Sepertiga Malam; Busur Panah yang Membawamu Sampai ke Mekkah
Ekspektasi seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun kala itu hanya dapat berangan-angan mengenai dunia. Mengapa dunia? Sebab, saat itu remaja seusianya hanya mampu berfikir untuk jalan-jalan, memenuhi hasrat kepuasan membeli barang, atau mewujudkan impian untuk menjadi sosok selebgram terkenal.
Namun, hal ini tidak berlaku dengan gadis bernama Zahra. Siapa sangka, hidup dengan kasih sayang seorang nenek dan ayah tercinta, nyatanya mampu membawa kedua orang yang ia sayang untuk memenuhi panggilan Allah. Lalu, panggilan Allah yang bagaimana? Ternyata Zahra dan keluarganya telah memenuhi panggilan Allah untuk berkesempatan mengunjungi Baitullah.
Ketika anak berusia 16 tahun dihadapkan dengan kondisi yang seperti itu tentunya akan mengalami kebimbangan. Pasalnya Zahra bukanlah orang yang ahli agama ataupun seorang santri yang hafidz Al-Qur’an. Ia pun pernah berdoa kepada Allah bahwa ia sangat ingin ke Mekkah. Namun ia tidak pernah menyangka akan dikabulkan Allah dengan waktu yang sangat cepat.
***
Semua berawal dari ketika Ibunda Zahra meninggal di usianya menginjak 13 tahun. Seminggu sebelum ibunda Zahra meninggal, ia pernah meminta sesuatu kepada Ibunya, “Mah, sebentar lagi Zahra ulang tahun, mamah ga mau kasih sesuatu ke Zahra gitu?” tutur Zahra.
Dengan nada lemah lembut Ibunya menjawab, “Ohh Zahra ulang tahun ke 13 yaa.. udah besar ternyata anak mamah. Tapi tahun ini mamah belum bisa kasih apa-apa ya sayang.. Mamah hanya mampu untuk selalu doain kamu sehat, sukses, jaga terus ibadahnya, dan mampu menjadi kakak yang baik untuk menjaga adik-adik kamu”, tutur sang Ibu.
Mendengar jawaban sang Ibu, Zahra hanya menampilkan wajah yang sedikit kecewa dengan jawaban, “Baiklah Mah, gapapa deh asal mamah sehat terus dan selalu doain Zahra terus yaa pasti aku seneng mah”. Siapa sangka doa yang diucapkan oleh Ibunya tersebut ternyata menjadi pesan terakhir dari ibunya.
Empat hari kemudian, Kakek Zahra meninggal dunia akibat stroke. Mendengar hal tersebut Ibunda Zahra pun kaget hingga harus dilarikan kerumah sakit. Setelah semua orang berduka dan berbela sungkawa, Zahra pun harus kembali tegar untuk terus menemani Ibunya di rumah sakit.
“Nak, kamu suapin mamah ya.. mamah udah ga mampu untuk menelan lagi,” ucap sang Ibu.
Dengan nada panik, Zahra menjawab, “Mah gak boleh ngomong begitu.. Ini Zahra suapin yaa mah”, ujar Zahra. Ibunda Zahra melihat ketulusan hati Zahra sembari berucap, “Semoga dengan kamu nyuapin mamah, ini bisa jadi ladang pahala kamu agar bisa sampai ke Mekkah, ” ucap Ibu Zahra.
***
Ujian demi ujian yang telah dilalui Zahra ternyata memberikan sebuah hikmah terbesar dalam hidupnya. Betapa mengejutkannya, baru saja ia menyuapi ibunya, ternyata beberapa jam kemudian Allah justru mengambil nyawa sang Ibu lebih dulu. Baru saja sehari yang lalu ia kehilangan Kakeknya sekarang ia telah kehilangan Ibunya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155 Allah Swt berfirman :
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Bagi seorang anak yang baru berusia 13 tahun, bukan hal yang mudah untuk dapat melewati ujian demi ujian yang besar dalam hidupnya. Sampai pada suatu ketika ia menemukan jalan di mana Allah merupakan tempat yang paling pantas untuknya berkeluh kesah.
Mencoba Sujud di Sepertiga Malam Tahajud
Bertahun-tahun ia mencoba berjuang untuk tetap kuat dan ikhlas terhadap semua ujian yang Zahra terima. Hingga pada suatu ketika terdapat salah seorang teman yang baru saja ia temui di sebuah pondok pesantren. Zahra memiliki seorang teman bernama Sekar yang merupakan santriwati di sebuah pondok pesantren. Mereka saling mengenal ketika mereka sama-sama duduk dibangku MTS.
Zahra yang dulu pernah belajar di sebuah pondok pesantren pun tiba-tiba berhenti untuk tidak meneruskan masa belajarnya di pondok. Hal itu karena semenjak Ibunya sakit, ia memutuskan pulang dan merawat Ibunya.
Dari seorang sahabat Zahra yang dinilai sholeha dan seorang Hafizh Al-Qur’an, ia menemukan suatu motivasi bahwa keberhasilan yang dilakukan Sekar itu tidak lain dan tidak bukan adalah hasil dari doa dan ibadahnya selama ini. Menurut Sekar amalan yang wajib kita lakukan adalah tahajud. Sebab menurutnya, dengan tahajudlah Allah akan memudahkan semua urusannya.
Mendengarkan hal tersebut, siapa sangka ketika Zahra baru saja menjalankan ibadah tahajud dengan keadaan penuh tangis dan harapan, Allah seketika memberi sebuah hadiah yang besar dalam hidup Zahra.
***
Betapa bahagiannya dia ketika keesokan harinya terdapat kabar bahwa Zahra bersama ayah dan nenek akan menjalankan ibadah umroh. Untuk pertama kalinya Zahra sempat ragu dan ingin menolak. Bagaimana tidak, ketika ia merasa tidak pantas menginjakkan kakinya di Kota Suci, malah Allah merasa bahwa ia siap untuk dipanggil ke tanah suci.
Seminggu setelah ia berfikir panjang maka, ia menerima tawaran itu dengan hati yang lapang dan ikhlas. Bagaikan hadiah yang turun dari langit, dengan tangis haru ia pun mempersiapkan diri menuju kota Mekkah dan Madinah.
Ia sempat bingung, kenapa Allah mengabulkan hajatnya secepat ini, padahal Zahra bukanlah orang yang sholiha dan banyak anak yang jauh lebih sholiha darinya. Jawaban dari kebingungan Zahra tersebut ternyata sebab Allah senang dengan seorang hamba yang ikhlas berdoa di sepertiga malam.
Adapun empat amalan yang akan diterima bagi setiap hamba yang senang melakukan tahajud yaitu: Allah akan mengangkat karirnya ke tempat terbaik, Allah akan bimbing aktivitasnya sehingga akan jauh terasa lebih mudah, Allah akan melindungi dirinya dari orang-orang yang mencelakainya, serta Allah akan mengabulkan doanya dan mengampuni segala dosanya.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain aktif menulis pada laman blogger pribadi, saya juga aktif menjadi seorang penyiar podcaster di laman Spotify berjudul “Bersua Bersama Elva”. Anak pertama dari tiga bersaudara ini memiliki hobi traveling.

Dwi Sudarti
Keren sayaaang, lanjutkan
Elva Oktafiani
Terima Kasih 🙂