f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Mesir

Qasim Amin: Pejuang Emansipasi Asal Mesir

Sosio-kultur masyarakat Mesir kala itu sangat memprihatinkan, di mana kaum hawa (perempuan) dipandang sebelah mata; tidak dihargai; bahkan dijadikan budak dan pemuas nafsu kaum laki-laki, serta kerap dipingit di dalam rumah. Kondisi seperti ini tidak memberikan kebebasan berkehendak (pilihan) atau secara langsung membunuh kreativitas seorang perempuan dalam menentukan pilihan-pilihannya. Sehingga, tampak bahwa peran seorang perempuan kala itu menjadi sempit, yakni beraktivitas di dalam rumah laiknya seorang tahanan.

Budaya patriarki yang mengakar di tengah-tengah masyarakat Mesir kala itu, mengundang perhatian dari pelbagai tokoh atau pemikir Islam di Mesir. Di antara salah satu pemikir Islam yang merasa terpanggil untuk mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan, adalah Qasim Amin.

Kehadiran Qasim Amin, seakan menjadi angin segar bagi kaum perempuan Mesir. Pemikiran yang ia gaungkan memberi ruang serta kebebasan bagi kaum perempuan untuk memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya buku Tahrir al-Mar’ah (pembebasan perempuan) karya pertama Amin; yang mendapat sambutan meriah dari kaum perempuan mesir kala itu. Dan buku ini pula, yang mengilhami para aktivis kesetaraan gender khususnya di kalangan perempuan Mesir dalam menyuarakan hak-hak mereka, khususnya setelah Amin wafat.

Kehidupan dan Pendidikannya

Qasim Amin merupakan tokoh pembaharu Islam dari Mesir, ia lahir di Thurah, wilayah pinggiran kota Kairo, tahun 1277 H/1863 M. Ayahnya bernama Muhammad Bek Amin yang merupakan keturunan Turki, sementara ibunya adalah seorang perempuan Mesir asli dari Al-Said.

Pendidikan kali pertama Amin di Madrasah Ra’su al-Thin (Sekolah Dasar) tepatnya di wilayah Iskandariyah, kemudian beranjak kepada Madrasah Tajhiziyah (tingkat Tsanawiyah) yang terletak di Kairo. Setelah itu Amin melanjutkan studinya ke sekolah tinggi hukum Madrasah Al-Huquq, dan berhasil memperoleh ijazah licence pada tahun 1298 H/1881 M.

Baca Juga  Ziauddin Sardar: Hirarki Kesadaran dan Etika Pelestarian Alam dalam Islam

Setelah menyelesaikan studinya, Qasim Amin kemudian bekerja di sebuah kantor pengacara milik Mustafa Fahmi yang terletak di kota Kairo. Namun demikian, pekerjaan yang ia geluti tak berlangsung lama, sebab Amin kemudian berangkat lagi ke Prancis untuk mendalami ilmu di bidang hukum pada Universitas Montpellier. Dan di universitas inilah Qasim Amin berhasil meraih gelar sarjana hukum, yang mengantarkannya menjadi seorang hakim kesohor di Mesir pada saat itu.

***

Keberadaannya di Prancis, memberikan arti tersendiri bagi kehidupannya serta pemikirannya. Ia kemudian bertemu dengan beberapa tokoh pemikir pembaharu Islam, seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Dari Abduh, Amin belajar bahasa Prancis. Pertemuannya dengan para pemikir pembaharu tersebut memberikan kesempatan bagi Amin untuk ikut andil dalam penerbitan majalah Islam populer yang bernama al-Urwah al-Wustqa yang berpusat di Paris. Dalam majalah itulah, mereka menyuarakan gerakan “nasionalisme” yakni pembebasan masyarakat Mesir dari imperialisme-kolonialisme Barat; yang kebetulan Inggris telah menggulingkan kekuasaan Urabi Pasha dan menguasai Mesir.

Sekembalinya dari Prancis, Qasim Amin diangkat menjadi hakim pada sebuah lembaga kehakiman ­al-Mahkamah al-Mukhwalatah hingga menjadikan dirinya mustashar (hakim agung) pada mahkamah al-Isti’naf pada tahun 1309 H/1892 M. Pekerjaan tersebut ia geluti hingga akhir hayatnya pada tahun 1908, dalam usia 45 tahun.

Selain itu Qasim Amin juga termasuk pemikir produktif, di antara karya yang ia tulis: Tahrir Al-Mar’ah (pembebasan perempuan), al-Mar’ah al-Jadidah (perempuan modern), Mishr wa al-Misriyyun, Asbab wa al-Nataji wa Akhlaq al-Awaiz, Tarbiyah al-Mar’ah wa al-Hijab dan Al-Mar’ah Al-Muslimah.

Gagasan Emansipasi Qasim Amin

Sebagai seorang reformis Islam dan hakim kesohor di Mesir, Qasim Amin membentangkan pemikirannya pada isu-isu perempuan di Mesir. Yang pada saat itu budaya patriarki semakin merebak di kalangan masyarakat Mesir. Menurutnya, perempuan Mesir tidak saja terpinggirkan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan serta struktur sosiologis. Tetapi hak-hak mereka sebagai individu telah direnggut oleh keyakinan Islam tradisional dan berbagai budaya patriarki mengatasnamakan agama yang dianggap sudah mapan.

Baca Juga  Seri Belajar dari Tokoh Filsafat: Filter Diri ala Socrates

Dalam membela hak-hak kaum perempuan Mesir kala itu, pada tahun 1899 M, Qasim Amin menerbitkan buku dengan judul Tahrir Al-Mar’ah . Isi dari buku ini, menuntut penghapusan “adat hijab” yang Amin anggap bertentangan dengan hakikat hijab dalam ajaran Islam. Selain itu, Amin menuntut agar perempuan Mesir mendapat pendidikan dan pengajaran yang layak (baik) serta memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki. Tak hanya itu, adanya perubahan dalam praktik poligami dan perceraian; yang Qasim Amin anggap telah banyak merugikan kaum perempuan di Mesir.

Kendati demikian, gagasan Qasim Amin tidak berjalan mulus. Berbagai kecaman mulai bermunculan, baik dari kalangan ulama Islam tradisional maupun beberapa tokoh nasionalis Mesir. Alih-alih pemikiran Amin patah akibat kritik yang muncul pelbagai kalangan. Namun kemudian di tengah-tengah kritik tersebut, pemikiran Amin seakan mendapatkan relevansinya dan memicu semangat Amin untuk lebih giat dalam membela hak-hak kaum perempuan Mesir. Hal ini terbukti dengan terbitnya buku al-Mar’ah al-Jadidah (perempuan modern), sebagai jawaban atas kecaman dan kritikan kepadanya. Di dalam buku keduanya inilah, beliau mengemukakan contoh-contoh konkret perbandingan antara perempuan Mesir, perempuan Eropa dan juga perempuan Amerika.

***

Yang menarik dari pemikiran Qasim Amin tentang emansipasi, beliau menawarkan gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Menurutnya, pendidikan merupakan satu-satunya alat untuk membebaskan wanita dari praktik  budaya patriarki yang menyiksa mereka. Dengan memperoleh pendidikan, seorang perempuan dapat mempertinggi perannya bukan hanya di bidang domestik, tetapi mencakup segala hal tak terkecuali di bidang kemasyarakatan.

Menurut Qasim Amin, urgensi pendidikan bagi perempuan berkaitan dengan peranannya sebagai seorang ibu dari anak-anaknya, yang bagi Amin tak perlu diragukan lagi. Bahkan, seorang anak menghabiskan hampir seluruh waktu bersama ibunya. Karenanya, dia harus mampu berperan sebagai seorang pendidik yang baik, karena ia berkedudukan sebagai “sekolah pertama bagi anak”. Bahkan menjadi salah satu faktor penentu bagi masa depan anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa. Ironisnya, masyarakat Mesir kala itu menganggap bahwa pendidikan akan merusak akhlak, perempuan tidak memiliki kemampuan laiknya seorang laki-laki. Bahkan terdapat beberapa ulama tradisional yang mempertanyakan perihal kebolehan belajar membaca bagi anak perempuan.

Baca Juga  Mengambil Ghirah Perjuangan Tokoh Politik Perempuan

Stigma-stigma demikian, oleh Amin sudah saatnya dihilangkan karena akan menjadi kendala dalam upaya peningkatan taraf pendidikan perempuan. Padahal menurut Amin, semakin tinggi pendidikan wanita, maka semakin tingga pula harkat dan martabatnya. Dengan demikian, mereka mampu menentukan pilihan dalam menghadapi pelbagai rintangan hidup yang mengitarinya, apalagi pendidikan tersebut disertai dengan pendidikan akhlak.

Upaya yang Qasim Amin lakukan dalam membela hak-hak perempuan melalui karya dan pemikirannya, adalah untuk mencapai kemakmuran masyarakat dan kepentingan bersama; serta merestorasi ajaran Islam, yang sejatinya tidak menghendaki budaya patriarki. Di mana salah satu ajaran yang di bawah Islam adalah untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.

Bagikan
Post a Comment