f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
julia

Yang Tak Terdefinisikan

Gadis kerudung navy itu sedang mengaduk milkshake cokelatnya ketika botol petaka berputar semakin pelan mencari mangsa. Hatinya komat-kamit merapal doa, jangan sampai tutup botol itu membuka rahasia-rahasianya. Oh! Dan jangan sampai berhenti di—

“Anggara!” seru Dean.

Innalillahi!

Angin ikut terdiam, sedang riuh ramai kemenangan menyebar ke seluruh penjuru, meski hanya ada empat manusia yang bahkan dua di antaranya tidak menyumbang suara apa pun.

“Anggara,” Dean meninggikan nada suara layaknya host professional. “Truth or Truth!”.

Permainan apa ini! Harusnya ada pilihan lain! Harusnya ada Dare! Julia yang sibuk berontak, walau hanya di bilik hati. Di depannya, yang ditanya hanya menghela nafas santai, lalu digelontorkannya milkshake cokelat ke tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.

“Itu minum aku, Angga!” Ah, Anggara lupa, ia tidak memesan minuman itu. Tapi sangat jelas makhluk mars berambut ombak bumi itu tak peduli. See? Dia malah memerkan sederet gigi berkawatnya sebagai bentuk kata maaf. Julia enggak akan marah, pikirnya.

“Yaudah cepet, apa pertanyaannya?”

“Angga, sebenernya lo sama Julia itu gimana sih?”

Dugaan Julia benar. Pertanyaan semacam ini akan keluar dan ia tak suka. Harus membahas pertanyaan yang juga ditanyakan hatinya hampir setiap hari membuat kepalanya tak pernah dingin. Ia benci pada kenyataan bahwa namanya selalu saja terbawa bersama si ombak bumi, pada kenyataan bahwa ia tak juga menemukan kata apa yang tepat untuk mendefinisikan hubungan mereka, padahal seharusnya, kata “teman” sudah cukup, kan?

“Gimana apanya? Apa sih! Aneh banget pertanyaannya,” Jawaban Anggara yang menarik kesadaran Julia—ini tak bener, ini enggak boleh dilanjutin!

“Tau! Aneh banget! Kok bawa-bawa gue, sih?”

Hayoo, Kok lo yang panik, sih, Jul?” goda Dean membuat Julia tergagap.

“Gini gini, gue perjelas ya, lo itu nganggep Julia, kayak apa? Temen, or what?” Andin menatap mangsanya tajam dan penuh selidik, seolah bisa lepas kapan saja, meski terlihat jelas Anggara sudah terperangkap dalam pertanyaan tadi.

*

Milkshake cokelat bergeser pelan dari arah barat, ditarik kembali oleh empunya. Begitu pelan agar tidak ada yang sadar keberpindahannya. Antara tidak ingin merusak suasana, tidak ingin mengganggu Anggara berpikir, atau tidak ingin terlewat satu kata pun dari jawaban pria itu. Disesapnya pelan milkshake cokelat yang kini tinggal tiga per empat.

“Oy! Buru Jawab, ah!” suara berat Dean memecah keheningan.

Anggara menghembus nafas berat. Seolah segala bebannya menemukan jalan dan kini sudah siap menyeruak keluar tak berbisa—tapi tidak dengan Julia. Ia tak siap mendengar jawaban Anggara, tidak hari ini. Firasatnya jarang keliru dan kali ini, firasat bilang jawaban si Ombak Bumi akan mengubah segalanya menjadi tidak lebih indah.

“Julia itu,” buka Anggara pelan, masih memandang objek di depannya. “Apa ya,”

Semuanya tahu bahwa pria itu belum selesai dengan kalimatnya. Anggara menghela napas, sedang yang lain mulai menahan nafas, terlebih Julia.

“Cewek paling cerewet, bawel, berisik, cengeng, lemot, panikan, dan bodoh, yang pernah gue temuin” ia mendengus dan.. tersenyum?

“Tapi anehnya, gue seneng denger omelannya dia, karena gue tahu itu cara dia peduli. Gue seneng kalau lemotnya kambuh, karena di situ gue bisa jelasin banyak hal ke dia. Gue suka liat dia lagi panik, karena gue jadi punya kesempatan bantuin dia dan,” Anggara menarik napas, “ekspresinya lucu,” tuntasnya.

“Satu-satunya yang gue enggak suka dari dia adalah,” susah payah Julia menelan sesuatu di tenggorokannya yang kering dan menunduk. “Dia bodoh,” lanjut Anggara.

Julia susah payah menelan sesuatu di tenggorokannya yang kering.

“Dia peduli sama orang lain sampe suka lupa sama dirinya sendiri, mentingin orang lain sampe sering ngorbanin dirinya sendiri, dan sibuk mencurahkan ketulusannya ke orang lain sampai enggak ada waktu buat liat orang lain yang peduliin sama dia, yang juga tulus sama dia. Dia cuma mau ngasih, tapi enggak mau mencoba menerima.”

*

Julia mengigit bibirnya pelan. Ia harus memastikan bahwa ia masih bisa merasakan sakit yang nyata, setidaknya dengan alasan yang jelas, karena ada bagian yang sakit di sudut sana tapi entah karena apa. Julia mengerti arah pembicaraan itu, tapi memilih pura-pura sebaliknya.

“Okey,” Kata Dean begitu perlahan, takut-takut menyenggol sedikit saja suasana yang bersitegang ini, “Jadi, lo nganggep dia sebagai…?” tapi Dean tetap ingin jawaban yang pasti. Bukan yang menggantung seperti sebelumnya. Julia juga sahabatnya, Julia berhak terbebas dari ketidakpastian mereka. Tapi bagaimana kalau ternyata Julia lah yang ingin semuanya tetap demikian?

Milkshake cokelat kini tak lagi bersisa. Mau tak mau Julia kembali menahan nafasnya. Hanya itu yang bisa dilakukan, karena kalau satu kata saja keluar, terbongkar sudah betapa gugupnya ia sekarang. Laki-laki di seberangnya menatap lebih dalam, mencari jawaban pada raut muka perempuan itu. Perempuan yang entah sejak kapan, namanya memenuhi pikiran.

“Gue enggak tahu,” Suaranya menyebar, tapi tidak matanya. Seolah si penanya tadi tak pernah ada, Anggara mengunci mata lawan tatapnya. Ruangan itu, hanya milik keduanya, tidak ada yang lain, tidak Dean, Andin, atau pramusaji yang sedari tadi sibuk lalu Lalang melayani perut-perut kelaparan milik tamu lain. Hanya ada Anggara dan Julia.

Tidak ingin menjadi gula yang larut dalam teh panas, atau es batu yang mencair dalam lemon tea, Julia melepas tatapan dalam hitungan kelima dengan sedikit berdehem. Sayang, lawan tatapnya sama sekali tak berniat mengubah arah pandang, seolah deheman itu tak pernah ada.

*

Andin dan Dean—yang sadar bahwa kini telah berada di lingkar luar keduanya—mengerti bahwa Anggara belum selesai dengan kalimatnya, bahwa Anggara hanya sedang mencari perasaannya. Mereka bersedia menyumbang waktu agar si Ombak Bumi mampu membeli kata yang dapat menjelaskan perasaannya.

“Dibilang temen, jauh lebih dari itu,” Kali ini Anggara yang tak lagi mampu menatap perempuan itu, karena jika itu terus berlanjut, maka memiliki Julia benar-benar akan menjadi cita-citanya. Cita-cita yang tidak mungkin—tidak boleh—ia capai.

“Dibilang sahabat, enggak sesederhana itu,” senyumnya terdispersi di udara, lalu hilang.

“Dibilang pacar, enggak kan?” dengusan pelannya terdengar, senyumnya kembali menguar, menjalar perlahan dan jatuh tepat di manik perempuan manis bernama Julia. “Aku tahu kamu enggak mau pacaran dan aku sangat dukung itu. Tetep jadi Julia yang sekarang, yang menjaga dirinya, hatinya, buat suaminya nanti, karena Allah. Aku berdoa semoga suatu hari nanti laki-laki itu juga orang menjaga dirinya buat kamu, walau mungkin orang bukan—”  lagi-lagi kalimatnya menggantung, tapi Anggara justru menelan ludahnya, menghembus sisa nafasnya, menyudahi kalimatnya.

Hanya Julia dan Allah yang tahu, betapa hatinya teremas, matanya memanas. Salah. Dari awal keduanya memang salah. Seharusnya, tidak boleh ada rasa seperti itu dalam pertemanan mereka. Yang abu-abu akan selalu membingungkan. Maju, tidak terlihat apa-apa, mundur tapi masih berharap. Julia tahu hubungan seperti itu tak ‘kan diridhai Tuhannya, tapi yang lebih dari itu pun mungkin tak direstui orang t—ah sudahlah.

*

Julia memalingkan wajahnya, lalu tersenyum, entah untuk yang mana. Mungkin untuk menghargai jawaban Anggara? atau mengakui kebodohan sikapnya selama ini? Atau mungkin untuk keduanya? Ia tak tahu pasti. Hanya saja, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Sejak saat ini, segala batas harus diperjelas.

“Ehm,” Andin rasa ia harus mengambil bagian karena kali ini kalimat terakhir Anggara benar-benar hilang kelanjutannya entah ke mana. “Saudara kalau gitu,” sedikit tertawa, berniat menetralkan suasana.

“Buk—” jawab Anggara cepat.

“Yaudah lah, harus banget ya didefinisikan kayak apanya? Toh kita kan sama-sama main bareng? Jadi ya sama aja, kita temen” iya kan? Seharusnya. Julia tahu ini saat yang tepat untuk mengakhiri. Selesai tidak selesai kalimat Anggara, percakapan ini harus selesai. Semuanya harus selesai. Biar saja menggantung. Di dunia ini, banyak hal yang memang cukup Allah saja tahu. Perasaan Anggara misalnya, juga Julia.

Bagikan
Comments
  • Nda paham bet tulisan ini tipenya romantis syariah, ah keren dah. Salam dari pejuang KKR Salman, kak.

    September 7, 2020
    • April

      Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuuh 🙂

      September 8, 2020
Post a Comment