f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mimpi

Asa Tanpa Batas

Putus sudah masa depanku, sama halnya dengan sekolahku. Buku dan pena tak lagi bersamaku, canda tawa dengan teman tak mungkin kurasakan lagi. Nikmatnya membaca dan mendengarkan materi guru mungkin hanya akan menjadi angan belaka. Namun, aku masih ingin bermimpi, mimpi menjadi seorang dokter ternama. Akankah mimpi itu mampu kuwujudkan, aku harus berjuang lebih keras agar buku dan pena kembali bersamaku.

Semenjak aku tak sekolah, aku bertekad menjadi loper koran untuk menabung agar bisa bersua dengan buku dan pena. Terik matahari semakin meninggi, panasnya seolah menusuk tulang-tulangku. Namun aku tetap berdiri di lampu merah sembari menawarkan koran dari mobil ke mobil. Rutinitasku di siang hari hampir selalu seperti ini, melawan teriknya matahari demi rupiah untuk membeli sesuap nasi dan membantu meringankan beban kedua orang tuaku.

***

“Koran…..koran, Pak. Korannya Pak, mari silahkan dibeli Pak”.

Teriakku sambil berjalan mondar-mandir menawarkan koran. Pekerjaan seperti ini sangat beresiko untuk keselamatanku, namun aku harus tetap bekerja demi keluargaku.

Saat aku berjualan tak jarang aku bertemu dengan teman-temanku yang saat ini masih bersekolah, mereka selalu menertawakanku. Mereka bilang aku ini hanyalah seorang pemimpi besar yang tak mungkin dapat mewujudkan impian. Siang itu, jam saat pulang sekolah mereka melalui lampu merah dan mendekatiku.

“Jadi kamu saat ini berjualan koran, kalau hanya berjualan koran saja mana mungkin kamu menjadi seorang dokter. Jangan mimpi ketinggian deh… hahahaha”.

Selalu saja kalimat itu terdengar di telingaku, sakit hati ini namun tak membuatku putus asa. Justru aku merasa semakin semangat dan ingin kutunjukkan pada mereka bahwa aku bisa.

Hari menjelang sore, mataharipun mulai bersembunyi, aku bergegas pulang ke rumah. Mendung terlihat gelap dan tetesan air membasahi tubuhku, kukayuh sepeda tuaku dengan cepat agar aku segera sampai rumah. Tak lama kemudian sampailah aku di gubuk tua di tengah hutan kuketuk pintu rumahku.

“Tok….tok….tok, Assalamu’alaikum Pak, Bu”.

Pintu terbuka dengan lebar dan terlihat wajah sayu-sayu disertai kerutan di wajahnya, dia adalah ibuku.

“Wa’alaykumussalam Alhamdulillah, Nak kamu sudah pulang dari tadi ibu sangat cemas menantimu, hujan sangat lebat dan disertai petir kamu tidak apa-apa kan, Nak?”. 

“Alhamdulillah Bu, Dion baik-baik saja, Ibu tak perlu terlalu cemas memikirkanku, yang terpenting doakan Dion Bu”.

“Tanpa kau minta Ibu selalu mendoakanmu, Nak maafkan ibu yang tak bisa membuatmu bahagia dan tak bisa membiayaimu lagi untuk bersekolah”.

“Sudahlah Bu, tak perlu minta maaf suatu saat nanti Dion pasti bisa bersekolah”.

Baca Juga  Naik Haji

Sembari ngobrol Bu Santi mengajak Dion untuk masuk ke dalam rumah dan membuatkan teh hangat serta menyajikan makan untuknya.

“Ayo Nak, masuklah ke dalam rumah, udara di luar sangat dingin dan bergegaslah untuk ganti baju agar kamu tidak sakit, biar Ibu siapkan makan untukmu, pasti kau sangat lelah dan lapar”.

***

Ku langkahkan kaki ini masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar untuk mengeringkan badan. Tak lama kemudian Bu Santi memanggil Dion untuk segera menuju meja makan.

“Dion kemarilah, Nak makanan sudah siap”.

Dari kejauhan Dion menyaut ucapan Ibu

“Iya, Bu sebentar. Dion segera ke sana”.

Aku keluar dari kamar dan menuju meja makan, dengan penuh rasa syukur aku segera makan hidangan yang sudah disiapkan oleh Ibu. Dalam hati aku bertanya-tanya tentang keberadaan Bapak. Karena sejak tadi aku tak melihat Bapak. Aku langsung bertanya kepada Ibu.

“Bu, Bapak ke mana, kok nggak ada di rumah?”.

 Bu Santi menjawab dengan santai dan tenang.

“Bapakmu sejak tadi pagi pamit untuk pergi mencari kerja, Nak”.

 Dion kembali bertanya…….

“Bukankah Bapak masih sakit Bu?”.

“Iya, tetapi Bapakmu tetap saja ingin mencari pekerjaan, Bapak ingin kamu sekolah lagi, Nak”.

 Aku bergegas menuju kamar untuk istirahat, namun aku tak bisa memejamkan mata. Meski badan lelah namun hatiku bergejolak untuk memikirkan bagaimana agar aku mampu kembali bersua dengan buku dan pena yang tak lagi bersamaku. Malam semakin larut, angin berembus menembus pori-pori kulitku. Aku masih tertidur lelap di dalam ruangan sempit berdinding kayu berdebu.

***

Embun pagi hari semakin membuat suasana dingin, dan enggan rasanya beranjak dari tempat tidur. Namun tidak untukku, aku tetap saja bangun pagi dan bergegas mengayuh sepeda dengan membawa koran untuk segera kujual ke kota. Sebelum berangkat aku selalu meminta ridha kedua orang tua agar usahaku membuahkan hasil.

  “Pak, Bu mohon doanya semoga hari ini koran terjual semua”.

“Pasti, Nak Bapak doakan semoga apa yang kamu impikan dapat terwujud, maafkan Bapak belum bisa membuatmu bahagia dan justru membebanimu”.

“Aamiin…. Bapak tidak perlu meminta maaf, karena semua ini sudah bagian dari takdirku Pak, bagiku doa Bapak dan Ibu jauh lebih berharga dibanding materi. Dion pamit dulu ya Bu, Pak Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaykumussalam, hati-hati di jalan Nak. Semoga Allah mudahkan segala urusanmu dan Allah senantiasa melindungimu”.

 Ku kayuh sepeda dengan penuh semangat karena doa kedua orang tua dan karena mimpi-mimpi besar yang belum kucapai.

Baca Juga  Nir

Kali ini aku mencoba berjualan koran ke kota seberang yang sebelumnya aku tak pernah jualan di kota itu. Di keramaian kota aku berhenti di lampu merah dan memarkirkan sepedaku di tepi jalan, lalu segera aku berteriak menawarkan koran dari mobil ke mobil.

 “Koran, koran…. korannya Pak, Bu”.

Keasyikanku berjualan koran seketika terhenti karena segerombolan anak muda mendekatiku, mereka adalah teman-teman sekolahku. Mereka kembali membulliku dengan cemoohan yang selalu membuatku sakit hati.

“Oh…jadi sekarang kamu pindah ke kota ini untuk berjualan koran, sengaja ya menghindari kita? Sudah tak tahan dengan ledekan kita? Sudahlah Dion lupakan mimpimu, nggak mungkin kamu bisa jadi dokter hahahah”.

Aku hanya terdiam tanpa kata, dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka. Hatiku teramat sakit dan semakin inginku tunjukkan ke mereka bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi seorang dokter.

****

Saat aku duduk termenung di tepi jalan, tiba-tiba ada seorang lelaki bertubuh besar dan gagah menghampiriku, dan bertanya padaku.

“Kamu usia berapa, Nak sepertinya masih usia anak sekolah?”.

“Usia saya 16 tahun Pak, iya Pak saya seharusnya saat ini kelas 2 SMA”.

“Mengapa kamu tidak bersekolah dan justru berjualan koran?”.

 “Saya putus sekolah karena tidak ada biaya, Pak”.

“Bagaimana, kalau kamu mencoba mendaftar beasiswa. Di sekolah Bapak ada    program beasiswa yang diberikan untuk siswa berprestasi”.

“Serius Pak, iya saya ingin mencobanya”.

“Kalau begitu besok datang ke sekolah Bapak dan mengikuti seleksi beasiswa ini alamat sekolah Bapak”.

“Siap Pak, saya pasti akan datang tepat waktu, terima kasih Pak”.

Raut wajahku seketika terpancar cerah dan senyumku melebar penuh girang mendapat kabar tersebut. Aku segera pulang dan bergegas bertemu dengan Bapak Ibu. Teriknya matahari tak membuatku enggan beranjak untuk pulang menyusuri bukit-bukit dan jalan yang terjal. Dengan penuh semangat aku beranjak pulang ke rumah.

Sesampainya rumah, ku ucap salam dan bergegas menghampiri Ibu di dapur. Ibu yang saat itu sedang memasak secara spontan kaget, karena tak biasanya aku pulang siang hari. Biasanya aku pulang sore bahkan larut malam.

“Assalamu’alaykum, Ibu….bu… Dion pulang, Bu”.

“Wa’alaykumussalam iya, Nak Ibu di dapur tumben jam segini kamu sudah pulang?”.

“Ada kabar baik yang harus segera Dion sampaikan Bu. Tadi saat Dion sedang menjual koran di kota seberang, tiba-tiba ada seorang Bapak menghampiri Dion dan menawarkan beasiswa untuk sekolah”.

“Alhamdulillah syukurlah, Nak jika kamu bisa melanjutkan sekolahmu, semoga apa yang kamu impikan dapat terwujud, Nak”.

Baca Juga  Belasan Tahun Mimpi Mantan - Talbis Iblis?

“Aamiin doakan selalu ya, Bu dan ridhai setiap langkahku”.

“Pasti, Nak doa Ibu yang terbaik untukmu”.

Malam itu aku belajar untuk mempersiapkan ujian seleksi beasiswa esok hari, buku-buku yang dulu pernah menemaniku di masa SMA kubuka kembali. Hingga larut malam aku belajar dengan harapan lolos seleksi.

****

Embun di pagi buta menyapaku dengan penuh semangat, aku bergegas untuk berangkat ke sekolah dan disetiap kayuhan sepeda aku berdzikir hingga sampailah di tempat tujuanku. Dengan langkah pasti aku segera menuju ke ruang ujian dan mengerjakan ujian dengan maksimal, tak lupa ku awali dengan bacaan basmallah.

Seratus dua puluh menit berlalu, ujianpun telah usai dan aku menunggu hasil seleksi pada hari itu juga. Sembari menunggu hasil seleksi, aku bergegas menuju masjid dan beribadah dengan berharap agar Allah meridhai perjuanganku.

Setelah 3 jam aku menunggu, akhirnya pihak sekolah memberikan pengumuman pada secarik kertas yang ditempel di papan informasi sekolah. Aku gugup dan tak siap rasanya melihat pengumuman itu. Namun, langkah kakiku tetap saja mendekati papan pengumuman dengan hati penuh harap. Aku tercengang melihat hasil seleksi sembari mengucap rasa syukur yang teramat dalam karena namaku tercantum pada papan pengumuman.

“Alhamdulillah ya Allah engkau kabulkan doa-doaku, tak kan kusia-siakan kesempatan yang Kau berikan”. (sembari sujud syukur di lantai)

Dengan penuh kegirangan aku segera menuju ke tempat parkiran dan mengayuh sepeda dengan sangat cepat untuk segera bertemu dengan kedua orang tuaku. Bukit, lembah ku lalui dengan sangat lincah. Dan sampailah aku di gubuk yang selalu ku rindukan

***

“Assalamu’alaykum, Ibu… Bapak… Dion pulang”.

“Wa’alaykumussalam ada apa, Nak kok teriak teriak?. Bapak sedang tidur”.

“Bu, Alhamdulillah Dion lolos seleksi beasiswa dan Dion akan belajar dengan sungguh-sungguh agar Dion menjadi dokter”.

“Alhamdulillah semoga kedepannya kamu bisa meraih impianmu, Nak”.

“Aamiin, terima kasih Bu doa dan dukungannya selama ini”. (sambil memeluk Ibu dengan penuh kasih sayang)

Meskipun aku sekolah, namun aku tetap saja berjualan koran setelah pulang sekolah. Dengan maksud untuk biaya kuliah nantinya. Tiga tahun di SMA aku adalah siswa berprestasi dan selalu menjadi juara sekolah. Akhirnya mimpiku terwujud, aku masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes dan mendapatkan beasiswa di program studi kedokteran.

Bagikan
Comments
  • Ul

    Mantaap mis keren.. sangat menginspirasi:))

    Desember 30, 2020
    • Siska Wahyuningtyas Retno Wulandari

      Jazakillah khoir aul 😉

      Desember 31, 2020
  • Dhiyas

    Bahasa dan ceritanya mudah dipahami

    Desember 30, 2020
    • Siska Wahyuningtyas Retno Wulandari

      syukron ms dhiyas, dan terimakasih sudah membaca cerpen ini. 😉

      Desember 31, 2020
  • Ul

    Mantaaf mis, sangat menginspirasi kaum muda❤

    Desember 30, 2020
  • Pembaca

    Untuk peletakkan tanda bacanya masih perlu diperhatikan lagi, supaya orang yang membaca dapat intonasi yang sesuai dengan yang dimaksud penulis. Ditunggu bacaan selanjutnya. Semangat ^^

    Desember 30, 2020
  • Siska Wahyuningtyas Retno Wulandari

    syukron kak sarannya, dan terimakasih sudah membaca cerpen ini.

    Desember 31, 2020
Post a Comment