f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tanyaku

Ayah Pahlawanku

“Yah, apa hari ini kita akan makan?” tanyaku. Pertanyaan itu sering kali terlontar dari bibirku setiap Ayah akan berangkat bekerja.

Ayah tersenyum seraya mengacak rambutku dengan lembut. “Ya, kenapa tidak. Ayah akan bekerja lebih giat lagi agar kita bisa makan setiap hari,” ucapnya. Namun, dari sorot matanya tampak kesedihan yang tertahan.

Ayah mulai mendorong gerobak. Sementara aku digendong di belakang. Dia selalu membawaku saat bekerja. Sebenarnya tidak tega melihat tubuh yang tidak lagi muda itu membawa-bawaku sambil bekerja. Akan tetapi, apalah daya, aku yang mempunyai keterbatasan ini tidak bisa apa-apa. Dia juga tidak ingin meninggalkanku sendiri di rumah.

Aku Istimewa

Aku terlahir istimewa, tangan dan kaki tidak bisa digerakkan. Tidak bisa juga duduk. Ibuku meninggalkan kami karena tahu aku terlahir seperti ini. Dia tidak mengakui bahwa aku adalah anaknya.

Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun juga tidak membenci Ibu. Bisa bicara dengan lancar saja aku sudah bersyukur.

Semenjak kepergian Ibu, ayahlah yang merawat dan membesarkanku. Dia tidak pernah mengeluh karena diriku yang tidak bisa apa-apa ini.

Ayah selalu menguatkanku. Katanya, Allah sayang padaku. Jadi, Allah tidak ingin aku lelah.

Hari ini Ayah membawaku mencari barang bekas di tempat sampah di desa seberang. Menurut pemulung lainnya, di sana selalu ada barang yang masih layak, tapi sudah dibuang.

Setelah menempuh beberapa jam dengan berjalan kaki, akhirnya kami sampai. Sebelum masuk ke tempat pembuangan sampah, kami terlebih dahulu minta izin kepada satpam yang menjaganya.

Akhirnya kami sampai. Ayah melepaskan gendongannya dan membaringkanku di pos dekat tempat pembuangan sampah. Mulailah dia memilih-milih barang yang ada nilai jualnya.

Hampir satu jam aku menunggu, akhirnya Ayah selesai seraya duduk di sampingku. Diambilnya minum yang berada di botol dan meneguknya hingga tersisa separuh lagi.

Baca Juga  Keuangan dalam Pernikahan

“Kamu haus?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Mau makan?” tanyanya lagi. Kali ini aku mengangguk. Sedari tadi pagi perut ini belum terisi. Hanya air yang baru masuk.

“Baiklah, tunggu di sini. Ayah akan timbang barang bekas itu, baru kita beli makanan. Sebentar, ya,” ucapnya seraya menenteng dua karung yang berisi barang bekas.

Ayah pun pergi ke tempat penimbangan yang tidak jauh dari tempat ini. Perutku semakin berisik tidak bisa diajak kompromi lagi. Kupanggil Ayah beberapa kali hingga dia datang dengan sedikit tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Nak. Mau pipis?” tanyanya.

“Ali lapar, Yah. Sudah tidak tahan lagi,” ucapku lirih. Beliau mengangguk cepat kemudian menggendongku seperti biasa.

****

Akhirnya hari ini kami bisa makan walaupun hanya dengan nasi dan telur. Ini saja sudah terlihat lezat bagi kami. Bersyukur tidak seperti dua hari yang lalu. Ayah tidak dapat apa-apa, alhasil kami tidak makan selama dua hari. Tetangga di sini tidak jauh beda nasibnya dengan kami.

Selesai menyuapiku makan, barulah Ayah makan. Terkadang hati ini teriris melihat wajah lelah itu harus berjuang sampai detik ini. Demi aku, anaknya. Seharusnya yang seusia sepertinya itu tinggal menikmati masa tuanya saja. Duduk santai seraya bermain dengan para cucunya.

Namun, tidak untuk ayahku. Demi aku dia rela menempuh kilometer hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Di setiap tetes keringatnya tersimpan ketulusan.

“Ayah!” panggilku. Kulihat dia melamun di dekat jendela. Dia pun melangkah menghampiriku.

“Ada apa, Nak?” tanyanya.

“Maafkan Ali, ya, Yah,” ucapku lirih. Air mata ini benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Tidak tega kalau tubuh rapuh itu harus terus seperti ini.

Dia kemudian memangkuku. “Kenapa tiba-tiba minta maaf? Apa bentar lagi lebaran?” tanyanya seraya terkekeh-kekeh.

Baca Juga  Yang Tak Terdefinisikan

“Jangan sering minta maaf. Ayah tidak ingin mendengar itu. Sudah kewajiban orang tua menafkahi anaknya. Ayah ikhlas melakukan ini semua. Cukup doakan ayah selalu sehat dan mudah rezekinya. Itu saja sudah membuat ayah bersemangat.”

***

Ayah menghentikan sejenak ucapannya. Dia memandang ke arah langit-langit rumah. Kemudian kembali berbicara.

“Kamu keluarga satu-satunya yang ayah punya. Ayah tidak ingin mengecewakanmu, Nak. Walaupun akhirnya ayah tetap mengecewakanmu. Maafkan ayah, Nak. Ayah belum bisa membahagiakanmu.”

Ada bulir bening yang jatuh dari kelopak mata yang mulai mengerut itu. Baru kali ini aku melihatnya menangis.

“Ayah … tidak menyesal memiliki anak sepertiku?” tanyaku.

Kini dia menatapku seraya tersenyum. “Sama sekali tidak, Nak. Kamu itu istimewa bagi ayah. Ayah malah bersyukur bisa memiliki anak sepertimu. Tegar, kuat, dan sabar.”

“Ayah!” Air mataku kembali jatuh. Perkataan tulus darinyamembuatku terharu.

“Sudah, sudah. Kita tidur lagi. Ini sudah larut malam,” ucapnya seraya membaringkanku di tempat tidur yang hanya beralaskan kain tipis.

***

Hari-hari kami lewati seperti ini. Tidak jarang kami dituduh maling oleh pemilik rumah yang tempat sampahnya kami obrak abrik. Tidak jarang juga kami diusir hingga didorong secara paksa.

Begitu tega para manusia di bumi ini. Padahal hanya tempat sampah tujuan kami. Itu pun tetap tidak boleh. Apakah sampah ini mau mereka koleksi juga? Atau mau mereka jual seperti kami? Ah, entahlah. Terkadang aku pusing melihat sikap orang kaya.

Namun, tidak jarang juga ada orang yang baik. Mereka memberikan kami nasi bungkus atau pun camilan lainnya.

Mendapat penghinaan sudah biasa bagi Ayah. Dia hanya tersenyum menyikapinya. Katanya, “Bagaimana pun Tuhanlah yang berhak memandang hina manusia.”

Baca Juga  Kebutuhan Mendesak: Pendidikan Seksualitas bagi Anak

Ayah, kau begitu tegar laksana batu karang yang berkali-kali dihempas oleh ombak yang dahsyat. Namun, kautetap berdiri tegap.

Ayah, kau tahu, jika ada yang bertanya padaku siapa pahlawan yang aku kagumi? Aku dengan lantang akan menyebut namamu.

Kau pelita hidupku. Penerang kala hati ini tersesat di penyesalan yang teramat dalam. Kau senantiasa menerangi hatiku yang kerap kali menangis tanpa alasan.

Aku belajar banyak darimu. Tetap tegar walau beribu cobaan datang menghampiri. Selalu tersenyum menyikapi orang-orang yang memandang sebelah mata dirimu.

Hari ini kau pun mengajarkanku arti berbagi. Katamu, “Masih ada yang lebih susah dari kita maka dari itu jangan lupakan sedekah. Karena sedekahlah kita bisa menikmati hidup yang sebenarnya.” Aku bangga memiliki Ayah sepertimu,ayah yang penuh wibawa.

***

“Ali!” panggil Ayah. Aku yang sedang berbaring lantas menoleh ke arahnya.

“Iya, Ayah. Ada apa?” tanyaku.

“Pernah tidak kamu menyerah dan menyesal?”

“Maksud, Ayah?”

“Pernah tidak kamu menyesal menjadi anak ayah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng cepat. “Aku bangga jadi anak seorang pria paruh baya yang penuh ketulusan. Tidak ada sedikit pun penyesalan. Ayah adalah pahlawanku sampai kapan pun,” jawabku mantap.

Ayah mengangkat dan memelukku dengan lembut. “Terima kasih, Nak,” ucapnya.

Aku yang harusnya berterima kasih, Yah, memilikinya yang berjiwa besar. Selamanya aku tidak akan menyesal. Terima kasih Tuhan. Terima kasih atas semuanya.

Bagikan
Post a Comment