Air Bah di Negeri Saba’ (2)
Kemudahan Transportasi
Setelah dijelaskan anugerah nikmat-Nya menyangkut perkebunan, ayat di atas juga melanjutkan dengan menguraikan anugerah menyangkut kemudahan hubungan antara satu lokasi dengan lokasi yang lain, sebab lancarnya transportasi menuju negeri-negeri lain. Allah telah menjadikan antar tempat tinggal mereka , Yaman, dan di antara negeri-negeri sekitar, seperti Syam, Palestina, Lebanon, dan Suriah, keberkahan yang melimpah.
Negeri ini menjadi sangat ramai penghuni. Lalu sekelompok orang dari mereka mulai berdagang ke tempat-tempat yang jauh. mereka mendatangi negeri-negeri lain untuk memperdagangkan hasil tanaman, termasuk ke kawasan Hijaz dan Syria yang dijadikan antara keduanya beberapa negeri yang tampak sangat berdekatan.
Sebagian mengibaratkan kedekatan jarak itu, seakan Allah melipat bumi untuk mereka. Hal ini lantaran jalanan aman, jarak perjalanan juga tidak terlalu jauh dan terlihat rumah-rumah berderet- deret. Belum juga seorang musafir meninggalkan suatu perkampungan, ia sudah tiba di perkampungan lain sebelum malam tiba. Jarak perjalanan yang dekat sungguh memudahkan mereka singgah kapan saja dan di mana saja.
Walau banyak kota yang harus dilalui dalam perjalanan itu; karena bersambungnya kota-kota tersebut, keadaan mereka dalam kunjungan ke kota-kota itu bagaikan berjalan satu kota saja. Apa yang dilukiskan dalam ayat ini boleh jadi karena penduduk sekitar membangun sepanjang perjalanan dari satu kota ke kota yang lain tempat-tempat peristirahatan serta kios-kios yang menjual bahan makanan dan kebutuhan para musafir sehingga walaupun di sepanjang perjalanan itu terentang padang pasir yang tandus keberadaan tempat peristirahatan kios-kios itu menjadikan kota-kota itu menyatu bagaikan satu kota saja.
Mereka juga dapat menempuh perjalanan dengan aman dan nyaman tanpa merasa takut dan gangguan apapun. Tanpa kesepian atau cemas tentang adanya rintangan dan bahaya. Dalam setiap perjalanan dagang mereka dapat beristirahat melemaskan otot dan mendinginkan telapak kaki di tempat-tempat peristirahatan yang teduh dan nyaman. Tidak ada gangguan manusia dan binatang serta sengatan panas dan dingin. Seperti hewan buas, binatang liar, ataupun perampok.
Mereka leluasa beristirahat serta menikmati bekal makan dan minuman yang mereka bawa. Alllah melimpahkan kenikmatan kepada mereka seakan tidak berujung. Dan di samping anugerah kesuburan tanah dan keberhasilan pertanian mereka; Allah juga telah mengilhami mereka agar mereka dapat membangun negeri mereka sedemikian rupa.
Banjir Besar dengan Jebolnya Bendungan
Sumber daya alam yang melimpah dan kegemilangan peradabannya membuat kaum Saba’ menjadi sombong, ingkar terhadap nikmat Allah dan mendustakan utusan (Rasul) Allah. Salah satu tanda pengingkaran nikmat dan ketidaksyukuran, kaum Saba’ berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah jarak antara perjalanan kami, sehingga tidak banyak orang berkunjung ke negeri kami dan dengan demikian kesejahteraan yang kami nikmati tidak akan terbagi kepada orang lain dan kami sendiri yang menikmatinya.” Mereka mengaku bahwa kemakmuran negerinya sebagai miliknya sendiri, mereka sombong dan tidak bersyukur.
Atas perbuatan mereka ini, mereka tertimpa bencana berupa banjir besar. Banjir besar itu dalam al-Qur”an disebut dengan Sail al-Arim. Sail al-Arim berarti air yang meluap (melimpah). Ungkapan Sail al-Arim menggambarkan banjir yang datang bersama dengan runtuhnya bendungan. Allah menghancurkan bendungan-bendungan mereka yang besar dan kokoh.
Bendungan Ma’rib yang mewah itu jebol, lalu terjadilah banjir bandang dan gelombang air yang menggunung, menerjang dan menyapu semua kehidupan di bawahnya. Lembah-lembah yang menampung air itu tumpah ruah membanjiri seluruh kawasan pemukiman dan areal perkebunan mereka, menenggelamkan tanaman, membinasakan hewan ternak, dan meruntuhkan bangunan-bangunan.
Banyak riwayat yang menyebutkan sebab runtuhnya, baik yang logis maupun hanya imajinasi. Menurut ahli sejarah, banjir itu terjadi sekitar tahun 120 M, atau dua abad setelah zaman Ratu Balqis. Sebagaimana Penjelajah perancis, Arnauld (1883M), juga menemukan puing-puing bendungan itu. Sebagaian Riwayat mengatakan bahwa, ia runtuh karena mereka tidak memeliharanya dengan baik atau akibat peperangan sehingga lawan-lawan mereka menghancurkannya.
Sementara menurut pengamatan yang lain, kemungkinan sebab terkuat runtuhnya negeri Saba’ adalah perubahan jalur perdagangan yang semula menjadi sebab kekayaan negeri ini. Berubahnya jalur darat menjadi jalur laut. Ketika itu, dinasti Ptolomeus membuat sungai terusan yang menghubungkan antara laut merah di salah satu cabang sungan Nil yang mengarah ke Laut Tengah. Dengan demikian, dinasti Ptolemeus menguasai perdagangan, negeri ini kemudian hancur.
Setelah semuanya hancur, air yang membanjir itu perlahan surut diserap bumi hingga akhirnya kering menyisakan lembah seperti semula. Akhirnya menjadi padang pasir yang gersang dan sepi. Tidak ada tanaman yang tumbuh selain pohon yang berbuah pahit dan tidak enak rasanya, rerumputan kering yang tidak berguna, dan sedikit pohon bidara. Burung pipit dan burung bulbul tak lagi terlihat di sana.
Kehidupan yang semula bak surga itu berubah menjadi neraka. Para penduduk tidak lagi sabar menghadapi kesulitan hidup yang dialami. Penduduk negeri itu terpecah, tercabik-cabik dan bercerai berai. Kaum Saba’ yang semula aman dan sejahtera menjadi lemah dan akhirnya terpencar ke berbagai penjuru bumi. Suku Ghassan (Gassan) menuju ke Bushra di negeri Syam atau Syiria. Anmar, Aus dan Khazraj memilih tinggal di Yatsrib (Madinah); suku Jizam dan Khuza’ah ke Tihamah, di Mekkah. Suku Azad berimigrasi menuju Oman. Sementara suku Lakhem menuju negara Irak.

Lailatul Fithriyah Azzakiyah, S.H.I, M.Pd.I adalah Founder Metode Tahfizh Qur’an Tematik
