f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keluarga gottman

Tujuh Tips Keluarga Langgeng Ala John Gottman

Apakah kamu adalah bagian dari orang-orang yang overthinking masalah pernikahan di dalam keluarga? Mungkin kamu perlu mengkaji hasil penelitian dari John Gottman tentang keluarga. Membaca hasil penelitian dari sebuah fenomena pernikahan mungkin akan menjadi tips yang ampuh untuk sedikit mengurangi kecemasan dalam menjalankan pernikahan.

John M. Gottman , Ph.D., adalah pendiri dan direktur Seattle Marital and Family Institute dan profesor psikologi di University of Washington. Buku-bukunya sebelumnya termasuk The Heart of Parenting dan Why Marriages Succeed or Fail.

Gottman melakukan penelitiannya dilandasi karena sikap penasarannya tentang, bagaimana bisa ada keluarga yang dapat langgeng, dan ada pula yang tidak berhasil dalam menjalankan kehidupan berkeluarganya, atau terjadi perpisahan dalam pernikahan. Akhirnya Gottman dan timnya membuat sebuah tempat yang dinamakan “Lab Cinta” di mana mereka mempelajari pasangan (direkam, dipantau secara fisiologis, dll.).

7 Prinsip Keluarga Langgeng

Tulisan ini diambil dari buku John Gottman berjudul “Tujuh Prinsip untuk Membuat Pernikahan Berhasil”, adalah buku yang menjelaskan apa yang digambarkannya sebagai tujuh prinsip yang dapat membimbing menuju hubungan yang harmonis dan langgeng.

Buku ini juga mencoba untuk menyanggah sejumlah mitos tentang pernikahan dan mengapa mereka gagal. Gottman dalam bukunya, mengembangkan tujuh prinsip untuk membangun hubungan keluarga yang solid dan sehat yakni:

1. Meningkatkan peta cinta

Semakin kamu mengenal pasanganmu, semakin banyak keintiman yang terjadi. Konsep ini membantu menjaga keintiman, dan lebih mempersiapkan seseorang untuk menghadapi peristiwa dan konflik yang penuh tekanan. Mereka yang tidak memiliki peta cinta yang memadai mengalami penurunan keintiman dalam hubungan pasangan dengan transisi menjadi orang tua.

Dalam hal ini kamu bisa membuat pertanyaan atau kuisioner sesuai dengan peta cinta yang seperti apa yang ingin kamu buat dengan pasanganmu di dalam sebuah keluarga. Kuesioner cinta berperan sebagai penilaian diri untuk melihat seberapa banyak orang tersebut benar-benar mengenal pasangannya.

Dalam hal ini Gottman, meminta pasangan untuk memikirkan hal-hal penting bagi pasangan. Lalu, mengisi info tentang pasangan seperti tentang, orang dari kehidupan pasangan  (teman, teman potensial, saingan / musuh), peristiwa penting baru-baru ini dalam kehidupan pasangan, acara Mendatang, tekanan pasangan saat ini, kekhawatiran, harapan mitra, aspirasi.

Baca Juga  Bagi Anak, Ibu adalah Semestanya

Setelah itu, mengisi hal tentang ‘siapa saya’. Hal ini sebagai latihan eksplorasi diri untuk memungkinkan kamu dan pasangan membangun peta cinta yang lebih baik.

2. Memupuk rasa suka dan kagum

Meningkatkan atau mengingat bahkan menggali emosi positif tentang satu sama lain adalah penting. Karena menurut Gottman unsur rasa suka dan kagum kepada pasangan adalah penawar dari konflik.

Jika situasi hubungan saat ini tampak negatif, maka lebih baik untuk menggali masa lalu yang positif. Melakukan diskusi tentang hal-hal positif dari pasangan akan membantu rasa suka dan kagum.

Pasangan pada tahap ini diminta untuk mengisi kuesioner tentang penilaian diri sendiri untuk menggambarkan keadaan kesukaan dan kekaguman saat ini. Lalu diminta untuk membuat daftar hal-hal yang dihargai seseorang tentang pasangannya kemudian membagikannya dengan pasangan. Mengingat kembali perjalanan atau sejarah dan filosofi pernikahan untuk menyoroti kisah positif dan cinta atau bahkan mengingat harapan besar yang menyatukan pasangan.

3. Saling terpaut dan tidak menjauh

Untuk saling terpaut kamu bisa menggunakan cara-cara yang sederhana seperti menelepon pasangan di pagi hari, menanyakan kabar saat istirahat makan siang dan mengabari saat sampai dalam suatu tempat atau dalam perjalanan pulang. Gerakan kecil ini, yang dapat berubah menjadi kebiasaan, dan tidak boleh dianggap remeh. Ingat momen-momen kecil dan mensyukuri momen kebersamaan dengan pasangan dan hargai pasangan karena telah meluangkan waktu untuk memperhatikanmu.

Kamu harus fokus pada apa yang dapat kamu lakukan untuk pernikahan kamu, bukan pada apa yang pasangan kamu lakukan atau tidak lakukan. Cara lain untuk membangun kebersamaan di dalam keluarga adalah dengan melakukan percakapan setiap malam tentang hari kamu. Agar ini berhasil, kamu berdua harus sepakat untuk melakukan hal ini bersama.

4. Menerima pengaruh

Menerima pengaruh di sini maksudnya untuk mengurangi egoisme dalam diri. Belajar mengalah adalah pelajaran penting dalam hidup. Egoisme pasangan sebaiknya diredupkan dengan cara saling melakukan kegiatan berkeluarga sebagai pasangan suami istri bersama. Menerima bahwa pasangan saling bertanggung jawab dan memiliki hak.

Baca Juga  Dunia Hanyalah Permainan untuk Menguji Keimanan

Wanita cenderung lebih berorientasi pada hubungan / emosi secara alami, sedangkan pria cenderung lebih berorientasi pada tindakan. Oleh karena itu, pria harus melakukan upaya tambahan untuk mempelajari emosi dan elemen emosional / relasional dari situasi tersebut. Tindakan sederhana seperti membagi pekerjaan rumah, berbelanja kebutuhan setiap bulan bersama dan bahkan mengasuh anak bersama adalah tindakan yang bisa dicoba untuk rumah tangga yang lebih baik.

5. Memecahkan masalah atau konflik pelik

Kamu bisa menggunakan 5 prinsip penyelesaian masalah sebagai kunci untuk pernikahan yang bahagia:

  1. Hindari kritikan, namun rubah dengan keluhan atau permintaan

Lebih baik mengatakan dengan jelas permasalaha, seperti; “ Ayah, dapur sedang dalam keadaan kotor bunda akan bahagia jika ayah dapat menolong bunda membersihkan dapur karena bunda sedang menyuci pakaian”. Lalu jangan lupa untuk selalu menambah ungkapan tolong, maaf dan terima kasih.

Hindari kata-kata kritikan seperti ini; “ Ayah selalu malas-malasan, sedangkan bunda harus melakukan segala hal di rumah sendiri, sampai kapan ayah bisa mengerti bunda”.

  1. Belajar untuk mendengarkan dan menyampaikan keresahan dengan lebih tenang. Banyak sekali dari kita yang mungkin susah untuk dapat menerima evaluasi dari pasangan, coba untuk sesekali dengarkan dan bertukar pendapat hindari argumentatif. Perlu juga untuk sesekali mengungkapkan keresahan dengan jujur namun jangan lupa pilih kata-kata yang jauh dari kesan negatif.
  1. Saling bersikap menenangkan dan memberi support dalam setiap masalah.
  2. Membuat kompromi dengan sebuah kesepakatan, seperti kesalahan apa yang bisa toleransi dan tidak. Sehingga pasangan bisa menghindari kesalahan fatal.
  3. Bersikap toleran terhadap kesalahan satu sama lain. Kamu tidak dapat mengubah pasangan kamu. Jika kamu berpikir demikian, maka kompromi tidak dapat terjadi!
6. Mengatasi masalah bersama

Pasangan menjadi lebih bahagia karena mereka menyadari bahwa pernikahan seharusnya membantu mereka melewati masalah bersama dan mencapai sebuah mimpi bersama. Pasangan yang mengetahui bahwa pernikahan bermaksud untuk membantu impian masing-masing pasangan dan memupuk pengetahuan bahwa aspirasinya akan diakui dan dipertimbangkan kemudian.

Maka komunikasi yang intens tentang harapan dan impian sangat penting. Pasangan dengan komunikasi yang baik dapat saling mendukung impian dengan mudah. Karena diharapkan telah mengkomunikasikan visi misi kehidupan sebelum pernikahan.

Baca Juga  Ketidakberdayaan Perempuan dan Globalisasi
7. Menciptakan makna bersama

Seseorang dapat memiliki pernikahan yang bahagia, tetapi beberapa orang mencari hubungan spiritual atau menemukan makna dalam kebersamaan di luar tugas bersama dalam kehidupan keluarga.  Mendiskusikan keyakinan dengan cara yang memadukan masing-masing pengertian makna dari pasangan menjadi penting. Diskusi tentang nilai-nilai inti kehidupan dapat kita gunakan untuk memajukan makna bersama pasangan.

Arti yang dibagikan akan memperkuat persahabatan dalam pernikahan. Melihat ritual hubungan, peran, tujuan dan simbol yang dimaksudkan untuk merangsang pemikiran tentang situasi makna bersama pasangan. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun makna bersama.

Lakukan Hal Berikut untuk Mendapatkan Makna Bersama

Latihan “ritual”  dapat membantu pasangan menyelesaikan masalah ritual seperti tentang cara makan malam, liburan, tetap berhubungan dengan kerabat, cara bercinta, komunitas [yaitu teman, peduli sesama di komunitas], bagaimana merayakan peristiwa positif dan negatif.

Peran dalam kehidupan, seperti kamu berperan mendidik anak tentang pelajaran sekolah, sedangkan pasanganmu tentang agama. Istri aktif mendampingi suami dalam kegiatan suami di tempat kerja seperti dharma wanita atau sebaliknya dsb.

Buat dan miliki simbol yang khusus dan bermakna bagi hubungan pasangan seperti gelang, dompet atau syal, dsb. Mungkin terlihat kekanak-kanakan namun akan sangat bermakna ketika kamu mengingatnya di masa tua. Sebuah benda yang bisa meredam konflik dan mempertahankan hubungan keluargamu.

Sudah Siap Menjalani Rumah Tangga Bahagia dan Langgeng?

Tips keluarga langgeng ala John Gottman ini hanyalah satu dari sekian ilmu berkeluarga yang telah melewati tahap yang diklaim ilmiah. Dari semua tips tersebut memang terlihat mudah dilakukan namun pada prakteknya terkadang sulit. Ilmu seperti ini bisa menjadi bekal untukmu yang telah menikah apalagi yang belum dan akan menikah. Lebih baik mendiskusikan ritual-ritual dalam kehidupan pernikahan dan membuat kesepakatan di awal secara bersama untuk meminimalisir konflik dalam pernikahan. Selamat belajar!

Editor: Lailatul Qoderia

Bagikan
Comments
  • Rizki

    Betul 👍👍👍

    April 1, 2021
  • Kurma

    Jadi nostalgia, dari jaman sekolah dulu setiap kali nonton film, mesti memirip-miripkan si pemeran utama dg sahabat sy yg sekarang jd suami, entah itu dari wajahnya atau karakternya, sampai sekarang menikahpun seperti itu. Kebiasaan itu membuat sy merefresh perasaan suka & kagum pada suami. Jadi bener gitu ya Mr. Gottaman, itu cara saya memupuk rasa suka dan kagum pada pasangan. Thank you mbak warda yg udah share ilmunya, semoga segera yaaa, segera aja 😀 (peace)

    April 2, 2021
Post a Comment