Pilkada Serentak dan Bayang-bayang Kelam Demokrasi
Setelah sempat mengalami penundaan sebab adanya pandemi Covid-19, pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah ( Pilkada ) serentak 2020 kembali dilanjutkan dengan mengatur ulang tahapan Pilkada. Mendengar kabar itu, Bejo tak kemudian menyambutnya dengan riang gembira, melainkan pikirannya diselimuti bayang-bayang tentang apa yang terjadi satu tahun silam. Saat Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019, yang juga merupakan sejarah baru ketika pemilihan presiden dan pemilhan anggota legislatif dilakukan secara bersamaan.
Lebih dari 800 petugas KPPS meninggal dunia dan lebih dari 5000 lainnya mengalami sakit, menjadi sejarah kelam perayaan demokrasi yang akan sulit bahkan tidak akan bisa dilupakan. Namun, bukan hanya itu bayang-bayang yang menyelimuti kepala Bejo, yang tak kalah memukul dari berita duka itu ialah kejadian di desanya. Ketika ada salah seorang warga yang gagal menjadi anggota dewan dan malah menyalahkan warga lain yang tak memilihnya.
Sartono Caleg Gagal dari Partai Berlambang Matahari
Namanya Sartono, seorang mantan pegawai bank syari’ah yang menduduki posisi strategis di partai berlambang matahari. Ia termasuk orang yang ditokohkan di desa dan memiliki jaringan luar yang cukup luas, itulah sedikit modal yang membuatnya terlalu yakin untuk memperoleh banyak suara terutama di kandangnya. Sebagaimana caleg pada umumnya, wajah Sartono yang tersenyum sumringah penuh paksaan terpampang di sepanjang jalan menghiasi desa, hampir sebulan lamanya. Itulah konsekuensi di saat masa kampanye, terlebih ada warga setempat yang mencalonkan diri. Bendera partai dan baliho menghias desa lebih meriah dari perayaan hari kemerdekaan.
Sehari pasca pencoblosan, Sartono tampak gelisah, raut wajahnya jauh berbeda dengan yang terpampang di baliho, senyum sumringahnya mendadak hilang, ia sedikit pucat meski tak menandakan orang yang sedang sakit. Tampak setali tiga uang, beberapa warga yang menjadi tim sukses Sartono juga tak menunjukkan optimisme yang sebelumnya setiap hari selalu melekat menghiasi wajah mereka.
Bejo yang kala itu baru saja selesai memandikan motornya di blumbang dekat perbatasan desa, melihat Sartono yang tampak dari kejauhan berjalan menuju ke arahnya dengan langkah kaki yang lunglai tak gesit seperti biasanya.
“Mau kemana, Pak Sar? Kok tumben nggak sumringah seperti biasanya?” Ucap Bejo ketika Sartono tepat lewat dihadapannya.
“Jalan-jalan aja, Jo. Cari angin biar adem pikirannya.” Jawab Sartono dengan datar, tak biasanya ia bicara dengan intonasi layaknya orang belum makan.
“Masih kepikiran hasil perhitungan suara kemarin kah, Pak?” Bejo mencoba menebak, meski sebenarnya ia takut kalau pertanyaannya menyinggung hati Sartono.
”Heran aku, Jo, sama hasil rekapitulasi di TPS. Di desa sendiri kok suaranya nggak bulat.”
“Memang apa masalahnya, Pak? Kan penentuannya nggak bergantung sama suara di desa kita saja.”
“Memang iya, Jo, nggak bergantung sama desa kita saja. Tapi sudah aku adakan pengajian buat warga, kas pemuda juga sudah aku sumbang kemarin, kok tetap saja ada yang nggak mau milih.” Nada bicara Sartono sedikit tinggi, ia bicara dengan menatap tajam mata Bejo yang berada tepat di depannya.
Mengungkit-ungkit Pemberian
Bejo sudah mengira bila Sartono pasti akan mengungkit-ungkit, dan benar saja ternyata pengajian pekan lalu dan sumbangan kas pemuda yang diberikannya itu mengandung maksud tertentu, untuk mendapat suara penuh di desa. Bulan lalu, kumpulan rutin pemuda yang semula bakal diadakan di rumah Bejo, tiba-tiba pindah ke rumah Anto, putra bungsu Sartono. Kata ketua pemuda, dikarenakan Anto baru saja menyelesaikan ujian skripsi, sekaligus bentuk syukuran kepada yang lain, Anto meminta supaya kumpulan pemuda diadakan di rumahnya.
Bejo dan pemuda yang lain tak menaruh curiga sedikit pun, sebab Anto memang terkenal baik dan loyal. Tentu alasan syukuran di rumahnya sekaligus agenda kumpul bulanan menjadi wajar-wajar saja. Di akhir kumpulan, Sartono selaku orang tua Anto sekaligus selaku tuan rumah, diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu, sementara pada kumpulan sebelum-sebelumnya tidak ada sesi seperti itu.
Sartono meminta do’a restu pada pemuda yang hadir malam itu bahwa ia akan mencalonkan diri sebagai calon legislatif, dan memberi sedikit sumbangan untuk kas pemuda. Sejak itu Bejo dan pemuda yang lain mulai menaruh curiga pada Sartono.
Tujuan yang Baik Dibarengi Cara yang Baik
“Jangan bilang, kamu salah satu yang nggak milih aku, Jo!” Sartono kembali berucap dengan nada yang lebih tinggi, sementara Bejo belum menanggapi ucapan Sartono yang sebelumnya.
“Jangan bilang, bapak marah kalau saya nggak milih njenengan.”. Dengan menatap tajam mata Sartono, Bejo menanggapi meski sambil menahan amarahnya yang rupanya mulai terpancing. Ia sebenarnya sudah mulai kesal dengan Sartono sejak kumpulan pemuda terakhir kali.
“Kurang apa aku ini, Jo? Apa kurang banyak sumbanganku buat kas pemuda? Kalau memang iya kenapa nggak bilang dari kemarin.” Kali ini Sartono tampak sedikit memelas, nadanya tak lagi tinggi. Tapi itu malah membuat Bejo semakin kesal.
“Bapak itu orangnya baik, nggak perlu meminta untuk dipilih pun pasti saya pilih kok. Saya percaya sama niat baik bapak, dan saya yakin warga yang lain juga berpikiran begitu.”
“Kalau memang begitu, kenapa suaranya nggak bulat?”
“Ya, mana saya tahu, Pak. Cuma setahu saya, sebagian warga merasa kecewa sama bapak.”
“Maksudmu gimana, Jo!”
“Kemarin bapak mengundang warga untuk pengajian, ternyata sampai di sana malah kampanye suruh milih njenengan. Padahal kami datang berharap dapat ilmu agama baru yang menyejukkan.”
Belum sempat Sartono menjawab, Bejo lanjut berucap, “Tujuan yang baik itu dibarengi dengan cara yang baik pula, Pak. Biar jadi barokah.”
“Kemarin dari partai yang mengonsep acara, Jo. Semula memang berniat pengajian dan diakhiri permohonan do’a restu. Tapi malah jadi seperti itu, di luar dugaan.”
“Kepercayaan itu mahal harganya, Pak. Lebih mahal dari biaya mengadakan pengajian dan sumbangan kas pemuda.”. Sementara Sartono kebingungan akan menjawab bagaimana, Bejo pamit untuk pulang lebih dahulu karena motornya akan dipakai ibunya.
Demikianlah bayang-bayang yang menyelimuti Bejo. Ia bertanya dalam hati, apakah kejadian serupa akan terulang lagi pada waktu dan orang-orang yang berbeda, dan siapakah yang sebenar-benarnya berpesta demokrasi ini? Bejo meyakini, dilanjutkannya gelaran Pilkada serentak ialah pertanda membaiknya situasi dari ancaman pandemi, bukan membaiknya iklim demokrasi di negara ini.

Tenaga Kependidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
