f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mbah rejo

Bambu Mbah Rejo

Siang cukup terik ketika Mbah Rejo selesai merapikan bambu-bambu dagangannya. Jari jemarinya masih terampil mengikat bambu-bambu kecil panjang 10 batang tiap ikatnya. Meski usianya merangkak senja, masih terlihat sisa-sisa kegagahan tubuhnya di kala muda. Postur tinggi, dada bidang, dan rambut rapi disisir ke belakang seakan mengingatkan gaya rambut para pria tampan tempo dulu.

Ikat pinggang sedikit lebar tak lepas dari pinggangnya yang biasa-biasa saja tidak gendut dan tidak ramping saat memakai celana maupun sarung. Kaos oblong yang berwarna putih tulang masih melekat di tubuhnya dalam kondisi setengah basah. Dari pelipisnya tampak keringat bening menganak sungai membasahi pipinya yang sedikit cekung sehingga tampak tulang rahangnya dengan jelas.

Konon semasa muda Mbah Rejo merupakan jawara di kampung sebelah. Meski jawara dia juga terkenal sebagai pemuda sederhana yang paling santun dibanding pemuda-pemuda yang lain. Mbah Minah, istrinya, adalah primadona desa. Sungguh pasangan ideal pada saat itu. Tak terbayang sebelumnya, berapa pesaing yang harus mundur teratur untuk mendapatkan sang primadona.

Di halaman rumahnya yang sederhana dan asri dia menggelar dagangannya setiap hari. Dari bambu ukuran kecil panjang untuk umbul-umbul, ukuran besar penyangga baliho hingga bambu-bambu yang dipakai untuk penyangga cor ketika bikin rumah.

Saat orang-orang ramai pasang baliho, bambu Mbah Rejo laris manis dan ketika kehabisan dia bisa mengambil lagi, menebang lagi di kebun belakang rumah. Hanya di saat-saat tertentu Mbah Rejo mengambil bambu dari kampung lain jika jenis bambu yang dicari pelanggan tak ada di kebunnya.

Kebun bambu turun temurun itu telah mengantar Sigit, putra semata wayangnya menjadi sarjana. Kini Sigit sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di kota dan telah memberinya seorang cucu lelaki mungil yang lucu. Cucu inilah yang kini menjadi penyemangatnya dalam berjualan bambu karena dia berharap masih diberi banyak waktu untuk menikmati hidup bersama anak dan cucu.

Baca Juga  Bangkit dari Kegagalan dengan Menulis

Mbah Rejo terkenal baik hati, pemurah dan suka menolong. Tak jarang jika ada tetangga yang membutuhkan bambu dan tidak mampu membeli, Mbah Rejo dengan sukarela memberi.

Kebaikan hatinya kadang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ada yang beli bambu duitnya kurang dan pura-pura lupa. Namun, sebaliknya ada pula yang memborong bambunya dalam jumlah besar dan tak mau uang kembalian.

Mbah Rejo tak pernah ngoyo dalam bekerja. Dia sangat percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur dan tak akan tertukar. Jika ada yg menipu atau merugikannya, cukup ia serahkan pada yang di atas.

Tiga hari berturut-turut Mbah Rejo kehilangan beberapa ikat bambu kecil yang khusus untuk memasang umbul-umbul. Tak seorangpun tahu siapa yang tega mencuri bambu orang tua polos itu. Bahkan yang terakhir tak hanya kemalingan tetapi dirampok tiga orang tak dikenal. Mereka memakai kacamata hitam dan bermasker sehingga Mbah Rejo tak mengenali wajahnya.

Para perampok itu datang tengah malam menggedor pintu sambil memanggil nama Mbah Rejo berulangkali. Sembari membawa belati untuk mengancam, mereka minta beberapa bambu dengan paksa. Sebenarnya Mbah Rejo tak gentar dengan gertakan mereka. Dia masih bisa menahan keinginannya untuk menghajar para begundal dengan ilmu kanuragan yang ia miliki. Hanya karena mengkhawatirkan keselamatan Mbah Minah, dia memilih mengalah.

Dia persilakan para perampok mengambil bambu sesukanya. Secepat kilat ikatan bambu-bambu itu telah berpindah ke bak mobil yang sudah siap di dekat lokasi. Dia amati satu per satu para pelaku dari ujung rambut hingga kaki dengan kecerdasan batinnya. Salah satu pelaku yang membawa belati tampak gemetar tangannya saat sadar Mbah Rejo memandangnya dengan tajam. Semua ciri-ciri pelaku sudah terekam rapi di memorinya.

Baca Juga  Barzanji

Usai kejadian Mbah Minah tak mampu memejamkan mata barang semenit pun malam itu. Dia khawatir akan keselamatan suami tercinta. Dia juga khawatir sesuatu yang tak diinginkan bakal terjadi. Dan dia menyayangkan; minta bambu dengan cara baik-baik tentu akan diberi dan tak perlu dengan cara merampok.

“Malam telah larut, sebaiknya tidur saja. Jangan sampai vertigomu kambuh lagi,” saran Mbah Rejo kepada istrinya.

Tanpa berkata-kata, Mbah Minah menuju kamar, tetapi hatinya gundah gulana. Mbah Rejo hanya bisa duduk di ruang tamu menenangkan diri. Tak masalah kehilangan bambu, tetapi dia ingin tahu siapa sebenarnya para tamu tidak sopan tersebut.

*

Azan subuh sudah berkumandang dari masjid kampung sebelah. Bergegas Mbah Rejo menuju musala dekat rumah. Saat membuka pintu dia terkejut tak terkira. Sesosok tubuh dengan wajah yang sangat ia kenal sudah terbujur kaku di halaman rumahnya. Dia ragu antara mau ke masjid salat subuh dulu atau lapor ke Pak RT. Untuk meyakinkan bahwa sosok itu telah mati atau belum, Mbah Rejo hanya meraba dada sosok tersebut barangkali masih ada denyut, lalu mundur.

Ya, mayat tersebut bernama Ribut, pemuda kampung yang terkenal sering membuat keributan. Apalagi ketika ada pesta pernikahan yang menggelar panggung dangdut. Seolah tak akan ada cerita tanpa peran Ribut di sana. Mungkin karena terlalu sering bikin onar yang semula bernama Robin akhirnya lebih di kenal dengan nama Ribut.

Mbah Rejo menghela nafas sedikit lega. Tanda tanya besar yang ia simpan beberapa hari ini, terjawab dengan jelas tanpa keraguan sedikitpun. Sebuah subang bermata merah ada di telinga kiri sosok yang kini tergeletak di hadapannya. Inilah yang sempat direkam oleh kamera batin Mbah Rejo. Kali ini tangannya sudah tak mampu gemetar karena kaku dan tidak ada belati lagi di sana.

Bagikan
Comments
  • Wiendy

    Ditunggu cerita selanjutnya, sangat menginspirasi

    November 19, 2024
  • Wurry Srie

    Terima kasih🙏

    November 22, 2024
Post a Comment