f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sepi

Sepi

“Sepuluh tahun yang telah lalu

Di suatu pagi yang permai

Datanglah sepucuk surat yang telah lama kunantikan ….”

Selama kurang lebih sebulan terakhir, hampir tiap malam lagu keroncong stambul Sampul Surat ini terdengar. Kadang nyaring kadang agak serak warna vokalnya. Diiringi dentingan gitar yang lumayan enak di telinga, bagi sebagian orang mampu menambah kesyahduan suasana menjelang istirahat malam.

Seolah merupakan lagu wajib yang harus dilantunkan setiap hari, lagu nostalgia Sampul Surat selalu dia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Sambil memetik gitar dia menyanyikannya pelan tanpa tergesa.

Lagu ini sebenarnya lagu lawas dan aku percaya banyak pemuda seumurnya yang kurang mengenal lagu ini. Dia tidak tahu bahwa lagu nostalgia ini adalah lagu kenangan terindah yang masih sering kunyanyikan lirih, di setiap waktu dan tak seorangpun tahu ketika aku menyanyikannya.

Entah apa yang ada dibenaknya saat fokus menyanyi sehingga penghayatannya begitu maksimal sebagaimana aku dulu. Mungkin lagu itu lagu yang paling ia suka atau lagu yang mengingatkannya pada seseorang. Aku kurang tahu.

Tak hanya lagu keroncong Sampul Surat, lagu-lagu lain juga ia lantunkan. Kebanyakan lagu sendu mendayu atau yang bernuansa sedih. Mendengar suaranya yang sesekali serak, mengingatkan aku dengan seorang penyanyi top masa kini Cakra Khan yang juga serak tetapi enak didengar.

Dia adalah Mas Tomo tetanggaku yang lebih akrab dipanggil Mas Momok dan punya hobi menyanyi. Dia  bisa bermain gitar meski belum sampai taraf mahir. Lagu-lagu tertentu saja yang paling sering ia bawakan. Biasanya hal itu ia lakukan di teras depan rumah waktu sore hingga malam hari. Kadang terlihat ada beberapa pemuda sekitar yang nimbrung ikut menyanyi.

Mas Momok pemuda kalem dan tinggal di rumah besar bersama ibunya yang masih terlihat cantik di usia senjanya. Sebagai anak tunggal yang tumbuh dalam keluarga berada menjadikan dia sebagai anak yang tidak pernah kekurangan materi maupun kasih sayang orang tua.

Baca Juga  Bu Ela, si Pengajar Surat Al-Fatihah

Sebagai tetangga dekat bersebelahan, banyak aktifitas dia yang kutahu. Kapan tak terdengar suaranya karena tidur atau kapan ketika ia begadang semalaman sambil memetik gitar.

“Hey Sephia

Malam ini ku tak kan pulang

Tak usah kau mencari aku

Demi cintamu

Hadapilah ini

Kisah kita tak kan abadi …”

“Mas, lagunya mbok jangan yang sedih-sedih gitu, aku yang mendengar jadi ikut sedih lho,” usulku suatu sore ketika dia sudah di teras memetik gitarnya dan menyanyikan lagu Sephia milik grup band ternama dari Jogja.

“Ha ha ha, kebetulan aku memang suka lagu ini,” jawabnya sambil tertawa dan terlihat giginya yang putih berjajar rapi, sempurna. Aku yang memiliki gigi taring atau gingsul selalu terpesona setiap melihat senyum dan tawa orang-orang yang bergigi rapi.

Rumah kami yang bersebelahan hanya dibatasi bangunan tembok setinggi pinggang orang dewasa. Kami berdua kadang ngobrol ringan di situ. Mas Momok di serambi dan aku di balik tembok. Hubungan kami lumayan akrab meski usia kami berbeda jauh. Kadang dia menanyakan aku ingin lagu apa, lalu dia menyanyikannya.

“Kapan kembali ngampus, Mas?”

“Alhamdulillah, jika tak ada aral bulan depan wisuda. Hari ini masih libur, menemani ibu di rumah.”

“Wah, cepat banget ya, saya kira masih setahun lagi,” kataku sambil menyapu halaman depan yang tak seberapa lebarnya.

Sejak bapaknya berpulang dia memang kelihatan di rumah terus. Sifat manjanya kadang muncul dan ibunya dengan telaten meladeninya. Misalnya mau minum kopi ibunya yang membuatkan. Mau makan sesuatu tinggal omong lalu ibunya pula yang memasak.

“Jika di rumah agak lama, gimana nasib Sephia-mu?”

Sengaja kupancing untuk menggodanya, karena dari tadi lagu yang dibawakannya menyiratkan kegalauan. Aku menduga dia sedang patah hati atau paling tidak sedang ada masalah asmara. Hanya dugaan.

Ada sedikit sesal atas pertanyaanku ketika kusadari dia tak langsung menjawab. Hanya mendongak sebentar sembari menyelaraskan nada senar gitar.

Baca Juga  Cermin Lansia

“Sephia-nya sedang dicari, belum ketemu, he he he,” jawabnya singkat masih sambil tertawa dan terlihat santai

Nada tertawanya kali ini agak lain. Jangan-jangan justru dia yang menggodaku dengan jawabannya biar aku makin penasaran. Dengan jawaban sesantai itu aku merasa punya peluang buat menguliknya lebih dalam.

“Serius nih masih mencari? Mudah-mudahan cepat ketemu, ya,” Aku mulai sedikit menyerempet meski ada sedikit keraguan, kuatir dia tersinggung.

Manakala kulihat dia masih senyum-senyum, aku berani menggoda lagi. “Kudoakan segera hadir Sephia yang Mas Momok cari, tapi jangan lupa harus dikenalkan sama aku, pengagum lagu-lagumu. Bagaimana?”

“Oke, oke!” Dia menjawab cepat sambil mengacungkan ibu jarinya. 

Mas Momok cukup ramah di lingkungan. Dia murah senyum dan tak mudah marah jika ada yang meledek tubuhnya yang jangkung dan agak kerempeng. Di luar itu, dia jejaka manis yang cukup dermawan. Aku yakin tidak ada gadis yang menolak untuk dijadikan pacarnya.

Perawakan tubuh Mas Momok yang jangkung lebih mirip dengan almarhum bapaknya dibanding ibunya. Namun tutur katanya yang santun, halus dan bernada pelan persis perangai ibunya.

Ketika aku merasa sepi dan mata belum mengantuk di malam hari, dentingan gitar Mas Momok adalah hiburanku yang tidak semua orang tahu. Itu karena mendiang suamiku adalah pemain gitar handal di sebuah band kantor semasa mudanya dan sesekali juga main musik keroncong.

Aku belum bisa menghapus segala kenangan selama bersama mendiang. Sosoknya kadang kupaksakan hadir di diri Mas Momok hanya untuk mengusir sepiku karena rasa rinduku yang tidak pernah layu. Rasa ini kadang-kadang menyiksaku. Apalagi lagu keroncong stambul Sampul Surat adalah lagu kebanggaan kami berdua.

Meski lagu Sampul Surat terkesan lagu tempo dulu, tapi aku rasa masih relevan dinyanyikan oleh siapa saja. Di zaman serba canggih ini memang sulit dijumpai sepasang kekasih yang rajin surat menyurat. Selain sudah bukan zamannya, kurang praktis dan memakan waktu lama.

Hubungan yang romantis pada saat itu hingga kini tak mampu kulupakan. Setiap telinga ini menangkap denting gitar, alam bawah sadarku seolah berkelana ke masa lalu. Masa-masa indah penuh cinta yang berbunga-bunga seakan hidup selamanya bersama orang tercinta.

Baca Juga  Istana untuk Sholihah

Di puncak kebahagiaan kami usai berbulan madu, petaka itu pun datang merenggut satu-satunya yang kumiliki. Aku yang sudah sebatang kara semasa gadis, harus merelakan kepergian orang tercinta untuk selamanya. Serangan jantung yang membawanya pergi.

Dua pekan lalu Mas Momok dan ibunya datang ke rumah mengabari sekaligus memohon doa restu untuk pernikahan Mas Momok sepekan berikutnya. Dia sudah menemukan Sephia-nya yang tak lain dan tak bukan adalah gadis anggun yang masih ada kerabat jauh dari bapaknya.

Hingar bingar di pesta pernikahan saat itu sangat mengesankan. Sepasang mempelai yang tampak serasi, cantik dan tampan dengan senyum yang berseri-seri. Mataku mengembun ketika menyalami dan mengucapkan selamat semoga langgeng dan bahagia kepada pasangan pengantin. Dari sorot mata mereka, aku yakin mereka bahagia.

Sejak memiliki pasangan, Mas Momok jarang terlihat di teras. Pun lagu-lagu yang sering dibawakannya tak terdengar lagi. Mungkin dia telah mengganti lagu-lagunya dengan lagu yang lebih indah, lebih membawa ke suasana bahagia pengantin baru.

Mungkin juga sepasang pengantin baru itu tetap menyanyi dengan volume rendah di kamar mereka sehingga aku tak mampu mendengarnya. Tentu saja dengan lagu-lagu yang mereka suka.

Aku hanyalah seorang perempuan usia senja yang hidup sendiri. Selalu kagum pada seni dan mengisi hari-hari dengan bersenandung dan berdoa lirih demi mengusir sepi yang menggigit nyali dan menekan nadi.

Biarlah sepi itu kembali memelukku, kembali mengisi hari-hariku. Aku sudah siap jika lagu-lagu sendu dan dentingan gitar Mas Momok yang selalu menjadi hiburanku, kini tak terdengar lagi.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment