Tentang Doa-Doa Kita yang Kejam
Saya pernah merasa marah sekali kepada salah seorang tetangga bapak saya. Masalahnya apalagi kalau bukan soal uang. Heran juga saya kepada si uang ini. Uang hanya alat yang diciptakan oleh manusia, tetapi orang sering berkata bahwa seseorang itu bisa dipercaya atau tidak kalau kita sudah pernah berurusan soal uang dengan mereka. Sakti benar uang ini ya.
Bapak saya itu mengelola arisan simpan pinjam. Si tetangga ini menjadi salah seorang anggota yang meminjam uang cukup banyak, tetapi tidak mau mengembalikan. Tentu saja anggota yang lain menuntut bapak saya bertanggungjawab akan pinjaman orang itu. Akhirnya mau tidak mau bapak saya nomboki atau mengganti uang yang dipakai oleh si tetangga itu, dengan menjual mobilnya.
Saya marah sekali karena si tetangga ini tidak merasa bersalah sama sekali. Sebagai anak, saya merasa tidak bisa menerima perilaku orang itu kepada bapak saya. Bapak saya sendiri, meski berkata sudah mengikhlaskan uangnya, tapi masih sering mengungkit-ungkit masalah ini di depan saya, sehingga saya jadi marah lagi kepada si tetangga. Saking marahnya, saya pernah berdoa dengan kalimat mengutuk orang itu, “Semoga Allah membalas perbuatanmu yang keji itu dengan pembalasan yang sekejam-kejamnya.”
**
Di masa PPDB sekarang ini, kita direpotkan dengan peraturan dinas pendidikan tentang penerimaan siswa sekolah yang berubah-ubah. Di DKI Jakarta, tahun kemarin penerimaan dilakukan dengan pertimbangan zonasi dan nilai. Tahun ini berubah lagi menjadi zonasi dan umur. Di propinsi lain, berlaku peraturan yang berbeda lagi.
Salah seorang teman suami saya sampai memaki-maki dan mendoakan semoga Gubernur DKI sekarang tidak terpilih lagi. Sebabnya mudah ditebak, karena anaknya tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Dia berdoa semoga Pak Gubernur dan keluarganya merasakan apa yang dia dan keluarganya rasakan saat ini.
**
Wajarkan Berdoa untuk Keburukan?
Dulu saya menganggap sangat wajar kalau saya dan juga siapa saja mendoakan orang lain dengan doa seperti itu. Bukankah mereka sudah melakukan perbuatan yang sangat jahat dan membuat orang lain menderita? Bukankah mereka sudah membuat saya dan keluarga saya susah? Tentu sangat wajar kalau saya merasa tidak bisa menerima perbuatan mereka dan ingin mereka juga menderita, bukan? Bukankah saya hanya ingin keadilan ditegakkan?
Sampai suatu ketika, sebuah pertanyaan mengusik saya, “Engkau selalu menyebut Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa doamu begitu kejam sehingga seolah-olah engkau berkata Allah itu maha kejam? Apakah Allah hanya boleh menjadi yang Maha Pengasih dan Penyayang kepadamu, sedangkan ke orang lain tidak?”
Saya langsung semlengeren memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu.
Berdoa dengan Cara yang Baik
Kita biasanya memaknai doa sebagai sebuah cara untuk meminta sesuatu agar apa yang kita inginkan dikabulkan oleh Allah. Doa adalah sarana agar keinginan-keinginan kita didengarkan oleh-Nya. Kita juga mengawali doa dengan kalimat yang indah, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.
Sayangnya, karena nafsu kita yang bergelora, kita lupa pada kalimat pembuka itu dan memohon agar Allah menghukum orang yang menyakiti kita dengan kejam. Tidakkah itu sama dengan kita memohon agar Allah menjadi Yang Maha Kejam hanya untuk memuaskan nafsu balas dendam kita?
Di awal doa saja, kita sudah memohon kepada Yang maha Pengasih dan Penyayang. Kita bicara tentang kasih dan sayang, tetapi isi doa kita justru bertolak belakang dengan ke-Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah, yang kepada siapa doa itu kita panjatkan.
Tidakkah ini aneh?

Ibu rumah tangga yang suka menulis tentang psikologi, pengasuhan anak dan pola perilaku manusia.

Eko wiji prasetyo
Pingin tau gmana nasib tetangganya bapak setelah dikutuk suhu luluk😜😂
Putri Dj
Sekar, anak pertamaku suka bicara kepada Dhana, adik bungsunya yg baru usia 6thn “doa yg buruk akan kembali kpd orang itu sendiri !” .. dan omongan ini ternyata diingat2 oleh Dhana. Dan kalau kakaknya lg marah2 krn dia usil, maka dhana akan mengatakan kalimat ini kembali ke kakaknya 😅😅