Self Love: Ketika Orang Merendahkan Kita
Dear hati yang terluka, menjadi baik saja tidak cukup. Kita juga harus memiliki hati yang penuh cinta agar tidak terluka. Setidaknya bisa sembuh ketika terluka dan tidak berlarut-larut. Sekarang ini saya sedang mengalami luka hati yang berpengaruh pada kondisi fisik saya.
Ketika saya bertanya bagaimana solusinya, orang menasehati saya untuk lebih mencintai diri sendiri. Saya masih belum paham apa itu mencintai diri sendiri, dan bagaimana caranya. Para ahli itu bilang, jika kita sudah mencintai diri sendiri maka tangki cinta kita sudah penuh. Artinya semua kata buruk tentang kita tak akan berpengaruh pada kita.
***
Saya pernah direndahkan dan difitnah oleh orang, masalahnya orang itu adalah keluarga suami saya sendiri. Artinya saya harus terus berhadapan dengan mereka selamanya. Sementara perlakuan dari mereka yang membuat saya terluka terus terjadi.
Akibat perlakuan mereka itu, saya mengalami gejala psikosomatis. Psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau menjadi bertambah parah (alodokter).
Dada saya langsung terasa sakit dan sesak setiap bertemu dengan keluarganya. Bahkan mendengar kabar tentang keluarganya saja, dada saya langsung sesak dan tubuh saya mulai tak karuan. Bagi orang yang membenci kita, berbuat sebaik apa pun tetap saja ada cela.
Bahkan jika akhlak kita sebaik malaikat tak memberi jaminan semua orang akan menyukai kita. Sebagaimana kata Imam Ali “Jangan ceritakan dirimu pada orang lain, karena yang membencimu tidak percaya itu, dan yang mencintaimu tidak memerlukan itu.”
Saya bukan sedang membuka aib keluarga, saya ingin cerita bagaimana saya harus menghadapi orang yang merendahkan dan menyakiti kita terus menerus. Bahwa saya sedang mengalami dan berusaha untuk menyembuhkan luka dan lebih mencintai diri.
Saya kemudian ikut kelas healing (penyembuhan) dan sampailah pada pembahasan self love. Latihannya dimulai dari sadar nafas lalu memberikan afirmasi positif pada diri kita. Kemudian saya mulai memahami arti self love.
Self love itu ibarat kita sedang mencintai seseorang. Misalkan mencintai pasangan kita, atau kagum pada guru atau idola kita. Tentu karena kita mencintai dan mengagumi mereka, kita tahu betul karakter dan sifat mereka.
Lalu ketika ada orang merendahkan mereka, mengatakan hal buruk tentang mereka, bahkan memfitnah mereka, apakah kita terpengaruh? Apakah kita akan berhenti mencintai mereka? Tidak, karena kita jauh lebih mengenal mereka. Kita tahu bahwa mereka tidak seperti yang dituduhkan.
***
Kita hanya akan semakin mencintai dan mengagumi mereka. Atau bahkan kita menyangkal segala fitnah tersebut. Nah jika kita semudah itu mencintai seseorang, maka kita hanya perlu melakukannya pada diri sendiri.
Ketika kita sudah mencintai diri sendiri, maka segala sikap orang lain pada kita tak akan berpengaruh pada kita. Kenapa? Karena kita tahu betul diri kita dan kita tahu bahwa kita tidak begitu. Diri kita sudah dipenuhi dengan cinta, hingga iri dengki dan hasad tak bisa masuk dalam diri kita.
Maka yang saat ini saya lakukan adalah melakukan latihan sadar nafas dengan afirmasi diri. Sadar nafas yaitu menyadari bahwa kita sedang bernafas. Kita amati setiap tarikan dan hembusan nafas. Ketika sadar nafas, pikiran kita lebih mudah fokus karena perhatian kita hanya tertuju pada nafas kita. Nah ketika kita sedang fokus mulailah afirmasi diri.
Karena saya mengikuti kelas maka saya mendapat audio dari pelatih saya. Kami dibimbing untuk beterima kasih dan meminta maaf pada organ tubuh kami. Mulai dari kepala, bahu, perut, kaki, tangan, dsb. Ketika melakukan ini saya menangis betapa banyak hal yang sudah tubuh saya lakukan untuk saya.
Mereka telah bekerja keras, melakukan banyak pekerjaan untuk mewujudkan keinginan saya. Saya berterima kasih atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Lalu saya meminta maaf karena saya sering mengambil terlalu banyak peran hingga kadang saya menzalimi diri saya. Saya pernah sakit selama satu bulan dan tak bisa bangun dari ranjang.
Karenanya, saya terus meminta maaf karena kezaliman yang saya lakukan. Lalu setelah semua perjuangan ini, apakah kita tidak mencintai diri kita? Setelah semua perjuangan yang dilakukan tubuh kita dari lahir hingga detik ini. Bertahan ketika kita sakit, menemani kita hingga berdiri saat ini.
***
Bukankah perjuangannya sudah sangat berarti hingga tak ada lagi yang lebih memahami diri kita kecuali diri kita? Apakah fitnah orang lain boleh menganggu kita ketika diri kita telah melakukan hal yang luar biasa?
Setelah berterima kasih pada diri, yang saya lakukan adalah apresiasi diri. Saya lakukan dengan menuliskannya, istilahnya journaling. Di situ saya tuliskan hal baik yang sudah saya lakukan dan saya capai selama ini. Sepele saja tapi bermakna.
Misalkan saya dapat berjuang setelah ibu meninggal saat saya berusia 6 tahun. Atau misal tentang hobi dan passion kita. Misalkan suka menyanyi, bisa dituliskan bagaimana proses belajar menyanyi dan betapa hebatnya kita menyanyi. Bahkan jika kita suka menolong, kita boleh tuliskan. Semua hal baik kita tuliskan dan apresiasi.
Jika agama menganjurkan kita untuk melupakan kebaikan kita maka hal ini berbeda. Melupakan kebaikan harus dilakukan oleh orang normal. Ketika mental kita sehat dan tidak sedang dalam kesedihan atau tekanan. Sebaliknya, bagi orang yang sedang membutuhkan kasih sayang, hal-hal seperti itu harus kita lakukan.
Sebagaimana ketika kita menghibur teman kita yang bersedih, kita akan mengatakan bahwa ia orang hebat dan luar biasa. Dia telah melakukan banyak hal, dan betapa banyak orang bahagia akan kehadirannya. Lakukan juga pada diri kita yang telah banyak melalui kesedihan dan perjuangan.
Kamu adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan tidak akan menciptakanmu tanpa cintaNya.

Seorang mompreneur, founder and teacher tahsinonlinebenome.
