f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
JAhulu

Mengenal Masyarakat Jahulu (Part 1)

Oleh: Vella Rohmayani

Suasana terik begitu terasa di dusun Jahulu, desa Sumberan, kecamatan Bancar, kabupaten Tuban. Saat itu waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB pagi, namun matahari sudah begitu menyengat. Perjalanan kami pun ditemani dengan pemandangan tanah ladang yang pecah-pecah, menandakan bahwa di Jahulu ini memang jarang hujan, sehingga suasana panas dan kering begitu kental di sini.

Berawal dari pertemuan kami dengan Bapak Sarmo (93 th), saat itu beliau sedang mengembala kambing atau dalam bahasa Jawanya “angon wedus” tepat di tengah ladang yang gersang. Beliau merupakan orang asli desa Sumberan dusun Jahulu, karena memang beliau dilahirkan di Jahulu dan sejak kecil sampai sekarang beliau menetap di sini. Walaupun umur beliau sudah tua namun masih kelihatan sehat dan bugar.

Bermaksud ingin menggali data tentang masyarakat Jahulu, kamipun membuka perbincangan dengan perkenalan sederhana, sambutan hangat pun kami dapatkan dari Bapak sarmo. Sunggingan senyum sesekali terhias di wajah Bapak sarmo  yang kini mulai terpoles dengan kerutan.

Beliau memang dalam kesehariaannya selalu pergi ke ladang untuk mengembala kambing, kebiasaannya saat menggembala kambing adalah setelah kambing-kambing itu di ikat dan dikaitkan di batang kayu, maka akan dibiarkan di tengah ladang dan diawasi, terkadang kambing-kambing tersebut beliau awasi dari jarak jauh, namun terkadang juga tetap berdiam di tempat di mana beliau mengembala kambing-kambingnya, jika dirasa cukup maka kambing-kambing akan digiring pulang kembali. Seperti halnya masyarakat pada umumnya kandang ternak masyarakat Jahulu juga bertempat di sebelah rumah-rumah pemiliknya. 

Menurut keterangan yang kami dapatkan dari Bapak sarmo, di desa Sumberan ini pernah terjadi pencurian, dan hal tersebut rawan sekali terjadi, kata beliau jika kambing di ikat di tengah ladang tanpa adanya pengawasan maka akan diambil orang.

Baca Juga  80.000 Meter Persegi

Bahkan dalam waktu dekat – dekat ini telah terjadi pencurian sapi padahal sapi-sapi tersebut di letakkan di samping rumah pemiliknya, tutur beliau dengan ekspresi wajah serius. Menurut informasi yang kami peroleh dari Bapak sarmo sapi-sapi yang dicuri itu diangkut dengan truk dan dibawa lari. Oleh sebab itu para pengembala kambing tidak pernah membiarkan kambingnya di gembala di ladang tanpa adanya pengawasan, tambah Bapak sarmo.

Pak Sarmo dengan penampilannya yang khas dengan topi di kepalanya, memakai baju lengan pendek dan celana pendek, seolah mampu membuat beliau terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Suara beliau juga masih jelas walau sudah agak sedikit serak termakan oleh usia yang terus membanyangi langkah kakinya.

Beliau  juga sedikit menceritakan pengalaman pribadinya. Tak pernah terbesit di benak kami kalau sebenarnya pak Sarmo pernah menikah 4 kali dan di karuniai 5 orang anak, tapi harus digaris bawahi yang dinikahi pak sarmo bukanlah gadis namun seorang janda. “Golek istri iku gampang tapi golek jodoh iku seng angel “ tutur belaiau dengan pandangan mata jauh ke depan, seolah sedang mengenang pengalaman masa lalunya. 

Masyarakat Jahulu notabene bekerja sebagai petani dan peternak kambing dan sapi, walaupun ada sebagian yang berprofesi sebagai guru. Rata-rata masyarakat di sini memilki tanah sendiri luasnya ada yang 1 H bahkan ada yang sampai 3 H. Lahan pertanian disini biasanya ditanami cabe, jagung, gandum, padi, semangka dan kacang-kacangan.

Walaupun terkadang ada yang menanam bawang merah, terong, tomat, pisang, dan seterusnya. Namun untuk kali ini mayoritas petani menanam cabe, petani Jahulu biasanya menanam cabe di sawah dengan jarak yang dekat. Setelah tanaman cabe berumur 3 bulan maka akan di pindah ke ladang yang jarak antara tanaman satu dengan tanaman agak berjauhan.

Baca Juga  Ketupat Terakhir

Biasanya 3 bulan kemudian tanaman cabe baru siap dipanen. Jadi dalam kurun waktu 1 tahun hanya terjadi 2 kali masa panen. Hal ini berlaku untuk masa panen semua jenis tanaman di Jahulu, seperti kacang, padi, jagung, gandum, dan seterusnya.

Petani Jahulu pernah mengalami kekeringan, sehingga gagal panen terpaksa harus mereka rasakan, betapa sedih hati mereka tanaman yang lama dinanti masa berbuahnya ternyata tak ada hasil yang mereka dapat  karena kekeringan.

Kurang lebih sudah hampir 6 bulan ini di Jahulu tidak mengalami musim hujan, kemarau seolah betah untuk menetap di bumi Jahulu ini. Label panas semakin diperkuat dengan fakta yang terjadi di desa jahulu ini. Memang jahulu identik dengan panas, bahkan lahan pertanian yang begitu luas lebih dari separuh dari lahan itu adalah berupa ladang kering yang tidak ditanami apa-apa.

Bersambung…

*)Penulis adalah ibu dari 2 anak dan Dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya

Bagikan
Post a Comment