f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pilihan

Memposisikan Pilihan Bebas-Anak Pada Tempatnya: Tapi di Mana?

Kami berdua terhitung pasangan baru di dunia pernikahan. Saat tulisan ini saya buat, kami baru menginjak usia 3 bulan.

Ibarat memulai bisnis ternak lele, kami sedang berada pada fase memilih lahan, merinci dan menyusun kebutuhan, dan segala yang lazimnya peternak lele pemula lakukan. Kami juga belum layak bicara tentang kesuksesan dan kegagalan berbisnis lele, menjadi narasumber workshop peternak lele, atau menulis buku kiat atau buku trik-trik jitu.

Namun demikian, beternak lele dengan menikahi seorang manusia lalu membangun rumah tangga bersamanya jelas kondisi yang berbeda. Menikah adalah “bisnis” jangka panjang. Bahkan abadi.

Beternak lele, jika gagal, masih mungkin kembali merencanakan perbaikan. Namun kegagalan pernikahan adalah hal lain. Meski kelak gagal, situasinya akan lebih rumit dan pelik. Banyak hal yang mesti turut dibereskan. Tak sedikit pula pihak yang akhirnya mendapat kerugian.

***

Pernikahan bergantung pada banyak hal. Perjalanan, pengalaman, pemikiran, dan pembelajaran seseorang sebelum menikah, menjadi indikator utama tingkat kematangan pernikahan. Kami berdua beruntung menyadari itu.

Maka sejak 4 tahun masa saling mengenal, kami telah membincangkan berbagai macam urusan pernikahan. Dari soal filosofis hingga teknis, mulai soal finansial hingga beranak-pinak. Untung kami jadi menikah. Tak terbayang bila kami tiba-tiba putus di tengah jalan. Ambyar.

Berangkat dari kesempatan bincang-bincang itu, akhirnya saat ini kami memutuskan untuk optimal merencanakan anak. Kami akan mengupayakan lahirnya seorang anak, bilamana menurut kami, kami telah siap.

Dan hingga bulan ketiga usia pernikahan kami, keputusan itu masih kami genggam erat sembari terus berdiskusi, jelajah kuliner, dan merawat kaktus- kaktus kecil di rumah kontrakan kami.

Sebagai disclaimer, kami tak setuju dengan program Keluarga Berencana (KB). Bagi kami, program itu terlalu problematis jika hanya ditilik dengan pertimbangan kesejahteraan ekonomi keluarga atau “sekadar” ikhtiar menekan surplus penduduk.

Baca Juga  Reshuffle Luar Biasa

Dan lagi, di manakah letak persinggungan melonjaknya jumlah penduduk dengan perencanaan anak? Sedikit atau banyaknya jumlah penduduk, tak akan menjadi soal jika pengelolaan sumber daya bumi ini berlaku dengan baik. Atau pada indikator lain, berkaitan dengan kematangan orang tua dalam mendidik anak, atau kematangan orang tua dalam mengelola lingkungan anak.

Pada poin pertimbangan lain, kami mungkin agak sepakat. Misalnya program ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko kematian ibu dan anak. Namun pada kondisi riil, kami tak yakin upaya ini berjalan efektif.

Di lain sisi, risiko kematian ibu sangat dapat ditanggulangi dengan pertimbangan kematangan lahir dari ibu, misalnya dengan menghitung kesiapan biologis atau psikologis yang didasarkan pada usia, kondisi, dan memperhatikan perkembangannya.

***

Kembali ke persoalan inti.

Awalnya kami mengira, apa yang telah kami putuskan soal anak telah begitu “keluar kotak”. Namun beberapa waktu terakhir, kami mendapati pikiran yang lebih jauh keluar kotak.

Bahkan tak nampak lagi di mana asal kotaknya.

Pikiran ini pertama kali saya tahu dari tulisan seorang seleb Instagram pada portal web pribadinya. Mbak-mbak berjilbab, tinggal di Jerman. Dia dan suaminya–yang mualaf itu, mendeklarasikan childfree, atau keputusan untuk tak punya anak baik kandung, tiri, angkat, bahkan pungut.

Saya sempat bersepakat dengan pendapatnya, bahwa mempunyai anak adalah sebuah kesepakatan besar (a big deal). Atau dalam Islam, anak berposisi sebagai amanah Tuhan. Berarti, pertimbangan untuk mencapai kesepakatan dengan Tuhan, dalam hal ini adalah kesepakatan untuk menerima amanah (anak) itu, seyogianya dapat kita capai dengan pertimbangan masak-masak. Dalam hal ini, jangan sampai lupa, bahwa big deal haruslah mencapai: deal.

Soal deal or no deal (bukan acara kuis), anugerah anak tak pelak adalah sebuah keniscayaan yang tak mungkin ditolak bahkan oleh pandangan apa pun. Apalagi dalam Islam, tak dapat ditemukan kaidah atau teladan dari orang-orang saleh terdahulu tentang pilihan mereka untuk tak punya anak. Bahwa beberapa dari mereka memilih untuk tidak menikah (selabat), itu adalah soal pilihan yang agak lebih longgar untuk diterima, atau sekadar diletakkan di wilayah debatable.

***

Tapi soal tidak beranak, nanti dulu.

Baca Juga  Toxic Parents: You’re Not Alone

Sebagai ciptaan Tuhan, manusia dianugerahi modal dasar yang umum disebut fitrah. Modal ini tak bisa disangkal. Bahkan tak mungkin ditanggalkan. Dalam kasus ini, childfree telah menanggalkan fitrah dasar dari sebuah kesepakatan dalam pernikahan. Bahkan ia melupakan salah satu fungsi paling esensi dari pernikahan, yakni melangsungkan sistem reproduksi.

Atau jika kita buka lagi Al-Qur’an, maka akan kita dapati kisah Nabi Zakaria yang istrinya mandul, kemudian ia meminta pada Allah Swt. untuk dianugerahi seorang anak. Lalu Allah Swt. menganugerahi Zakaria anak, yang kemudian kita kenal bernama Yahya ‘alaihissalam. Setelah sebelumnya Zakaria dititipi Maryam, anak Imran, untuk diasuhnya.

Dari beberapa sumber yang saya baca, saya mendapati ragam alasan orang-orang yang memilih preferensi childfree. Dari puluhan alasan yang saya baca, sejujurnya, saya sepakat. Hanya saja mungkin, pilihan untuk menolak kehadiran anak saya rasa adalah pilihan yang terburu-buru. Tepatnya, pikiran saya dan istri. Atau pikiran bersih sebagian besar umat manusia.

Salah satu referensi saya dalam menyelami pikiran orang-orang yang mengambil pilihan Bebas-Anak (childfree) adalah buku berjudul Childfree & Happy karya Victoria Tunggono terbitan EA Books tahun ini.

Misalnya alasan bahwa dunia semakin tak baik untuk tumbuh kembang generasi, atau alasan kemapanan ekonomi, kekhawatiran bahwa aktivitas seksual suami dan istri akan berkurang dengan kehadiran anak, upaya mencegah lubernya populasi, dan lain sebagainya. Sampai ketakutan menghadapi perubahan fisik (obesophobia).

Namun poin-poin itu tak semestinya menjadi alasan untuk menolak kehadiran anak. Fakta bahwa dunia kian buruk situasinya, itu telah terjadi sejak zaman nenek buyut kita dahulu. Fakta bahwa kemampuan finansial menjadi tolok ukur kesejahteraan keluarga, itu betul. Tapi apa ukuran maksimalnya? Apalagi perasaan takut pada berkurangnya intensi keharmonisan suami istri, duh.

Baca Juga  Ghosting dan Pentingnya Menyempurnakan Janji
***

Poin alasan-alasan itu saya kira perlu dipahami bahkan pun diyakini juga oleh pasangan- pasangan lain. Sebab tak jarang pasnagan-pasangan yang mempunyai anak tanpa terlebih dahulu melakukan pertimbangan, bahkan perencanaan. Sekali lagi, mempunyai anak adalah sebuah kesepakatan besar, bukan pilihan senyampang. Perlu kehati-hatian dan persiapan matang.

Maka saya mengajak orang-orang yang telah dengan percaya diri menolak kehadiran anak agar berpikir ulang atas pilihannya. Sebab situasi paling buruk, dapat kita tangkal dengan perencanaan yang baik. Masalah yang rumit, mampu kita gempur dengan tuntas. Bukan dengan menolak anak, tapi dengan mempersiapkan dengan baik kehadiran anak beserta tumbuh kembangnya kelak.

Saya dan istri, bahkan punya kemungkinan, bahwa pilihan kami suatu saat sangat mungkin berubah (kemungkinan ini yang jarang terlontarkan orang-orang penganut prinsip Bebas- Anak.) Maka dari itu, kami tak mempunyai target waktu tertentu untuk beranak. Kapan pun standar kesiapan kami raih, kami akan gas. Bismillah.

Bagikan
Post a Comment