f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
self healing

Boros Berkedok Self Healing

Dewasa ini, kita tentu tidak asing lagi dengan kalimat self healing. Apa sih self healing sebenarnya? Self healing hampir sama dengan self reward yakni memberi penghargaan terhadap diri sendiri atas segala usaha yang telah kita lakukan sebelumnya.

Self healing biasanya bisa kita lakukan dengan beberapa cara. Di antaranya dengan membeli suatu barang yang kita sukai, berjalan-jalan, liburan, kulineran, dan masih banyak lagi lainnya. Self healing saat ini ramai diperbincangkan karena di situasi dan kondisi pandemi seperti ini tentu saja banyak orang umumnya muda-mudi yang merasa jenuh, bosan, dan stress.

Pandemi memang jelas mengubah seluruh tatanan kehidupan kita di berbagai sektor. Di antaranya ialah ekonomi di mana banyak para pelaku ekonomi yang harus menerima omset mereka menurun karena adanya sistem pembatasan selama pandemic berlangsung. Contoh lain di bidang pendidikan, sekolah dilakukan dengan sistem baru yang belum pernah diterapkan sebelnya, yakni dengan sistem daring. Siswa dan guru tentu saja mau tidak mau harus beradaptasi dengan metode baru. Sistem daring tentu membawa beberapa kekurangan dan juga kelebihan.

***

Bagi guru, utamanya guru dengan faktor usia yang sudah lanjut, adanya sistem daring menuntut mereka terampil teknologi yang mungkin tak semua guru bisa melakukannya. Bagi siswa hal ini membuat mereka jenuh, bosan, atau bahkan stress karena pembelajaran tak seperti pada biasanya. Siswa dituntut lebih aktif dan mandiri,serta tanggap dengan perkembangan metode dan teknologi pada saat pembelajaran berlangsung

“Aduh pusing, banyak sekali tugasnya, selesai Ujian mau refreshing aja, deh!” Kalimat yang saya yakin sangat mungkin sering siswa ucapkan. 

Hal ini tentu membuat mereka merasa stress dengan tugas atau mata pelajaran yang mereka dapatkan. Jenuh, bosan, dan healing, tak jarang mereka memanjakan diri mereka dengan istilah self healing. 

Baca Juga  Laki-Laki dan Perempuan Bisa Mengalami Puber Kedua

Perlu gak sih self healing tu?

Dalam dunia, tentunya semua ada sisi baik dan buruknya suatu hal. Bagi kaum muda, self healing adalah salah satu alternatif untuk melepas kepenatan dan juga pendorong semangat untuk melakukan tugas atau berikutnya berikutnya.

Beberapa kaum muda mungkin melakukannya dengan sekedar berjalan-jalan, melihat pemandangan alam atau mungkin dengan kulineran.

***

Namun, self healing  juga berdampak negatif apabila tidak kita manajemen betul keinginan kita. Siapa sih kaum muda yang tidak suka berbelanja? Saya pun tak memungkiri bahwa berbelanja adalah hal yang paling saya sukai. Dengan membeli sesuatu, rasanya ada sesuatu yang membuat diri semakin semangat untuk menjalani aktivitas dan tugas berikutnya.

Sebenarnya, tak ada masalah apabila kita membelanjakan uang kita untuk keperluan kita sendiri. Namun, yang salah adalah ketika kita tidak bisa mengontrol diri kita sendiri untuk membedakan mana kemauan dan kebutuhan. 

Bisa jadi, barang-barang yang kita beli dari kedok self healing adalah barang-barang yang sebenarnya tak terlalu kita butuhkan. Dengan alasan itulah, banyak kaum muda, menjadi seolah-olah dengan mudahnya mengeluarkan uang mereka tanpa ada batasan.

***

Terkadang, kaum muda tak mampu menahan keinginan mereka, membeli ini itu dengan alasan untuk menyenangkan diri sendiri, tanpa ada batasan apapun, hingga akhirnya menyesal dan menyadari bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya belum sangat-sangat kita perlukan.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengatur diri untuk bisa memanajemen keuangan dan keinginan serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan kita?

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatur diri agar tetap pada batas self healing yang wajar ialah pertama harus menyadari betul bahwasannya setiap orang punya caranya masing-masing untuk memberikan apresiasi terhadap pencapaian dirinya sendiri.

Baca Juga  Kepedulian Terhadap Kesehatan Jiwa : Upaya Menuju Kewajaran Baru

Dengan itu, kita tak perlu meniru orang lain atau menyamakan standar orang lain. Self healing tak harus dengan membeli ini itu untuk kepuasan diri yang justru jika kita tak bisa menghandlenya dengan baik. Hal paling sederhana bisa kita lakukan dengan sekedar menonton film seperti darkor, mendengarkan musik, atau bahkan merehatkan badan dengan bersantai di rumah.

***

Self healing lain bisa kita lakukan dengan berkumpul dengan keluarga, berkebun atau sekedar bersepeda dan berjalan-jalan. Namun, jika kita adalah orang yang senang berbelanja, maka tak apa kita jadikan berbelanja sebagai apresiasi terhadap diri kita. Namun, kita harus tau dan harus punya batas. Misalnya, satu pencapaian dapat kita batasi untuk membeli sesuatu seharga maksimal Rp. 100.000,-

Dengan adanya batasan maka bisa menghindarkan dari tindakan boros. Meskipun tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi yang sangat pesat mampu mempermudah akses kita di segala bidang.

Mulai dari akses internet hingga kemudahan melakukan transaksi belanja. Dengan adanya hal ini tentu meningkatkan sikap konsumtif masyarakat, yang berdampak buruk apabila tidak terkontrol dengan baik.

Dalam agama pun, hal ini bukanlah sesuatu yang baik. Jadi, utamanya kita, seorang muslim tentu harus menghindari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan anjuran agama. Seperti zaman sekarang, kita bisa dengan mudah berbelanja hanya dengan checkout-checkout, lalu barang akan sampai dengan sendirinya ke tempat kita. Tak perlu capek-capek antre hanya dengan rebahan pun jadi.

Kemudahan ternyata kadang tak hanya membawa dampak yang positif untuk kita, tetapi juga berdampak buruk apabila kita tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebagai kaum millenial yang cerdik, harusnya kita mampu memanfaatkan teknologi dan segala kemudahan yang ada menjadi hal yang baik untuk diri kita sendiri.

Baca Juga  Merasa Tidak Berguna? Berikut Cara Mengapresiasi Diri Sendiri
***

Memang tak ada salahnya apabila kita memberikan reward atas apa yang kita lakukan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras kita sendiri. Namun, kita tentu harus mampu untuk mengatur dan memanajemen diri kita  sendiri agar tak terjerumus ke dalam perilaku konsumtif yang tak sesuai kepribadian bangsa kita.

Oleh karena itu, jadilah kaum milleanial yang cerdik dan bijak dalam memanfaatkan kemudahan yang ada.

Bagikan
Post a Comment