f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
april

22 Maret Kemarin adalah 9 April di tahun lalu: Saya Telah Gagal

Tanggal 22 Maret kemarin merupakan 9 April di tahun lalu. Bukan mengulang harinya, akan tetapi mengulang momen yang sama pada masa itu.

Sembilan April kala itu banyak menyisakan tangis kenistaan dan tangis keharuan yang menggaung menjadi satu. Namun, di balik kenistaan dan keharuan itu, masing-masing memiliki ibrah yang dapat diambil, bahwa hasil akan sesuai dengan apa yang telah diusahakan.

Dan apa yang telah diusahakan kuat-kuat bukanlah suatu hal yang sia-sia, sekalipun yang diperoleh adalah kegagalan. Karena Ia pasti memberikan yang terbaik menurutNya, meski kami—manusia—mendogma hal itu bukanlah hal yang baik.

Allah memang teramat baik, sekalipun pemberianNya bagai emas yang berbalut kotoran di pandangan manusia.

Kala itu di tanggal 9 April 2020

Jauh hari sebelum hari itu tiba, pikiran kami sudah terbayang akan pengumuman SNMPTN. Banyak dari santri yang mengencangkan doanya, harap-harap mendapat hasil yang sesuai keinginannya. Semalam pikiran sudah tak karuan, bahkan jantung rasanya sudah kembang-kempis tiap kali memikirkannya. Degupan itu makin keras manakala hari yang dinanti telah tiba.

Siang itu di asrama, suara dari speaker mengejutkan kami. Seorang ustazah menghimbau supaya anak-anak SNMPTN segera menuju masjid. Baru mendengar himbauan itu kami sudah heboh, membuat gaduh asrama lantai tiga dan empat.

Beberapa dari kawan bahkan sudah ada yang menangis. Tak jarang saya melihat kawan lain bibirnya komat-kamit mengucap shalawat dan asma Allah saat menuju masjid.

Keadaan begitu hening dan tegang, meski di dalam ruangan masjid terhitung ada puluhan orang. Guru-guru yang ada telah membawa tumpukan amplop kecil, tak lupa botol air mineral besar, dan juga kotak tissue. Sebuah persiapan yang tepat untuk suara tangis yang siap menjadi backsound dadakan setelah amplop itu terbuka.

Baca Juga  Nuriye : Rahim Perempuan Pencetak Ulama Dunia

Seorang koordinator MA kami, Gus Muhib tercinta, menyampaikan wejangan yang menyejukkan, menangkan hati dan pikiran santrinya, bahwa ini bukanlah jalan satu-satunya untuk menggapai keberhasilan jikalau hasil hari ini tidak sesuai dengan harapan.

Setelah penyampaian mauidhah singkat itu, salah seorang guru kami juga menyampaikan wejangannya dan kemudian tibalah saatnyapembagian amplop. Beberapa ustadz/ustadzah pembimbing kamar kami berdiri dengan memegang beberapa amplop di tangannya; kemudian masing-masing dari beliau memanggil nama yang tertera di luar amplop yang dipegangnya satu per satu.

…

Entahlah, saat itu saya sama tidak terlalu gugup seperti kawan lainnya yang raut wajahnya nampak harap-harap cemas. Saya yakin, saya adalah salah satu dari segelintir orang yang tak terlalu menginginkan lolos di SNMPTN ini. Atau bahkan mungkin saya satu-satunya yang bertolak keinginan dengan kawan-kawan SNMPTN yang berkumpul saat ini.

Setelah kami semua memegang amplop masing-masing, guru kami pun memberikan aba-aba untuk membukanya setelah sebelumnya menghimbau untuk membaca surat Al-Fatihah terlebih dulu. Perlahan jari ini mulai membuka amplop putih dengan nama lengkap saya. Setelah terbuka sempurna, saya ambil lipatan kertas di dalamnya, saya buka, dan mulailah saya baca.

April itu saya berpikir, pasti inti dari kertas ini berada di tengah-tengah. Mata saya pun tertuju pada bagian tengah tulisan. Nihil. Mengapa saya tidak paham dengan isi kertas ini. Teman dekat yang berada di samping saya bertanya bagaimana hasilnya. Dengan polos saya berucap jujur padanya, “gak tau,” sembari menunjukan kertas tersebut padanya.

Setelah membaca isi amplop tersebut, sontak saja ia merangkul pundak saya sembari berkata, “Gak papa zah, sabar. Semangat!” Saya pun melirik kertas miliknya, ada perbedaan di antara dua kertas kami. Saya pun ganti bertanya padanya. Dengan senyuman haru ia mengangguk, “Alhamdulillah lolos.” Oh ya, berarti saya tidak lolos. Saya membaca kembali dengan seksama dan benarlah prasangka saya.

Baca Juga  Pola Asuh Single Mother dan Kemungkinan Munculnya Daddy Issues

Allah memang teramat baik. Ia memberikan jawaban terbaik di hari ini atas kebimbangan yang saya rasakan sebelumnya. Ia menunjukkan, bahwa kegagalan yang terjadi hari ini karena ini bukanlah jalan yang cocok untuk saya lalui.

…

Inilah jawaban atas segala doa yang saya panjatkan saat sebelumnya; saya dirundung problematika dengan beberapa pihak, bahkan sampai mengucurkan air mata dan membuat cekat suara. Saat ini, di hari pengumuman SNMPTN ini, saya tidak perlu menangis, karena Ia telah memenuhi apa yang terbaik bagi diri saya. Bagaimana juga mau menangis, rasa ingin menangis pun tidak ada.

Saya diam sejenak dan mensyukuri hasil yang saya terima. Saya menyapukan pandangan. Masjid yang semula hening telah dipenuhi suara tangis yang mendominasi. Kotak tissue pun disalurkan dari satu kawan ke kawan lain, begitu juga botol air mineral besar itu. Saya lihat seorang guru mengabadikan momen ini dengan vidio dan sedikit mewawancarai salah satu kawan saya yang juga menitikkan air mata.

Begitulah kiranya momen pada tanggal 22 Maret kemarin di tanggal 9 April tahun lalu. Apabila hasil telah keluar, berhasil dan gagal bukanlah suatu hasil—yang baik dan tidak baik—yang bisa dibandingkan. Terkadang kegagalan memanipulasi manusia hingga ia berpikir bahwa gagal adalah suatu hal yang buruk. Padahal itu adalah suatu emas dariNya yang berbalut kotoran karena pandangan manusia itu sendiri. Dari sini kita perlu percaya akan ayat, “Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun” dalam surat al-Baqarah. Manusia tiada yang tahu, kecuali Allah yang lebih tau.

Saya tahu bagaimana perjuangan kawan-kawan dalam SNMPTN ini. Bagaimana mereka belajar siang dan malam, melakukan tirakat, mengkhusyu’kan doa, memperbanyak wirid, berpuasa sunnah, dan lain sebagainya, demi mendekatkan diri pada Tuhan agar Ia berkenan mengijabahi apa yang menjadi hajatnya.

Baca Juga  Betapa Lelahnya Memburu Vaksin Gratisan

Semua yang dilakukan bukanlah usaha yang sia-sia, karena Ia lebih mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya.  Apa yang tak disukai belum tentu buruk dan apa yang disukai belum tentu baik juga (lihat Al-Baqarah: 216).

Bagikan
Post a Comment