f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kupu-kupu

Kupu-Kupu di Jendela Kaca

Kupu-kupu itu diam di jendela kaca sepulang ku kunjungi pusaramu. Sesekali ia terbang mencari jalan keluar, namun tak ia temukan. Katamu, kalau kupu-kupu memasuki rumah dan hinggap di jendela, itu artinya seorang tamu datang dari masalalu. Entah mengapa aku yakin, kupu-kupu itu adalah dirimu. Kaudatang dengan rupa seekor kupu-kupu. Kuyakin kaudatang untuk melihatku, melihatku menggantikan posisimu, menjadi seorang ibu.

Aku ingat ketika dulu kita tinggal di gubuk berdinding bambu itu. Tiap hari kita makan ubi yang kaudapat dari upah membantu tetangga panen di kebunnya. Kau kukus ubi kayu itu, menghidangkan di atas piring yang kau letak di lantai tanah beralaskan tikar buatan tanganmu sendiri. Kamu bilang tak lapar ketika potongan terakhir tersisa di piring setelah semua berebutan memungutnya. Kau sisakan untukku. Tapi, aku tahu, kau menahan perih di perutmu karena belum terisi sejak pagi.

Ayah di kemudian hari membawa beberapa ekor ikan yang ia dapat dari merogoh di parit dekat sawah. Ibu cincang-cincang ikan gabus itu menjadi beberapa potong. Ibu goreng dengan sambal yang aromanya menyengat hidung. Aku ingat ibu bilang, suka bagian kepalanya. Tapi tidak. Tidak. Kau bilang itu agar kami mendapat bagian tengah dan ekor ikan yang banyak dagingnya. Kau, rela menghisap tulang dan duri ikan bagian kepala itu.

Begitu pula saat ayah membawa seekor ayam hutan hasil buruannya. Kau bilang, tak suka daging ayam. Lagi-lagi karena kau biarkan kami menghabiskan daging ayam itu. Kau sendiri menahan hawa, menahan keinginanmu. Untuk kami. Untuk tawa-tawa di ruang gubuk yang reot itu. Tapi bukan tawamu.

*****

Suatu hari aku jatuh sakit. Panas keningku seperti dipanggang. Resah tidurku karena terbangun di sepanjang malam. Kau duduk menaruh kain yang kau celupkan ke air hangat itu di keningku sambil bersenandung salawat. Kau bilang kemudian, “Tidurlah. Tidurlah. Tidur yang nyenyak. Ibu tidak mengantuk. Kau, tidurlah.”

Namun kulirik dengan setengah sadar matamu terpejam-pejam menahan kantuk yang begitu kuat. Tertunduk-tunduk kepalamu. Kau tegakkan lagi dengan cepat. Kau kemudian bernyanyi lirih. Suara yang perlahan menghilang dalam setengah tidurmu, namun kau terus berusaha bernyanyi lagi kemudian. Lagu itu, lagu yang tak akan pernah indah jika dinyanyikan penyanyi terhebat dengan suara paling merdu sekalipun. Lagu yang indah hanya jika kau yang menyanyikannya.

Baca Juga  Lewat Tengah Malam (Bagian 1)

Kaubawa aku terbang. Kita mengadu nasib di perantauan dan membabat hutan. Kau jadikan hutan itu sawah. Menghidupi kami dengan sawah itu. Kau sekolahkan aku pula dengan sawah itu, yang kemudian kau ganti padi dengan pohon-pohon sawit. Dengan hasil buah sawit itu kau berhasil menguliahkanku hingga aku diwisuda sebagai lulusan terbaik. Aku yang bungsu, satu-satunya anakmu yang mengenyam pendidikan tinggi.

Hingga aku berhasil mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan sejuta-dua per bulan. Kukumpulkan itu sedikit-sedikit, agar bisa kukirimkan padamu. Aku ingin sekali berbakti dengan memberimu sedikit rezeki yang kuhasilkan dari keringatku sendiri, dari hasil pendidikanku berkat keringatmu di sawah lalu dan di kebun sawit.

*****

“Mbok masih punya banyak uang, Nduk. Simpan saja untuk tabunganmu.” Katamu, menolak kirimanku. Aku tau, uangmu tak sebanyak itu.

Sedikit demi sedikit kausisihkan uang sisa panen sawit untuk tabungan hajimu. Kuantarkan kau dan Ayah mencicil sedikit demi sedikit di rekening bank. Ada pelangi di matamu setiap melihat brosur bergambar ka’bah itu. Matamu kemudian basah. Mungkin kaubayangkan dapat berdiri di sekliling orang-orang berbaju putih memutari bangunan kubus itu. Kau ucapkan kalimat labbaikallahumma labbaik. Bersama ribuan orang lainnya. Kau tepis lagi ketika kusodorkan segepok uang merah yang kubungkus amplop cokelat.

“Untuk pesta pernikahanmu nanti.” tolakmu.

Mataku ikut basah, hidungku sembab, tak kuasa aku menahan sekerling air yang menetes di ujung kelopak mata. Cepat-cepat kuusap itu.

Hingga saatnya aku menikah. Kau sibuk mempersiapkan semua itu dan selalu khawatir, kalau-kalau semua tak berjalan lancar, melebihi khawatirmu terhadap dirimu sendiri. Dirimu tak biarkan aku letih, sebagai gantinya, dikau yang berletih-letih. Bahkan, kau cucikan bajuku lagi yang menumpuk di keranjang.

“Calon manten jangan capek.” tukasmu.

“Tapi nanti ibu yang capek, lho.”

“Ah, Ibu sudah biasa.”

Selalu kau jawab itu. Selalu kau jawab, sudah biasa, sudah tak terasa, atau apalah itu apapun yang membuatmu terus memanjakanku. Bagimu, aku masih gadis kecil yang selalu kautuntun, selalu kau giring, selalu kau kerjakan keperluannya.

“Aku sudah dewasa.”

“Halah. Kau masih gadisku.”

Baca Juga  Kemampuan Metafisika Bayi
*****

Hingga kau terbaring di rumah sakit itu. Kanker payudara ternyata telah lama bersarang dan kau harus segera dioperasi. Segenggaman dua tangan daging di bagian payudaramu harus dibuang dokter karena kanker itu telah mulai menyebar. Kau masih kuat berjalan. Rambutmu pun kemudian jatuh satu per satu saat kemoterapi. Hingga rambutmu tiada bersisa, kepalamu menjadi tandus. Dirimu tetap berupaya untuk hidup seperti biasa, seperti tiada keluh kesah dan rasa sakit yang menderamu. Sembari minum jamu, obat tradisional, dan ramuan yang pahit-pahit itu setiap hari. Kau hanya makan sekedar saja tanpa rasa bumbu-bumbu. Hingga gaya hidupmu itu berhasil mengusir kanker di tubuhmu. Kau berhasil. Kau sembuh. Dan kau bilang, kau tidak apa-apa, kau sudah biasa, rasa sakit itu tidak samasekali menyakitimu.

Kau tunaikan akhirnya umrah dan haji itu setelah sekian lama tabungan terkumpul. Kau pergi tanpa pendampingmu. Karena Ayah telah mendahuluimu, mendahului kita. Tak terpikir apapun saat kau kembali kecuali sekoper oleh-oleh yang kaubagikan ke kami, anak-cucumu. Bersinar matamu saat bercerita masjidil haram, orang-orang berbaju putih, melempar jumrah, dan lari-lari kecil antara dua bukit itu. Namun lebih bersinar lagi saat kau keluarkan air zamzam itu, kau tuangkan ke gelas dan kau sodorkan satu per satu untuk kami.

“Ini. Minumlah. Minum. Ibu sudah puas minum ini disana.” suruhmu lagi.

*****

Ibu, aku tau kau berbohong selama ini. Diau bohong saat kau bilang kau tidak lapar ketika ubi kayu itu tak cukup untuk makan kita semua, sehingga kau yang berkorban demi kami agar kami kenyang. Juga bohong saat kau bilang kau suka kepala ikan, agar kami dapat menikmati daging empuk bagian tengah ikan itu. Terlebih bohong saat kau bilang kau tidak mengantuk kala menjagaku saat aku sakit dan sulit tidur di malam hari. Kau bohong saat kaubilang suka tidur di lantai karena kasur terlalu panas, padahal kau ingin agar kami dapat tidur nyenyak di kasur yang empuk. Aku tau kau juga  bohong saat ku ingin memberimu tabungan gajiku, kau bilang punya banyak uang, padahal sedikit demi sedikit kau sisakan lama sekali agar bisa umrah dan haji.

Baca Juga  Urgensi Perempuan Muslim dalam Literasi Digital

Ibu, selama ini kau berbohong. Termasuk hari itu, Ibu. Hari dimana kau ingin tidur setelah subuh itu sambil menunggu dhuha. Kau ingin tidur sebentar saja, katamu. Hingga kugoyang-goyang tubuhmu saat matahari mulai menyinari dunia. Kau tak pernah bangun lagi.

Kupu-kupu itu masih terjebak di jendela kaca. Aku meninggalkannya begitu saja, menemui anak-anakku, Najwa dan Nuha yang sedari tadi memanggil-manggilku di belakang. Aku kemudian duduk di ruang makan saat anak-anakku menghambur ke ruang depan. Tempat itu bersejarah sekali. Di meja makan itu kau menyuapiku sebelum aku berangkat sekolah dulu. Kulihat bayanganmu yang dulu sedang duduk di kursi itu, di meja makan itu. Kau angkat sendok dan kau sodorkan ke mulutku sambil berkata, “A’aam. Ayo pesawatnya mau terbang, iya, terus masuk ke mulut, iya, am am am, nyam, nyam.” candamu waktu itu sambil menyuapiku.

*****

Dua anakku tiba-tiba memanggil-manggilku. Menyeretku dengan menarik-narik bajuku.

“Buk. Ada Mbah, itu di depan ada Mbah.”

Buyar lamunanku tentangmu. Aku tak hirau. Anak kecil memang memiliki khayalan yang tinggi. Mungkin mereka juga ingin bertemu kau, Ibu. Cucu-cucumu itu ingin kau peluk dan kau goda lagi. Hingga mereka begitu ngotot menarik bajuku, mengajak ke depan, ruang tamu.

“Iya. Iya. Yuk, ke depan.” kataku menuruti Najwa. Aku lantas menggandeng tangan Najwa dan menggendong Nuha berjalan ke depan.

“Buk. Disitu. ” Najwa yang baru bisa bicara itu menunjuk-nunjuk arah kursi, yang di belakang kursi itu ada kupu-kupu yang masih terjebak di jendela kaca.

“Disitu Mbah tadi, Buk, disitu lho. Najwa lihat Mbah duduk situ, Buk.”

Aku terksesiap. Mana mungkin anak sekecil Najwa bisa berbohong, apa gunanya. Tapi mana mungkin ada Ibu duduk di kursi itu. Ibu sudah meninggal sebulan lalu. Akhirnya kutangkap lembut kupu-kupu itu, kulepaskan ia lewat pintu. Ia terbang menjauh.

“Daadaa, Embah, dada.” Najwa melambai-lambaikan tangannya. Rindu pada Ibu semakin tak tertanggungkan.

Note: Persembahan untuk tiga perempuan yang pernah dan sedang jadi Ibu. Mbahku Tina, Ibuku Siti Jamilah, dan Bibik Siti Maryam. Selamat hari Ibu!

Bagikan
Post a Comment