Penghardikan
Pagi masih terlalu dini untuk dimulai. Udara malam belum mampu terusir sempurna oleh hangatnya surya. Walaupun begitu alarm ayam berkokok di handphoneku sudah berulang kali berbunyi. Pak Toyib marbot Masjid An-Nur juga baru pulang dari masjid.
Aku, Maimunah seorang ibu rumah tangga. Menjalankan kegiatan rutin seperti biasa. Menyiapkan sarapan, membangunkan anak semata wayang untuk berangkat sekolah. Serta menyiapkan secangkir kopi luwak untuk pria terganteng seantero dunia yaitu Mas Bur.
Pagi itu kubangunkan anak semata wayang untuk sekolah, buah kawinku bersama Mas Bur. Namanya adalah Sari, putri yang kurawat dengan kasih serta sayang yang cukup. Kusiapkan handuknya, baju seragamnya, serta kupastikan lagi buku-buku pelajaran yang ada pada tas. Agar tak ada satu pun yang terlewat dan tertinggal.
***
Sebagai ibu rumah tangga yang hanya mencicipi asiknya berjalan di Lorong SMP selama 2 tahun. Tentu ilmuku biasa-biasa saja. Tak jarang aku kelabakan menjelaskan materi-materi pelajaran yang sedang aku kupelajari. Walaupun anakku masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kelemahanku dalam menjelaskan pelajaran ini membuatku merasa cukup malu. Namun meski begitu, aku tetap mendamping putriku di kala waktunya belajar. Putri sekarang kelas 3 SD di salah satu sekolah negeri di Jakarta.
Selesai Sari mandi dan sarapan, aku mengantarnya sampai sekolah. Depan gerbang, kucium kening yang penuh bedak dengan rasa ridho. “Sekolahlah Nak, sekolah yang tinggi, agar kau raih cita-citamu,” dalam hati kuucapkan bersama tatapan penuh kehangatan.
Setelah selesai mengantar Sari, barulah aku urus manusia paling gantengku. Kusiapkan semua yang dibutuhkan dari sarapan hingga seragam hijau kebesarannya. Mas Bur hanya lebih 3 tahun dalam urusan sekolah dariku. Ia dikeluarkan dari sekolah tepat kelas 2 STM karena kedapatan ikut tawuran yang memakan korban. Akhirnya ia hanya bisa menjadi travel lokal berbasis sepeda motor.
Pukul 09.00 kira-kira dua urusan besarku itu selesai. Selebihnya, aku hanya perlu merapikan rumah, mencuci pakaian, mengosok, dan jika ada waktu luang aku istirahat merebahkan badan. Memang begitu tugas ibu rumah tangga. Sangat simpel untuk dikata dan dikomentari, namun melelahkan untuk dijalani. Tapi karena cinta semua begitu mudah.
***
Siang itu, 12 Desember 1998 Pukul 12:30 kujemput anak semata wayangku. Amal jariyah yang tak putus walaupun hidupku telah terputus. Anakku, Sari datang dari kelasnya dengan wajah yang asing. Berbeda dari yang biasanya. Ia tak mau bicara denganku. Tangannya mengepal seolah marah, namun mulutnya tak mau bicara untuk menjelaskan apa penyebabnya. Setiba di rumah, kulepas tas yang masih ada di pundaknya dengan perlahan.
“Kamu tak biasanya kau seperti ini, kenapa Nak,” kataku dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Sari jelek ya, Bu. Sari bodoh ya, Bu,” katanya dengan kesal sambil meneteskan air mata yang lama bersembunyi di sudut matanya. “Kenapa ngomong gitu Nak?” kataku sambil terkejut, namun tetap menjaga nada dengan penuh kelembutan.
“Aku sering dibilang bego sama Pak Guru. Ini udah kali ketiga Bu Aku dikatain bego. Aku juga dikatain kurus kerempeng, kaya anak kurang gizi makanya makan,” sambil terisak Sari menjelaskan padaku tentang apa yang ia alami selama ini.
Sari memang tidak secantik arti cilik pemeran bintang iklan. Atau secantik istri Pak Guru Han. Tapi jujur aku tak terima dengan hal ini. Sari juga bukan anak jenius yang bisa mengerjakan soal olimpiade. Atau sehebat anak-anak yang mampu bimbel di tempat-tempat les berbayaran mahal. Tapi jujur aku sakit hati dengan Pak Guru itu.
***
Sore hari aku ceritakan semua yang kudengar kepada Mas Bur. Namun suamiku itu memaklumi dan malah menasihatiku. “Udah biarin aja, gak papa,” katanya sambil bersadar di tembok kontrakan yang sudah gempur. “Tapi Mas,” sautku untuk menyakinkan. Namun Mas Bur tetap saja tak ambil pusing.
Keesokan harinya Sari mogok. Ia tak mau sekolah, ia malu dengan teman-temannya. Namun aku membujuknya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Sari menjadi begitu sensitif dengan kata bego dan jelek. Ia menjadi anak yang menyendiri. Bahkan dia menarik diri dari teman satu kelasnya. Tak jarang dalam waktu satu bulan traumanya kambuh. Kadang ia mulai menyakiti dirinya dengan mencakar-cakar dirinya.
Aku bingung mau berbuat apa. Tahun berganti tahun dengan segala traumanya yang belum selesai dan kini Sari sudah kelas 1 SMP. Hingga hari ini pun terjadi. Di sebuah pagi yang sunyi, aku pergi ke pasar membeli sayur untuk kumasak dan kusajikan untuk keluargaku.
Sekolah kini menerapakn PJJ sebagai sebuah langkah pencegah menyebaran virus corona yang menyebalkan ini. Mas Bur sejak seminggu memilih ngojek di sekitar stasiun. Tak jarang mas Bur pulang pagi hingga pukul 09.00.
***
Sepulang dari pasar, kulihat pintu rumah terbuka. Mungkin Mas Bur sudah pulang. Namun tak kulihat motor di depan teras kontrakanku. Aku mulai curiga melihatnya dari jauh. Kupercepat langkahku yang awalnya santai.
Kudorong pintu rumahku, kakiku disambut cairan kental berwarna merah. Membajir cairan itu. Kuikuti sumber dari mana cairan ini berada. Dan kulihat Sari tergelak di sudut ruang dengan sayatan di tangan. “Saaarriiiiiii,” teriakku melihat tubuh putriku itu. Kukeluar berteriak dan berharap tentangga dan orang mendengar lalu menolongku.
Untunglah, kala itu Sari terselamatkan. Hingga kini tak akan kusekolahkan Sariku. Tak akan kubiarkan mereka menghardik anak sewayangku. Biar kudidik dengan caraku, walaupun aku tak pintar semoga Tuhan meridhoi Sari.
Wakil ketua umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Pendidikan FKIP UHAMKA Pada Periode 2010-2011. Ketua bidang kader Pimpinan Cabang IMM Jakarta Timur Pada Periode 2012-2013.
Menjadi sukarelawan mengajar pada bidang matematika di SDN 1 Tobaku 2015 dan mengajar pada bidang Bahasa Indonesia pada jenjang MTS di Pondok Pesanteren Darul Istiqomah Katoi Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini tercatat sebagai guru di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi
