Berhasil Membuat Orang Tua Tersenyum, Tetapi Gagal Menjadi Diri Sendiri
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun terkadang mereka lupa mendengarkan apa yang anaknya inginkan. Anak dan orang tua pasti pernah mengalami perbedaan pendapat, terutama ketika menentukan pilihan melanjutkan sekolah. Saya merupakan salah satu di antara anak lainnya yang harus menuruti keinginan orang tua dari mulai TK sampai kuliah.
Ketika menentukan TK, SD, dan SMP mana yang akan saya pilih, mungkin masih dapat dipertimbangkan jika pada tingkat pendidikan tersebut saya memilih menuruti keinginan orang tua. Saya mungkin terlahir dari keluarga yang keras, di mana sebelum memutuskan sesuatu, harus melibatkan persetujuan orang tua saya.
Sejak kecil saya didorong keadaan untuk menjadi seorang siswa yang terbaik dalam kelas. Menurut saya, niat orang tua saya tidak salah, karena mereka pasti menginginkan saya menjadi seseorang yang lebih sukses dari mereka. Dari SD sampai SMP saya berusaha membuat bangga kedua orang tua saya, mulai dari belajar agar bisa menjadi juara kelas sampai mengikuti beberapa lomba sains.
Namun, masih banyak hal yang saya rasa kurang dari diri saya, salah satunya dukungan dan apresiasi dari ayah saya saat gagal maupun berhasil. Bagi saya, seorang ayah penting dalam membangun kepercayaan diri anak perempuannya untuk terus semangat dalam menggapai mimpinya. Mungkin dalam hal kasih sayang seorang ayah, saya bukanlah anak perempuan yang beruntung.
***
Kasih sayang dan perhatian yang saya inginkan tidaklah banyak. Salah satunya, saya ingin mereka mendengar dan menghargai sekecil apapun yang bisa saya berikan. Kadang, saya merasa iri melihat teman-teman saya yang mendapat perhatian dari ayahnya layaknya putri raja. Bukan karena saya tidak bersyukur, tetapi setiap anak perempuan pasti menginginkan perhatian dan kasih sayang ayahnya.
Waktu saya kelas 10 SMP, saya pernah sakit beberapa hari, namun tidak sama sekali saya mendapati rasa khawatir dari ayah saya. Setiap Saya sakit, yang saya dapat hanya bentakan keras dari seorang ayah, meskipun masih ada perhatian memberikan biaya pengobatan, namun tidak ada niatan mengantarkan saya periksa ke dokter.
Hidup memang tidak selamanya manis, perlahan saya tumbuh menjadi perempuan yang lebih dewasa pemikirannya, namun tetap saja saya merasa gagal menjadi diri saya sendiri. Dalam kehidupan, saya masih bersyukur karena masih ada seorang perempuan hebat yang selalu memberikan semangat untuk saya.
Ya, perempuan hebat dalam hidup saya adalah Ibu saya sendiri. Ibu selalu memberikan penjelasan kepada saya tentang semua sikap keras ayah. Saya mulai beradaptasi dan menerima kenyataan bahwa saya berada dalam keluarga yang unik di mana dari keluarga ini saya harus lebih bersyukur.
***
Selesai lulus dari SMP saya berniat untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA Negeri, namun harapan saya hanyalah sebuah mimpi. Keinginan saya dan orang tua saya ternyata berseberangan. Ayah saya menginginkan saya melanjutkan di MAN, sedangkan ibu saya menginginkan saya untuk menuruti keinginan ayah saya.
Berulang kali pun saya menjelaskan keinginan saya rasanya hanya kosong, tidak mungkin ada kata “boleh” dari ayah. Bahkan, kalimat yang menurut saya sangat mematikan hati seorang anak, di mana orang tua yang membiayai sekolah anak, maka sudah seharusnya anak mengikuti kemauan orang tuanya.
Perlahan saya belajar menerima untuk mengikuti semua kemauan orang tua. Selama di MAN, saya berusaha menjadi seseorang yang bisa memberikan senyum bagi Ibu saya. Salah satunya dengan membanggakannya seperti menjadi siswa yang aktif di kelas, masuk 3 besar, dan dipercaya mengikuti beberapa event lomba kimia.
Waktu saya kelas 11 semester 1, saya dipercaya pihak sekolah untuk mengikuti event lomba kimia yang diadakan oleh UMS. Tetapi, saya merasa gagal dalam event itu karena hanya berakhir pada urutan 13 dari 15 besar finalis. Kegagalan bagi saya merupakan pelajaran untuk kedepan saya bisa lebih maju dan berhasil. Waktu kelas 11 semester 2, saya bersyukur karena menjadi juara 3 dari event Kompetisi Sains Nasional tingkat Kabupaten/Kota Surakarta. Kabar itu sempat menjadi kabar yang membuat ibu dan ayah saya senang.
Kelas 12 semester 2 merupakan masa tersulit di mana banyak sekali perbedaan keinginan antara saya dengan orang tua. Pada waktu itu, saya senang karena mendapat kesempatan mengikuti SNMPTN, namun ada perasaan dilema menentukan universitas dan jurusan.
***
Perbedaan pendapat dengan orang tua terus saja ada. Saya pernah terpikir untuk mengambil PTN di luar kota, namun ayah tidak pernah setuju. Semua perbedaan yang ada, berakhir dengan seorang anak yang menuruti kemauan ayahnya.
Pada waktu pengumuman, ternyata masih belum rezeki saya, warna merah yang saya dapat berarti saya gagal. Saya berusaha menerima tanpa menangisi hasil, namun saya tidak bisa. Saya bukan perempuan berhati kuat ketika seorang ayah memarahi saya karena kegagalan. Jika berhasil dan gagal bisa saya pilih, sudah jelas saya akan memilih berhasil, tetapi kenyataannya tidak ada yang bisa memilih.
Saya mencoba bangkit dan mengikuti PMDK UNS, tapi belum rezeki. Perasaan saya bertambah hancur ketika ayah yang mendengar kabar itu memarahi saya lagi. Saya percaya bahwa Allah selalu baik, tidak mungkin menitipkan kesedihan tanpa menggantinya dengan bahagia.
Saya sempat mendapat semangat dari Allah ketika saya lulus jalur SPANPTKIN, tapi ayah tidak mengizinkan saya mengambilnya dan meminta saya mengundurkan diri. Perasaan saya tidak lagi bisa dijelaskan. Hanya 1 jalur yang saya harapkan bisa lolos. Allah itu baik dan saya berusaha berhusnudzon atas apa yang sudah saya dapatkan. Sampai pada akhirnya, semua tangis dan do’a saya terjawab, saya bersyukur bisa lolos SBMPTN di universitas keinginan ayah saya dengan jurusan yang saya inginkan.
***
Kehidupan memang tidak selamanya manis, banyak rasa pahit yang harus dijalani dan dinikmati terlebih dahulu sebelum merasakan manisnya. Orang tua memang lebih paham mengenai persoalan hidup, namun bukan berarti mereka bebas membatasi keinginan anaknya. Jika seorang anak bisa memilih, semua akan memilih berada dalam keluarga yang penuh perhatian dan harmonis.
Dalam hidup, saya berusaha berhusnudzon atas apa yang Allah berikan, meskipun saya gagal menjadi diri saya sendiri dan saya gagal mencapai apa yang saya inginkan. Tetapi, saya bersyukur karena Allah masih mengizinkan saya berada dalam keluarga yang lengkap. Tidak ada salahnya mengubur mimpi diri sendiri untuk membuat orang tua tersenyum. Teruslah berusaha membuktikan bahwa diri sendiri mampu berkembang di manapun berada, meskipun tidak mendapat dukungan ataupun apresiasi orang tua. Teruslah yakin dan percaya bahwa Allah selalu dekat untuk hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.
