f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
takjil

Takjil untuk Abil

Alif siap-siap menuju masjid kecil An-Nur sebelah rumah setengah jam sebelum waktu berbuka. Baju koko kesayangan warna biru muda yang sudah pudar terlihat sedikit kebesaran karena tubuhnya yang kerempeng. Sore yang lumayan cerah usai diguyur hujan deras sehari semalam masih menyisakan udara yang cukup dingin.

Aroma tanah basah masih mewarnai suasana di Sabtu sore itu, ketika dengan penuh harap Alif melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Ya, hari Sabtu adalah hari terindah bagi Alif, para jemaah dan orang-orang di sekitar masjid tersebut. Hari yang ditunggu-tunggu karena hari itu bertepatan dengan jadwal takjil yang diyakini akan lain dari yang lain.

Dalam sepekan ada jadwal teratur tiap hari tertentu, bagi beberapa jemaah yang mendapat giliran membawa takjil ke masjid untuk berbuka bersama selama Ramadan. Namun, jika ada yang mau membawa takjil tiap hari juga boleh. Kadang nasi bungkus, bermacam kue dan gorengan, aneka minuman, buah-buahan, dan lain-lain. Di hari Sabtu itulah jadwal seorang dermawan yang membawa takjil, bisa dibilang lebih mewah dari yang lainnya.

*

Alif belum bisa melupakan pemandangan seminggu lalu yang membuatnya berjanji dalam hati untuk  selalu menyenangkan hati sang adik, Abil.

Kapan hari pulang dari masjid, Alif membawa dua kotak paket nasi, pemberian seorang bapak yang mengetahui bahwa Alif punya adik. Alif sengaja berbuka dengan camilan dan minuman yang ada di masjid agar nasinya bisa ia makan bersama Abil di rumah. Paket nasi ayam geprek lengkap dengan segelas teh manis dan buah jeruk diyakini akan membuat adiknya bahagia.

“Ini untuk Abil, Mas?” Tanya Abil kepada Alif saat dilihatnya Alif meletakkan dua paket nasi di meja depan Abil berada. Abil terlihat senang sambil mencoba membuka paket nasi. Wajahnya sangat ceria sembari tersenyum ia pandangi paket ayam geprek di depannya. Hatinya berbunga-bunga.

Baca Juga  Sepi

“Iya, yang satu untukmu yang satu lagi untuk Mas, kamu suka?” Dilihatnya Abil menganggukkan kepala tanpa menoleh kepada yang bertanya. Tak menunggu lama Abil pun menyantap menu ayam geprek dengan lahapnya.

Ibu yang sedari tadi terdiam memandangi mereka berdua dengan penuh haru. Bibirnya bergetar  mengucap syukur berkali-kali yang tentu saja tak terdengar oleh mereka. Dengan sekuat tenaga ia tahan agar embun di matanya tak jatuh. Ada nyeri di dada yang ia rasa sekian lama. Ada marah dan sedih yang tak mungkin diungkapkan. Hanya dengan rasa syukur masih diberi kesempatan menghirup udara bersama buah hati tercinta, rasa sedih itu sedikit terobati.

Ini Ramadan ketiga bagi Alif dan Abil tanpa hadirnya sosok ayah. Sudah tiga tahun ayah tak ada kabar setelah merantau ke Sumatra. Ayah pergi ketika Abil berusia satu tahun. Selama tiga tahun itu, tak henti-hentinya Ibu mencari kabar, tetapi buntu. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Ibu mengandalkan jasa cuci setrika, dan beres-beres rumah di tetangga yang membutuhkan.

Melihat adiknya yang mengalami disabilitas, Alif hanya bisa menyayangi dan berusaha semampunya untuk membuat sang adik agar selalu ceria. Mendampinginya bermain, belajar mengenal huruf-huruf, berhitung, mengaji dengan menghafal surat-surat pendek dan sebagainya. Sesekali juga menyanyi bersama. Alif bertekad bahwa sang adik harus senang hatinya meski ada keterbatasan dalam beraktivitas.

Polio telah menyerang Abil sejak kecil dan terlambat penanganannya sehingga di usia empat tahun belum bisa berjalan seperti anak-anak lainnya. Aparat desa dan petugas kesehatan setempat sudah turun tangan, tetapi belum tampak hasilnya. Ibu dan Alif tak dapat berbuat banyak apalagi sang ayah seolah lupa dengan tiga nyawa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (2)

Seperti biasa, Alif sengaja mengambil posisi di dekat pintu sore itu. Dia sudah berwudu dari rumah sebelum berangkat ke masjid. Setelah berbuka di masjid dengan camilan sekadar membatalkan puasa, ia berencana usai salat magrib segera pulang lalu makan bersama Abil. Tiga kali hari Sabtu, takjil dari dermawan itu selalu menarik tak hanya bagi anak-anak, tetapi bagi orang dewasa juga. Dalam hati Alif berharap menu berbuka kali ini masih ada ayam geprek lagi atau semacamnya yang bisa ia bawa pulang untuk Abil.

Mungkin karena Sabtu terakhir di bulan Ramadan atau karena hal-hal lain, jemaah di masjid kecil itu berjumlah dua kali lipat dari biasanya. Ada beberapa ibu dengan anaknya yang lebih dari satu dan hadir pula beberapa jemaah asing yang tidak Alif kenal. Dengan jumlah dan aneka jenis takjil yang melimpah hari itu, sebenarnya tak ada satu jemaah pun yang tidak mendapat takjil.

Tiba saatnya pembagian paket ayam geprek dari sang dermawan, Alif hanya bisa menelan ludah dan sedih. Sosok dermawan itu tidak tahu bahwa hari itu jemaah membludak sehingga paket ayam gepreknya tidak mencukupi seluruh jemaah yang hadir. Bagi Alif sendiri, tidak mengapa jika memang habis dan tidak kebagian. Dia bisa berbuka dengan jenis takjil yang lain.

Di balik kenyataan yang ada, Alif memutar otak untuk mencari kata-kata yang sekiranya bisa diterima Abil karena tak berhasil membawakan menu yang diidamkan. Timbul di benaknya, andai Abil seperti anak-anak yang lain tentu bisa diajak ke masjid agar bisa menikmati aneka takjil dengan puas meski dia belum mampu berpuasa. Namun, Alif sadar dan segera ia tepis perasaan itu.

Baca Juga  Rumah Rahasia Bapak

Imam sudah memulai takbir, tetapi Alif masih memikirkan adiknya. Dia berusaha untuk konsentrasi salat magrib meski bayang-bayang wajah Abil seolah ada di tempat ia bersujud. Tanpa menunggu doa-doa usai salat, setengah berlari ia pulang ingin segera mengabarkan pada Abil bahwa hari itu tak ada ayam geprek.

Di tengah jalan tiba-tiba Alif sendiri ragu apakah bisa berbohong atau tidak, karena selama ini ia selalu diajari orang tua untuk senantiasa jujur. Agar tak terlalu mengecewakan, dua bungkus menu nasi uduk orek tempe dan sepotong telor ia bawa pulang untuk mereka berdua. Di tengah jalan tak henti-hentinya berdoa berharap Abil tak kecewa dengan nasi uduk yang dibawanya.

*

Abil sudah menunggu di balik pintu ketika Alif mengucap salam. Mata yang tadinya berbinar penuh keceriaan seketika berubah menjadi sayu, sendu dan menggores kalbu siapa pun yang menatapnya. Sambil terbata menahan rasa sedih, Alif berusaha menenangkan adiknya dengan segala cara. Ibu juga mencoba menghiburnya, tapi tangis Abil justru pecah. Alif pun ikut meneteskan air mata.

“Assalamualaikum, permisi. Nak Alif takjilnya ketinggalan di masjid. Ini bapak bawakan untukmu,” ucap Pak Sholeh tetangga Alif yang biasa menjadi imam salat.

“Wa’alaykumussalam,” jawab Alif dan Ibu bersamaan hampir tak terdengar.

Setelah menyerahkan dua bungkusan besar dan kecil kepada Ibu dan Alif, Pak Sholeh lalu mohon diri di saat mereka masih belum hilang keterkejutannya. Seperti dikomando, mereka berdua bersujud syukur hingga lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Sholeh.

Bagikan
Post a Comment