f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nikmat kopi

Kopi Paling Nikmat

“Apa yang aku butuhkan sekarang?” tanya Gama pada dirinya sendiri.

Rambut gondrongnya masih berantakan. Mata belum terbuka sepenuhnya. Ruh belum menyatu dengan raga seutuhnya. Gama belum sadar utuh. Tapi …

“Kopii, aku butuh kopi!” serunya pelan dengan nada seperti orang mengigau.

Kacau. Kopi sudah menjadi candu bagi Gama. Setiap pagi selalu minum kopi.

Gama tersadar kemudian bergegas mencari ibunya.

“Buk, buatkan aku kopi,” pinta Gama pada ibunya yang selalu menuruti kemauan Gama.

“Siap, Bos,” jawab ibunya santai.

Setelah membuat permintaan pada ibunya, Gama beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Belum selesai membilas sabun di wajahnya, Gama mendengar suara panggilan dari ibunya.

“Gamaaa, kemari dulu, Nak!” panggil ibu Gama.

Segera Gama membilas sabun di wajahnya lalu bergegas menemui panggilan ibunya.

***

“Ada apa, Buk?” tanya Gama.

“Gasnya habis, Nak. Ibu boleh minta tolong belikan gas di pasar? Kalau tidak ada gasnya, Ibu tidak bisa membuatkan kopi untukmu,” pinta ibu Gama.

“Haduuh, Buk. Aku belum minum kopi pagi ini. Energiku belum terisi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa,” jawab Gama merengek.

“Lebayy!” ledek ibu Gama.

“Ayo tolong sekali ini saja, Nak. Nanti setelah membeli gas, kamu akan Ibu buat merasakan kopi paling nikmat,” bujuk ibu Gama.

“Kopi paling nikmat?”

“Iyaaa, kopi paling nikmat yang belum pernah kamu rasakan selama ini!” jawab ibu Gama meyakinkan.

“Baiklah,” jawab Gama agak lesu.

***

Gama terbiasa dimanja oleh ibunya. Apapun yang menjadi keinginan selalu bisa didapat dengan mudah. Termasuk kopi. Asupan yang sudah menjadi kebutuhan primer Gama. Setiap pagi Gama selalu meminta dibuatkan kopi kepada ibunya. Gama biasa minum kopi pagi dan malam hari. Untuk malam hari biasanya Gama ngopi di warung kopi langganannya. Setiap hari bisa 2 sampai 3 gelas kopi. Namun, kali ini kopi paginya sedikit terlambat karena gas LPG di rumahnya habis. Gama harus berkorban sedikit tenaga untuk membeli gas LPG sebelum merasakan kopi paling nikmat yang dijanjikan ibunya.

Di tengah perjalanan …

“Kopi paling nikmat? Senikmat apa, ya? Apa Ibu baru dapat oleh-oleh kopi khas dari Lombok, atau dari Bali, atau dari luar negeri, Italia mungkin?” Gama bertanya-tanya atas apa yang ditawarkan ibunya pagi ini. Kopi paling nikmat, ekspektasi Gama melambung tinggi. berharap benar-benar mendapat kopi paling nikmat itu.

Baca Juga  Saat Rumah Tak Lagi Menjadi ‘Surga’ Bagi Anak

“Ah, tapi tidak mungkin. Memangnya Ibu dapat dari mana kopi senikmat itu. Apalagi kopi semacam itu kan pasti mahal. Apa Ibu berbohong hanya agar aku mau membelikan gas LPG untuknya?” ekspetasi Gama kembali meredup. Ia kesal sendiri.

“Tapi tidak apalah, setidaknya hari ini aku bisa membantu Ibu meski sedikit. Terlebih lagi aku juga sangat butuh kopi pagi ini.” Gama menenangkan pikirannya sendiri.

“Permisi, Pak Le. Beli gas LPG-nya ada?” tanya Gama pada penjaga warung kelontong di pasar.

“Waduhhh sudah habis, Nak. Suplai gas yang baru belum datang. Coba cek di toko sebelah,” jawab penjaga toko.

Gama menampilkan wajah kecewa. Ekspresinya semakin tidak enak. Bagaimana tidak, lagi-lagi kopi paginya membutuhkan waktu tambahan untuk bisa dinikmati.

***

Gama beranjak dari toko tersebut tanpa sepatah kata pun. Hanya menyisakan ekspresi masam untuk penjual yang memberikan kabar buruk untuknya.

“Permisi, Bulek. Gas LPG-nya ada?” tanya Gama pada penjaga toko kelontong kedua yang ada di pasar.

“Ohh ada, Nak. Mau beli berapa? Ini kebetulan masih banyak,” jawab penjaga warung penuh semangat.

Seketika wajah Gama bersinar bahagia.

“Beli satu saja, Bulek,” katanya dengan senyum yang lebar. Berbeda jauh dengan ekspresi sebelumnya. Sampai-sampai penjaga toko heran.

“Wahh baru kali ini saya liat anak muda beli gas LPG sebahagia kamu, Nak,” kata penjaga toko dengan tawa penuh semangat.

“Wah tidak, Bulek. Ini reflek saja karena saya sedang butuh,” jawab Gama agak malu.

“Oalah, saking butuhnya yaaa. Mau masak-masakan untuk pacarnya ini pasti,” lanjut penjaga toko menggoda.

“Iyaa, aku mau bikin kopi. Kopi kan pacarku,” ucap Gama dalam hati tanpa menggubris ucapan penjaga toko yang penuh semangat itu.

Gama bergegas pulang ke rumah untuk segera memberikan gas LPG pada ibunya agar ibunya bisa segera membuatkan kopi pagi paling nikmat untuk dirinya.

***

“Buk, ini gas LPG-nya,” teriak Gama dari lorong.

“Iyaaa, Nak. Sekalian dipasang yaaa,” jawab ibu Gama.

“Haduuh, iyaaa deh.” sahut Gama agak lesu.

“Sudah, Buk. Aku nunggu kopi paling nikmat seperti kata Ibu lhoh, yaaa,” tagih Gama pada ibunya.

Baca Juga  Fokus Saling Dukung Soal Parenting, Jangan Lagi Bahas Kubu-kubu!

“Gamaa, sepertinya stok kopi sudah habis. Bisa kamu membelinya dulu di warung Ibu Kusuma?” teriak ibu Gama dari belakang rumah yang sedang menjemur baju.

“Haduuuh, Bu. Kok nggak dari tadi sekalian beli gas sih?” ucap Gama dalam hati, tidak berani terungkap secara langsung. Karena khawatir dianggap tidak sopan oleh ibunya dan dicap jadi anak durhaka akhirnya ia menjawab lesu, “Iyaa, Buk.”

Gama berangkat dengan wajah malas. Lagi-lagi kopi paginya tertunda. Membutuhkan pengorbanan tenaga dan waktu tambahan untuk bisa menikmatinya.

“Permisi, Bu Kusuma,” panggil Gama di depan rumah Bu Kusuma.

***

Bu Kusuma adalah penjual kopi tradisional langganan keluarga Gama. Mungkin lebih tepatnya langganan para keluarga di tempat Gama tinggal. Bu Kusuma mempunyai kebun kopi sendiri. Tidak terlalu luas, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kopi seluruh keluarga di daerah tempat tinggal Gama. Biji kopinya ditumbuk secara manual oleh Ibu Kusuma sendiri dan keluarga. Kopinya khas, tapi biasa bagi Gama, sebab Gama selalu minum kopi yang sama setiap hari.

“Iyaaa, masuk dulu sini ke dapur, Nak,” jawab Bu Kusuma dari dapur.

“Bu, saya mau beli kopi,” ucap Gama agak tergesa-gesa.

“Iyaa, Gama. Duduk dulu. Ini saya baru menumbuk. Tunggu sebentar yaaa. 15 menit saja,” jawab Ibu Kusuma santai.

Gama tak menjawab. Ia semakin kesal. Wajahnya sangat jelas menunjukkan kekesalan yang bercampur dengan rasa tidak sabar untuk segera meminum kopi.

“Ini adalah hari terburukku,” ucap Gama dalam hati.

“Hari yang sangat buruk. Kopi pagiku hadir sangat lama. Tenagaku terkuras habis untuk pergi ke pasar, beli gas, dan sekarang masih harus menunggu kopi yang masih ditumbuk. Hadeeh kacauu,” lanjut Gama mengeluh sekaligus marah dalam hati.

“Ini, Nak Gama. Kopimu sudah jadi. Tinggal diseduh dan dinikmati, yaa,” ucap Bu Kusuma sembari menyodorkan plastik berisikan kopi yang sudah ditumbuk.

“Terima kasih, Bu. Saya pamit,” Gama langsung bergegas pulang.

***

“Buk, ini kopinya. Tolong seduhkan segera. Aku butuh kopi paling nikmat yang Ibu katakan tadi,” teriak Gama tak sabar.

Tidak ada jawaban dari ibunya.

“Buuk, Ibuuk, Ibuuk di mana?” panggil Gama.

Baca Juga  Teruntuk Anakku Sayang

Belum ada jawaban juga. Dicari ke halaman belakang, kamar mandi, dan dapur tidak ada. Gama kebingungan. Di atas kompor Gama melihat ada secarik kertas. Mungkin pesan dari ibunya. Dan benar, ibunya menulis …

Gama, ibu mendadak ada panggilan dari sekolah adikmu. Katanya ada rapat wali murid untuk rekreasi. Pagi ini kamu seduh kopi sendiri dulu yaa, Nak.

Gama seperti ingin menyerah untuk kopinya pagi itu. Pagi itu Gama diminta untuk menyeduh kopi sendiri. Padahal selama ini ia tidak pernah benar-benar menyeduh kopinya sendiri. Apa bisa?

“Nyeduh kopi kan gampang. Tinggal masukin kopi, gula, dan air panas. Selesai. Lagian juga hanya untuk pagi ini saja,” Gama membangun niat untuk menyeduh kopinya.

“Eh tapi Ibu kan mau membuatkan aku kopi paling nikmat. Tapi, mau nikmat bagaimana jika bubuk kopinya masih dari Ibu Kusuma. Apa bedanya dengan kopi yang aku minum biasanya? Sepertinya kali ini Ibu berbohong,” Gama berbicara dengan dirinya sendiri.

***

Gama menyalakan kompor dan memasak air. Memasukkan bubuk kopi yang tadi sudah dibelinya dari bu Kusuma. Tidak lupa juga memasukkan gula secukupnya. Gula dituang dengan manja oleh Gama dengan gaya-gaya seorang barista. Air sudah matang. Kopi diseduh dengan hikmat. Kopinya diaduk pelan. Kopi, gula dan air panasnya menyatu seakan bersetubuh di cangkir keramik warna putih.

Gama tersenyum.

“Tidak biasanya, baunya nikmat sekali,” ucap Gama kagum.

Setelah kopinya cukup hangat. Gama menyeruput kopinya pelan.

“Sruuuputt,” kurang lebih begitu suaranya.

“Ahhhh,” desah Gama.

Seketika Gama terdiam. Merasakan detail kopi yang barusan ia minum. Menampilkan wajah heran. Ia kembali memainkan lidahnya untuk merasakan kopi yang barusan ia minum. Gama bingung.

“Nikmat sekali kopi ini. Tidak seperti kopi Bu Kusuma biasanya. Tidak juga seperti kopi di warkop langgananku. Ini lebih nikmat. Ini sangat nikmat. Ini paling nikmat. Ini kopi paling nikmat.”

“Ternyata ibu tidak berbohong,” ucap Gama.

“Ini adalah hari terbaik dengan kopi pagi paling nikmat,” ucap Gama dengan senyum bangga atas seduhan kopi paling nikmat dengan tangannya sendiri.

Bagikan
Comments
  • Ceritanya bagus di tunggu cerita lainnya

    Maret 28, 2021
Post a Comment