f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pintar atau bodoh

Sekolah di Rumah, Anak Jadi Pintar atau Bodoh ?

“Kalau di depan anak kita ada serigala yang siap menerkam, apakah kita masih akan mikir anak kita tuh pintar atau bodoh ?”

Hal itu selalu ingin saya tanyakan kepada orang tua yang mulai galau dan begitu ketakutannya anak mereka akan jadi bodoh karena sekolah tidak segera dibuka. Belajar di rumah tentu tidak seefektif kalau belajar di sekolah. Itu pasti.

Ini adalah masa pandemi, di mana kita ada pada kondisi memastikan diri dan keluarga kita selamat. Nyawa pertaruhannya. Pada kondisi krisis tentu tidak bisa kita samakan dengan kondisi normal. Sudah selamat sehat sampai virus beneran bisa dikendalikan, dengan apapun caranya, itu sudah alhamdulillahirabbill ‘ alamin. Tidak penting lagi anak kita pintar apa bodoh.

Soal ketertinggalan selama setahun itu bisa kita pikirkan nanti. Toh anak kita bukan satu-satunya anak yang harus berjalan pelan tahun ini. Semua anak di Indonesia bahkan anak-anak di belahan dunia yang lain pun menghadapi kondisi yang serupa. Kenapa risau?

Belajar Membangun Karakter

Sebenarnya, justru di masa pandemi ini, kita memiliki kesempatan yang lebih untuk membantu anak membangun karakter yang sangat penting dalam hidupnya. Masa pandemi memberi peluang buat kita, orang tua, untuk bisa lebih fokus memberi kesempatan pada anak untuk membangun karakternya. Karena belajar membentuk karakter itu menetap sepanjang hidupnya, tak seperti pelajaran sekolah yang mungkin belum berganti semester juga dia sudah lupa.

Apabila mendengar istilah “membangun karakter” itu seperti jargon dan klise banget ya Rahamania. Tapi ini sungguh sebuah kesempatan yang besar bagi orang tua. Misalkan, dengan belajar dari rumah kita bisa melatih kesungguhan dan etos belajar anak. Belajar dari rumah itu sangat menggoda kita untuk santai, selow. Tapi saya melihat beberapa orang tua (bukan saya tentu saja wkwkwkw) berhasil membangun kesungguhan anak bahwa ini sama aja sekolah bukan main-main, hanya saja metodenya daring.

Pagi-pagi seperti hari biasa, bersiap, sarapan dan di jam yang ditentukan sudah bersiap dengan buku dan materi yang diperlukan. Saya salut sekali dengan orang tua yang bisa seperti itu, karena saya tidak, hehehe. Melalui belajar dari rumah, anak belajar untuk mempertahankan performa belajar dan kesungguhan belajarnya, apapun kondisinya. Belajar dari rumah ini sungguh dapat menguji mana anak-anak (dan orang tua) yang setia pada proses dan orang tua yang mementingkan hasil belaka (yang penting setor tugas sebelum tenggat, kualitas dan bagaimana prosesnya wes embuh).

Belajar Daring di Rumah : Fokus, Integritas dan Kejujuran Diuji

Metode daring ini juga bisa ngajarin anak untuk fokus. Ini ngga gampang buat anak-anak sekarang yang hampir semua aktifitasnya dilakukan dengan gadget yang sama: komunikasi, berkreasi, aktualisasi diri, hiburan, mencari ilmu dll. Bagi beberapa anak fokus itu menjadi tantangan tersendiri. Kalau pegang HP untuk mengerjakan tugas atau menyimak video pembelajaran, apakah akan fokus ke pembelajaran tanpa tergoda untuk cek-cek instagram atau ngeklik youtube gara-gara ada notifikasi channel favorit baru saja mengunggah video? Bahwa hanya dengan sekali swipe, bisa buyar konsentrasi dan lupa niat awal.

Integritas dan kejujuran juga teruji dengan pembelajaran jarak jauh seperti ini. Apakah ketika ada mid semester dengan metode closed book, anak-anak akan bersungguh-sungguh tidak mengintip catatan? Apakah tugas-tugas itu beneran anak yang mengerjakan, atau jangan-jangan kita jadi orang tua yang memeberikan contoh anak mengabaikan kejujuran dan integritas dengan mengerjakan tugas anak, membukakan catatan atau memberi kode memakai gerakan mulut ketika anak ujian hafalan?

Beberapa orang tua juga galau karena anak-anaknya mencari jawaban pertanyaan dari gurunya menggunakan google dan yang sejenis. Kalau menurut saya , orang tua tidak perlu berkecil hati dengan fenomena ini karena anak-anak kita memang lahir di jaman itu. Tidak seperti kita yang mesti bisa membaca index atau menemukan jawaban di RPUL, mereka dimudahkan untuk memakai fitur search atau find.

Ya memang itu jaman mereka. Tapi jangan diremehkan kemampuan “know where” dari anak. Seorang anak menemukan jawaban atas keingintahuan itu juga skill yang perlu dibangun. Pada level yang lebih advance , tidak hanya sekedar meng-googling, tapi juga membaca apakah memang itu informasi yang dia butuhkan, relevan atau atau tidak; lalu belajar apakah sumbernya bisa dipertanggungjawabkan. Sepanjang anak berusaha menemukan jawabannya sendiri, saya rasa itu positif-positif aja.

***

Rahmania, yowis pokoknya-intinya, tidak perlu khawatir anak kita jadi bodoh gegara belajar dari rumah. Di dunia ini yang harus segera dipelajari anak itu banyak sekali, tidak hanya matematika, Bahasa Inggris, IPS dan yang sejenis. Tapi juga belajar bagaimana attitude mereka menghadapi segala tantangan dan situasi. Dan kita orang tua yang memberi contoh, mau (1) selow atau (2) ngomel terus (nggak usah tanya saya yang nomer berapa yak Rahmania 😃 ).

Bagikan
Post a Comment