f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
muslimah

Kopi dan Kompromi

Tito dapat melihat pesawat terakhir yang berlalu lalang di atas awan sana. Tidak ada lagi pesawat perang, apa lagi pesawat uji coba. Dibenaknya, telah tersusun ribuan tugas berat yang menanti. Seperti biasa. Sepanjang pagi buta dia bertugas melayani. Sementara dia harus berpikir dirinya sendiri.

“Aku tidak mengerti. Kenapa di atas sepi, tapi di daratan masih saja ramai?” Kata Maya membangunkan obrolan dengan Tito.

Teman seperstudinya ini memang keras kepala, memiliki ambisi, tapi tidak membuka diri. Mungkin karena karakter wilayahnya atau memang keturunan sukunya. Tapi setidaknya, Tito lebih sering berbuat. Itulah mengapa Maya mau merespon pertemanan dengan Tito. Seraya itu Maya tetaplah perempuan terbuka, berbalut kacamata dengan uluran rambut panjangnya.

Setelah semalaman hujan, matahari hari ini tidak terbit. Padahal Maya sudah menantikannya untuk menjejerkan pakaian basahnya. Setelah dua hari. Mula-mula ia berharap terang. Tapi apa daya, sekeras ia bekerja, alam lebih bekerja dengan luas. Bersenggama dengan kerikil dan kuil-kuil sekecilpun. Mungkin kalau diiringi doa, akan lain rasanya.

Beberapa bulan sebelumnya..

Kapal-kapal tidak berlayar, pendakian gunung-gunung juga di tutup, sampai bioskop-bioskop yang menjadi kesukaan Maya di kala luang juga di stop. Tersisa toko-toko sembako dan pom bensin yang masih melayani. Kekurangan pangan pun melanda penduduk di berbagai pelosok negeri. Begitulah bunyi Radio tua yang Maya dengar, sehari-hari. Dari puluhan-ratusan-hingga ribuan manusia di kabarkan bunuh diri.

“Kau ingat Gie, May?”

“Ingat, Seorang pemuda tampan yang mencintai negerinya.”

“Tau dari mana?”

“Aku menonton film, dan membaca catatannya yang berwarna merah, Menandakan perjuangan” Maya memang baru membeli kerudung merah kekinian di toko ulasan Minggu lalu. Konon, merah adalah lambang noktah perjuangan. Merah adalah kesakralan dalam setiap catatan. Merah juga melambangkan hati.

Baca Juga  Antara Kaf dan Nun

“Jadi itu yang kamu ingat?” Tukas Tito seraya meliriki tumpukan buku-buku di depannya. Bak penjual buku kiloan yang menikmati nasib. Tito memang agak kuno, di jaman yang serba serbi ini masih saja keras kepala dengan buku, Tito hanya mencintai buku. Padahal ia juga harus mencintai jurnal-jurnal, juga catatan-catatan Erdogan. Catatan-catatan Abdurahman, juga catatan-catatan para istri.

“Lho, bukan itu saja. Kau mau memulai dari mana?”

Tito memotong. “Gie pernah marah nggak, ya?”

“Gie bisa marah, tapi bukan pemarah yang baik, Gie juga pencinta, tapi bukan pecinta yang baik.” Tapi Gie orang baik, baik pembacaan dan kepekaannya. Ia menorehkankan marahnya dalam pikiran dan catatannya. Maya melanjutkan, “Kenapa kau bertanya? Kau juga tak bisa marah ya?” Tito memang seorang kamuflase yang baik, tapi dia seorang yang pasif-agresif.

“Jika situasinya seperti ini memang kamu tidak marah?” Kata Tito yang mulai mengenduskan ketidaktahuannya.

Sebulan ini, melalui koran-koran yang tersebar di Kantor Desa..

Para petinggi negara memang sedang menyayangi rakyatnya, untuk tetap berbahagia bersama gawainya. Cukup itu. Dengan upah kelas pra-kerja 600 ribu, juga bantuan bagi kategori penerima 600 ribu. Untuk satu keluarga selama sebulan. Tinggal di total saja, kalau yang tidak ikut kelas, dia hanya mendapat bantuan 600 ribu itu. Itu pun, yang diuntungkan adalah pemilik akses maya, juga bank-bank yang dikerjasamai komandonya.

Sedang.. fasilitas para komando memang tidak kekurangan, malah harus dihabiskan jatah tahunannya. Jika tidak, akan ditegur pimpinannya untuk menghabiskan. Begitu juga bangungan-bangunan yang menjulangi langit, lintasan-lintasan di tamanan kota-kota. Harus selalu di perbaharui, setiap tahunnya. Kalau tidak, nanti akan ditegur lagi. Ya memang begitu, kemajuan dan pembangunan adalah bifukrasi pimpinan yang kekurangan diksi dan kreasi.

Baca Juga  Harga Diri Negeri

Ada lagi tingkah para pembantu komando yang senang beradu kertas, mencipta konsensus-konsensusnya sendiri. Dengan logikanya sendiri, menurutnya sendiri. Nampaknya, mereka kerap berfantasi. Hal itu menandakan orang-orang yang ketakutan dan penuh kekhawatiran. Tapi lagi-lagi, kalau tidak ada bahasan konsensus maka akan ditegur sang sutradara. Paling tidak ditegur sang komando karena jatah tahunan tidak dihabiskan.

Seperti yang terjadi kemarin, saat Radio tua mengabarkan penolakan, penyerangan dari kedzaliman sebuah legasi. Bagi sang sutradara itu tak ubahnya cipta gelombang masa, agar ia dapat mendeteksi apa dan siapa yang dengan kelompok siapa. Sang sutradara selalu diuntungkan. Dari sisi mana pun.

Konsensus itu cerminan logika komando..

Kalau saja mereka tahu, pelaksana tak ubahnya budak yang dimerdekakan untuk diperpeloncokan. Yang menentukan tetap sutradara. Seharusnya, dengan potensi negeri yang ada, mereka berhak menjadi sutradara dengan mengumpulkan para produser pilihan. Mereka dapat berdiri bukan karena ketakutan.

“Sepertinya kita perlu marah, To. Ini tidak bisa dibiarkan. Tapi di sisi lain, kita harus terus membangun.”

Kemarin, Tito membaca sebuah pesan agar kita terus membangun. Utamanya membangun diri dan mempersiapkan diri. Maksudnya adalah untuk sebuah capaian dengan jangka panjang.

Kata Maya, dari orang yang sama juga terus berpesan agar kita meningkatkan diri dengan apa yang disebut intekeltual. Yang Maya pelajari dari hasil studinya selama ini, sebuah konsensus adalah hasil kesepakatan intelektual dengan setidak-tidaknya mengandung tiga hal. Pengetahuan, nilai kritis, dan komunikasi.

“Jadi kita harus marah ya dengan kejadian ini?” Tito kembali mengecoh.

“Kalau aku harus, Kau gimana?” Sambil melipat-lipat kerudung merahnya, Maya melanjutkan, “Bayangin ya To, kalau kita nggak marah!”

“Kalau kita nggak marah, semuanya akan baik-baik saja kok, tetap akan ada yang marah. Tetap ada yang diuntungkan”.

Baca Juga  Gulana

***

Bagikan
Post a Comment