f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah bau melati

Rumah Bau Melati

Waktu Maghrib yang menegangkan. Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan angker untuk bersembunyi. Tidak ada azan maghrib hari itu sebab seluruhnya pergi mengejar pencuri laknat yang lancang mencemari rumah suci dengan perbuatannya yang keji.

Pencuri sialan!

Dia harus ditangkap dan diadili!

Rombongan masa itu saling sahut-menyahut. Mencoba menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara mereka meneriakkan takbir. Mereka makin dekat. Semerbak melati dibawa angin dari arah rerimbunan pepohonan di halaman rumah angker.

Rumah bau melati. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari rumah. Ia terbang sambil tertawa cekikian. Namun, kali ini siapa yang peduli bau melati? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan di dalam rombongan itu ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri?

Bau melati makin kental. Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Dan, tak berapa lama kemudian orang-orang telah sampai di halaman rumah.

“Allahhu akbar!” Pak Haji mengucap takbir. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara, warga yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.

Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.

“Mengapa tak ke masjid? Mengapa tak mengumandangkan azan? Bangsaku sudah bersiap menutup telinga, beberapa sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau,” sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.

“Kami mau menangkap pencuri kotak amal!” jawab Pak Haji sedikit gemetar.

“Tidak bisa! Dia mencari perlindungan di rumah kami! Wajib bagi kami untuk melindunginya!”

“Setan terkutuk! Sudah terkutuk, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!”

“Kamu lebih terkutuk! Kalian semua terkutuk!” Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan. Bau melati bertebaran.

Baca Juga  Jangan Berharap Ditolong Allah Jika Tidak Meminta

“Biar aku bacakan kamu ayat-ayat Allah! Lekas-lekaslah terbakar dan enyah kamu ke neraka!”

Pak Haji membaca ayat kursi. Warga berdzikir bersama-sama. Dengung suara dzikir terdengar bagai segerombolan lebah.

Tak lekas terbakar, wanita itu malah menirukan bacaan ayat kursi secara fasih.

“Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari kamu membaca berjus-jus quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati?” ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.

“Apa maksudmu, setan busuk?”

“Aku tahu siapa si pencuri kotak amal. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Simboknya baru saja meninggal seminggu yang lalu. Tanah kuburannya masih basah lalu kini kalian mau menghabisinya? Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?”

Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.

“Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri!”

“Kamu mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini sebatang kara! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja?”

“Kalau masjidnya bagus dan nyaman, ibadah jadi tenang.” Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.

“Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Allah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian tak mau menggubrisnya.”

“Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan!” Pak Haji kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.

“Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?” Wanita itu kembali cekikikan.

Baca Juga  Memeluk Mimpi (3): Pecah Telur

Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Pak Haji melunak secara kaffah. Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya?

Tertunduk Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini.

Bau melati semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Pak Haji pingsan paling akhir.

***

“Pak, bangun! Sudah Mahrib. Ayo ke masjid.” Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Ashar.

Buru-buru Pak Haji ke masjid dan mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya.

Usai magrib, Pak Haji dan beberapa jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat.

Esok hari, pak haji buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya. Ia mendatangi rumah anak yatim yang ada di dalam mimpi.

Tersuruk-suruk langkah Pak Haji membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.

“Ini adalah dosaku! Aku membiarkan anak itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!”

Bagikan
Comments
  • Samuel

    Meleleh air mata saya baca kisah ini.

    April 23, 2021
  • Vista Me

    Cakep, keren. Semua tulisan Reje Satya aku suka.

    ❤️❤️

    April 24, 2021
  • Reje Satya

    Terimakasih sudah berkenan mampir di tulisan ini…

    April 24, 2021
  • Dewi Nur Arimba

    Semoga kita tak seperti kisah diatas, abai pada yang memang membutuhkan

    April 25, 2021
  • Jay

    Kalo umat muslim yang punya keimanan yang kuat, mustahil menzalimi anak2 yatim piatu. Dari cerita anda, saya yakin anda menyindir kelompok islam yang menegakkan syariat yang faktanya tidak ada yang bersikap seperti itu. Saya hanya memberikan kritik terhadap penulis ini, anda kalo ingin membuat cerpen itu harus sesuai dengan fenomena yang nyata di kehidupan sehari2. Kalo disesuaikan dengan imajinasi kotor anda, ini sama aja anda sudah menebarkan kebencian terhadap umat muslim yang rajin berinfaq. Dari pesan yang anda sampaikan jelas, anda seolah2 memberikan pesan bahwa ada kelompok yang rajin bersodaqoh, tetapi tidak mau berbagi terhadap anak2 yatim piatu. Padahal itu hanya kritikan tanpa dasar aja.

    Maret 1, 2023
    • Reje Satya

      terimakasih masukanya

      Juli 14, 2023
Post a Comment