Lagu Tidur

8 menit baca
Teks:
WhatsApp

Harus kamu ketahui, suara yang selalu bernyanyi nina bobo atau tak lelo, lelo lelo ledung itu adalah lagu terindah sedunia. Karena tidak seperti aku, kamu selalu pandai menyembunyikan jatuh cinta. Sedang aku, pandai merawat luka.

***

Pagi itu, langit sedang tidak pandai menunjukkan lukisnya. Langitnya memang cerah, tapi mengandung gumpalan awan yang mendung. Satu rumah, dengan delapan kepala hari itu sedang menikmati sesuap kehangatan dari sisa-sisa makanan semalam. Ditemani enam gelas teh celup aroma melati, satu gelas kopi, satu gelas air putih. Tidak ada yang mendengar kicauan burung apalagi ayam-ayam yang menyapa. Hanya helaan nafas masing-masing manusia di dalamnya.

Rumah itu dihuni manusia yang bernama Abah, Ibuk, Kak Eliana, Kak Amelia, Kak Burlian, Pukat, Nurmas dan Soke. Kak Eliana, si anak cemerlang. Duduk di depan televisi, bersama Amelia si anak pemberani, Burlian si anak baik hatinya, Pukat si anak Misterius, dan Nurmas si anak cerdik.

Semuanya diam, menikmati percakapan dengan mata yang sesekali berpapasan. Hingga ketika TV menayangkan kisah seru dari petualangan Sailor Moon beserta teman-temannya. Mereka berulang kali bernyanyi, menghafalkan nada ding ding dong, kemudian membentuk formasi layaknya sang pretty guardian ituhendak beraksi. Satu menit kemudian berteriak,“Menegakkan segala kebenaran, ini keajaiban alam.” Abah yang tengah memperbaiki meja tersenyum mendengarnya.

Soke masih tertidur, terlampau nyenyak menikmati mimpi yang entah ke mana perginya, atau bagaimana akhirnya. Karena anak laki-laki itu tidak tahu mengapa harus ada mimpi, jika hidup di dunia nyata jauh lebih indah. Barangkali, ketika tidur menghadap kanan, Ia berkelana menuju masa lalu, agar tidak bisa ditemukan. Atau ketika menghadap kiri, Ia berkelana ke masa depan, membawa mimpi yang selalu ia tulis pada halaman terakhir buku sekolahnya, sembari melambai mengucapkan terima kasih dan maaf bagi diri sendiri.

Tidak ada remahan yang manis selain kehadiran dan jawaban iya dari ibuk tiap kali dipanggil. Suatu waktu, ibuk pernah bercerita.  Akan tiba padamu, hari yang tidak pernah kamu damba, kemudian datang satu senyum saja, yang membuatmu jatuh cinta untuk selalu menyadari bahwa hidup ini layak dipertaruhkan. Tapi menurutku, tidak akan ada yang bisa mengalahkan jatuh cinta pada senyum ibuk.

Di bawah payung matahari pagi, ibuk duduk cantik di teras belakang rumah. Manik matanya tiada henti menyaksikan ayam, yang berlenggak-lenggok. Beradu suara, seperti tengah menceritakan bahwa ayam adalah makhluk paling keren di seluruh semesta. Tanpa memperdulikan gundukan tai-tainya, yang  hampir memenuhi pekarangan rumah. Sungguh tidak tahu diuntung.

Sesekali ibuk menoleh ke ruang televisi, dan ibuk hanya tersenyum. Mengutarakan ibuk sayang kalian melalui matanya.

Kak Eliana berteriak kecil, mencoba membangunkan Soke dari mimpi jauhnya. Soke terbangun, membawa pulang pelukan dari berjelajah. Beranjak dari tempat tidur sembari mengusap pelan mata nyalangnya. Melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Dan berjumpa dengan kakak-kakanya. Menyusul Eliana, Amelia, Burlian, Pukat, dan Nurmas. Kelimanya telah tuntas menyelesaikan ibadah makan. Soke masih terduduk, mengumpulkan kepingan nyawa demi nyawa. Menghela nafas panjang, lalu tersenyum. “Buuuuk, pengen maem,” Ucap Soke. Ibuk dengan senyum yang memerah menatap laki-laki keriwil itu. Ibuk menjawab, bahwa makanan sudah tersedia di meja makan, sepaket harum masakan idola Soke.

Tapi anehnya, Soke tidak bisa mendengar apa yang Ibuk ucapkan. Soke mengulang keinginannya,“Buuuuk, pengen maem”. Ibuk pun mengulang jawaban yang sama, makanan sudah tersedia rapi di meja makan. Anehnya lagi, Soke tidak bisa mendengar suara Ibuk.

Satu detik, dua detik, tiga detik. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Soke mencoba menelaah kejadian yang baru saja terjadi. Ia menelan air liurnya. Kembali bertanya, untuk yang ketiga kalinya. Dengan tangan yang basah kuyup, tergenggam oleh kepanikan hingga ubun-ubun. Tengkuknya sudah hendak tenggelam menahan tangis. Soke menghela nafas sebelum bertanya kembali, “Buuuuk, pengen maem,”. Dan, Ibuk memang mengulang jawaban yang sama, dengan senyum yang sama, dengan Ibuk yang sama.

Bedanya, hanya Soke yang tidak mendengar suara Ibuk. Ibuk berkata lagi, bercakap cukup panjang. Sedang Soke, Ia hanya bisa melihat, tidak bisa mendengar. Soke berusaha mengumpulkan kata demi kata yang sudah Ibuk ucapkan, Soke termenung. Telinganya berdenyit sejenak, seperti ada malaikat yang sedang bernyanyi sampai jumpa di dalamnya.

Masih dengan usahanya, Soke mengguncangkan tubuh Kakak-kakaknya, kemudian bertanya dengan harap-harap cemas,“Mbak, tahu Ibuk ngomong apa nda?”. Kak Eliana menjawab, “Ibuk ngomong, kalo makanannya sudah ada di meja Soke”. Soke tertegun tak percaya, sekali lagi.

Jantung Soke seperti dihantam bongkahan batu besar. Ia mencoba memasangkan teka-teki yang baru saja Ia dapati, apakah betul Soke yang tidak lagi bisa mendengar, atau suara Ibuk yang tidak lagi bisa diterima telinga Soke?.

Untuk memastikan, Soke bertanya pada keempat kakak lainnya. Hasilnya sama, kelima kakaknya pun tahu dan mendengar apa yang Ibuk sampaikan. Soke diam, kedua matanya menatap Ibuk lekat-lekat. Sambil terduduk, Soke memeluk lutut. Kak Eliana, Kak Amelia, Kak Burlian, dan Kak Nurmas kembali menonton TV, tanpa mengerti apa yang sudah Soke alami.

Isi kepalanya berputar-putar, mencari jalan keluar. Tapi nihil, Soke justru tersesat, tidak ada jalan lagi. Anak laki-laki itu berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Dari sebelum Ia tidur, bermimpi, terbangun.

Hampir satu jam berlalu, bagi Soke. Yang sedari tadi, tiada habisnya mencari jalan keluar. Iya, Soke tengah terperangkap dalam ingatan yang bukan miliknya. Sama sekali tidak Ia temui kembang api dari hati delapan manusia itu. Soke pun seperti pulang dan tidur bukan pada manusia satu darahnya.

Akhirnya, Soke menyadari, Ia sendiri. Ia hilang. Ia cemas. Dan Ia menangis.

Seperti menciptakan pilu untuk dirinya sendiri, Soke menangis kencang, air matanya meluncur rapi dari kedua matanya. Sambil menekan dadanya agar gemuruhnya tak tumpah terlalu lama. Ia seolah tahu betul mula dan ujung dari ketidak tahuan ini. Laki-laki dengan rambut kriwil seperti Ibunya itu diam. Perlahan, Soke samarkan rona Ibuk, Abah, dan Kakak-kakaknya. Dalam dekap, Soke memohon sangat pada Tuhan agar terbangun. Dari mimpi yang salah, dengan harapan bahwa semua ini bukanlah hal nyata.

Ibuk mengulum senyum berulang kali pada Abah, Eliana, Amelia, Burlian, dan Nurmas. Pada Soke, Ibuk datang. Terduduk menatap Soke. Memberikan lengan kuatnya untuk memeluk Soke, erat dan akan semakin erat. Membenamkan tangis Soke yang berulang kali terisak itu. Sesekali Ibu berkata, anakku hebat, anakku hebat, menangislah dan sampaikan. Ibuk akan selalu menerimamu. Tapi lagi dan lagi, Soke tidak bisa mendengarnya.

Dalam sepersikan tangis dan peluk, akhirnya Soke katakan, Ibuuuk, kenapa Soke tidak bisa mendengar suara Ibuk. Hanya suara Ibuk yang tidak bisa Soke dengar.

Ibuk diam, mengusap tangis Soke. Jari jemari Ibuk mulai memainkan kasih sayangnya pada seluruh wajah Soke. Disapunya dengan penuh kerinduan dan rapalan doa.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Soke memandang Ibuk. Manik mata Ibuk tidak lagi sama, ada jalan panjang yang membentang di dalamnya, doa dan selamat tinggal. Tangan renta Ibuk merapikan rambut Soke. Anak laki-laki satu-satunya itu adalah permata sepanjang masa. Alisnya yang selalu hitam, rambutnya yang berkelok-kelok, dengan sedikit kumis di atas bibirnya.

Soke diam, tapi air matanya masih ramai berlari. Berulang kali sesenggukan. Ibuk berusaha menenangkan nafas tidak berarah Soke dari tadi, menuntun perlahan ke mana Soke harus bermuara. Detak jantung Soke berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Dan Ibuk mendengar itu. Sebuah bahasa dari hati ke hati.

Di luar rumah, langit beserta birunya menari-nari untuk Soke. Satu tahun penuh menari, hanya untuk Soke. Meski Soke tidak pernah menyadarinya.

Sambil menopang pundak, beriring hembusan nafas Ibuk yang kian berat. Soke mulai paham. Tujuh pasang mata menatap Soke lakat-lakat, seolah ingin melahap si tangguh dengan pelukan dan kasih sayang yang tidak ada habisnya. Sebut Soke si Anak Malang jika Ia tidak mengaku bahwa Ia tidak baik-baik saja.

Sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan Soke. Ibuk mencium pelan kepala Soke. Memberikan jawaban dari segala pertanyaan, memberikan kehangatan dari setiap luka kehilangan. Dan memberikan terima kasih untuk seluruh Soke yang kuat.

Sambil menggenggam kedua tangan Soke. Ibuk berkata,

Soke, anak Ibuk. Terima kasih sudah menjadi anak yang hebat hingga hari ini. Berjanjilah untuk terus hidup dan bertahan. Lalu berjumpa di jalan panjang yang tidak ada luka atau pun sedih di dalamnya.

Sebelum melepas peluk yang entah akan pergi pada dunia yang mana. Soke berkata lirih, Ibuk, inginku tidak banyak, semoga setelah ini Soke kembali lahir sebagai anak kecil yang berumur 2 tahun. Terima kasih telah memberikan Soke nafas.

Entah bagaimana akhirnya.

Lagi, Ibuk memeluk Soke erat-erat, membawanya sekali lagi dalam dekapan yang harum surgaNya sepanjang hayat. Begitu juga kelima kakaknya, kemudian menanam senyum selamanya dan melambai. Abah pun sama. Selamat berjuang Soke. Yakini, kita pasti berjumpa.

***

Pukat terbangun dari tidur, terapit kedua adiknya, Soke dan Nurmas.

Terdengar Soke berucap dengan mata yang masih terkantuk,

Mbaaak, aku sudah lupa caranya menangis.

Pukat tercekat. Dadanya sesak menahan tangis, suaranya menggantung di tenggorokan. Perempuan itu berusaha menutup matanya kembali. Berharap segera terbangun. Terlahir dalam hidup yang baik-baik saja. Pada waktu yang indah, ketika segalanya masih bisa digenggam. Bernapas dengan sempurna setelah di masa depan, Pukat harus merasa sesak, sebab hidupnya telah hilang.

Hingga hari ini untuk selamanya, Pukat ingin bercerita bagaimana sekarang Ia amat pandai merawat luka dan sabar menunggu perjumpaan. Bahwa untuk selamanya, Pukat sudah terlatih berlari menuju surga. Sembari membawa sepiring kebahagiaan yang tidak akan habis dibagi-bagi.

Pukat tersiksa, Ia menangis tak karuan. Menenggelamkan Soke dan Nurmas dalam pelukan.

Ibuk, maafkan aku yang masih rajin menangis. Mencari dengan harap, Ibuk memanggilku di sepanjang hari. Merindu teduhnya dua pasang mata yang menanti cerita. Berdebat panjang jangan minum teh tapi air putih. Maafkan aku yang kerap kali terduduk diam untuk menatap foto, kamar, almari, kursi, meja, dan segalanya milik Ibuk. Tolong, kabulkan permintaanku satu ini saja. Pulanglah sejenak, kursi hijau kecintaan masih sama saat Ibuk pergi berkelana.

Pukat terlelap. Tanpa ingin mengingat apa-apa, selain suara Ibuk yang berlalu lalang.

3 thoughts on “Lagu Tidur”

Leave a Comment