannya. Lagipula, seorang psikolog sekalipun, pasti tetap butuh melakukan adaptasi yang terus menerus dalam pernikahannya. Kemampuan adaptasi yang didukung dengan kemampuan berkomunikasi yang baik dapat menciptakan suasana rumah tangga yang solid, rukun, dan mesra selalu.
Bukan berarti harus menikah cukup lama dulu baru rumusan-rumusan untuk menjaga keharmonisan keluarga baru bisa ditemukan. Saat ini, dengan banyaknya layanan konseling pra nikah, perihal komunikasi asertif dapat dipelajari dalam masa persiapan pernikahan.
Jika calon-calon pengantin sudah punya bekal yang mumpuni, niscaya setiap hari adalah hari pertama dalam pernikahan yang agung dan mulia.
Jika kelak badai datang datang pada level yang lebih lanjut, bagi pasangan yang sudah punya bekal kemampuan berkomunikasi dengan baik, niscaya dapat menghadapi dan naik ke level selanjutnya. Seru juga ya, jika tiap hari adalah hari pertama bertemu dengan kekasih hati?
Semoga Allah selalu menjaga dan memupuk cinta serta kasih sayang Anda bersama pasangan Anda sekalian.
Butet Rs M adalah ibu dari tiga anak, tinggal di Bantul.

Eboo Dika
Keren… ❤️❤️❤️