Barzanji
Malam ini sudah memasuki bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Rasulullah Saw. Bertepatan dengan itu, kegiatan kajian kitab kuning tiap bakda Isya diliburkan selama dua belas hari ke depan dan diganti dengan pembacaan Barzanji bersama. Kitab ini merupakan karangan dari Syekh Ja’far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim, seorang tokoh yang berasal dari Madinah. Barzanji berisi doa-doa, pujian-pujian, dan riwayat Rasulullah Saw. Mulai dari silsilah keturunan, masa kanak-kanak, remaja, hingga beliau diangkat menjadi rasul.
Kang Dwi bersama para santri Pondok Pesantren Ratibul Huda yang lain sudah bersiap di musala yang namanya serupa dengan nama pesantren. Musala ini masih sederhana, tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu sempit, dengan ukuran sekitar 12×8 meter dan terdapat dua buah tiang kayu yang menyangga bercat hijau tua. Amplifier yang digunakan di musala Ratibul Huda juga terhitung biasa saja dengan dua mikrofon kabel. Satu mikrofon digunakan untuk azan dan pujian sementara yang satu diletakkan di dekat tempat imam untuk Pak Kiai ketika sedang mengajar kitab salaf kepada para santri.
Pembacaan Barzanji sebenarnya selalu dilakukan oleh santri-santri tiap malam Jumat. Namun karena ini adalah waktu istimewa, maka pembacaannya akan rutin dilaksanakan sampai puncaknya nanti pada malam ke-12 bulan Rabiul Awal. Biasanya yang memimpin pembacaan Barzanji adalah Kang Dwi, salah satu santri senior yang sudah menjadi pengurus pondok. Suaranya memang benar-benar bagus dan merdu. Selain itu, dia juga sudah paham jika membaca tulisan Arab sehingga mampu menjiwai isi dari bacaan tersebut, bukan membaca yang sekadar membaca namun tidak tahu apa makna yang dibaca.
***
Kang Dwi bersila di tempat paling depan sembari menghadap para santri dengan mikrofon di tangan kanannya dan kitab Barzanji yang sudah di atas meja. Santri-santri yang lain juga telah duduk berjejer begitu rapi dan wangi. Ada yang memegang satu kitab sementara santri yang sebelah kiri dan kanan ikut menyimak. Ada yang satu santri membawa kitab untuk dibaca sendiri. Kemudian ada juga yang tidak memegang kitab namun tetap siap mengikuti dengan nanti bersenandung lirih kecil.
Ketika hendak dimulai, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang tidak terlalu tua masuk begitu saja ke musala lantas duduk di dekat dinding paling belakang. Pakaiannya seperti tidak terlalu dia perhatikan, tidak kotor tapi juga tidak terlihat bersih. Disandarkannya punggungnya itu dan tidak berselang lama, dia sudah terlelap saja. Kang Dwi yang melihat kelakuan orang itu jadi merasa agak terganggu dan bergeming sejenak. Sedang apa dia? Main masuk saja dan langsung tidur seenaknya sendiri, gumamnya dalam hati. Namun akhirnya dia biarkan saja orang itu lantas pembacaan Barzanji segera ia mulai.
“Ya Rabbi Sholli ‘ala Muhammad * Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wa sallim…” Kang Dwi membaca dengan sangat merdu dan tulus lalu diikuti oleh para santri. Begitu seterusnya Kang Dwi menghayati apa yang dia lafalkan.
***
Pembacaan Barzanji diteruskan seperti biasa sampai tiba pada bagian keempat di mana waktunya mahallul qiyam. Kang Dwi melirik lagi ke arah bapak-bapak itu yang tidak juga terjaga. Dia masih tertidur pulas seperti tanpa merasa bersalah atau sekadar sungkan. Kang Dwi yang sudah dalam posisi berdiri lama-kelamaan merasa semakin jengkel namun tetap dia tahan emosinya itu. Santri-santri yang lain juga tidak ada yang berani membangunkan orang itu sebab merasa tidak enak—apalagi mereka tidak mengenalnya. Kang Dwi lantas melanjutkan pembacaan Barzanji tetap dengan khidmat bersama para santri,
“Ya Nabi salam ‘alaika * Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika * SholawatuLlah ‘alaika…”
Semuanya khusyuk melantunkan puji-pujian dengan sungguh-sungguh—meski ada beberapa santri yang tentu belum paham apa arti bacaan yang mereka lantunkan.
Sampai Kang Dwi dan para santri duduk kembali, bapak-bapak itu tidak kunjung bangun. Walaupun begitu, pembacaan Barzanji ajek dibaca oleh Kang Dwi sampai bagian terakhir yaitu doa. Dia juga yang memimpin pembacaannya. Setelah doa selesai, para santri akhirnya bubar dan kembali ke kamar masing-masing, kecuali Kang Dwi. Dia ingin segera membangunkan lelaki itu dan bertanya mengapa sejak awal sampai Barzanji berakhir dia terus-terusan tertidur.
***
Kang Dwi mendekati bapak itu lalu memegang pelan pundaknya hingga akhirnya dia terjaga juga. “Barzanjinya sudah selesai, Pak.” Katanya sambil tersenyum. Dia mencoba tetap ramah dan santun.
“Oh iya, Kang,” sahut si bapak cukup lirih sesaat setelah membuka kedua matanya yang sayu namun teduh. “Maaf, Kang, tadinya sehabis kerja saya mau langsung pulang ke rumah tapi waktu sampai di depan musala kok rasanya ngantuk sekali. Sudah saya tahan-tahan tapi benar-benar tidak bisa, Kang.” Jelasnya lagi.
“Iya, tidak apa-apa, Pak.” Ucap Kang Dwi masih dengan nada lembut. Dia masih dalam posisi berdiri. “Maaf, Pak, kalau boleh tahu kerjanya apa, ya?” Tanyanya kepada bapak yang belum dia ketahui namanya itu.
“Saya narik becak, Kang. Itu becaknya saya parkir di samping musala.” Jawab si bapak sembari menunjuk ke arah yang dia maksud dengan telunjuknya.
“Pantas saja tidak kelihatan.” Kang Dwi berujar sambil tertawa kecil. Setelah mendengar jawaban itu, dalam hati sebenarnya dia cukup menyesal karena sempat merasa terganggu dengan sikap si bapak tadi. Padahal bapak itu hanya kelelahan sehabis pulang kerja. Dalam hati, dia segera beristigfar memohon ampun kepada Allah Swt., astaghfiruLlahal’azim, gumamnya.
Kang Dwi kemudian duduk di samping si bapak. Mereka berdua sama-sama bergeming untuk beberapa saat, hanya saling diam namun tidak lama.
***
“Eh, saya tadi sepertinya bermimpi agak aneh, Kang.” Si bapak itu tiba-tiba berujar seakan keheranan.
“Aneh bagaimana maksudnya, Pak?” Tanya Kang Dwi. Dia mencoba memerhatikan perkataan bapak itu.
“Semula di mimpi saya, saya juga duduk di bagian belakang dekat dinding musala ini dan ada kang-kang santri yang sedang selawatan,” si bapak mulai bercerita dengan mimik serius. “Yang memimpin juga kamu, Kang. Persis seperti tadi. Bedanya hanya saya tidak sedang tidur. Kemudian di depanmu itu ada seseorang yang sedang duduk berhadapan denganmu seperti menyimak secara saksama apa yang kamu baca, Kang.”
Kang Dwi masih mendengarkan cerita bapak itu.
“Tiba-tiba seseorang yang duduk di depanmu itu tadi berdiri dengan wajah masam, Kang, lantas mendekati saya—tubuhnya harum sekali,” lanjutnya makin antusias. “Dia kemudian hanya tersenyum dan menjabat tangan saya. Setelah dijabat olehnya, tangan saya seperti ikut berbau harum semerbak seperti habis disemprot minyak kasturi. Dia lalu duduk persis di samping saya sementara wajahnya sudah kembali normal—rasanya teduh sekali dada saya ketika melihat orang itu.”
“Memang orangnya seperti apa, Pak?” Kang Dwi bertanya sebab mulai penasaran dengan seseorang yang ada di mimpi orang tua itu.
“Sederhana tingginya, putih kulitnya agak kemerahan, dua belah matanya melebar, seolah-olah bercelak, lembut bulu matanya, dua keningnya melengkung dan lembut rambutnya.” Terang si bapak. “Bergigi rapi dan putih bersih, lebar mulutnya menawan, lebar kanan-kiri dahinya bagaikan bulan sabit.”
Seketika Kang Dwi tersentak dan degup jantungnya makin tidak karu-karuan. Dia sangat familier dengan ciri-ciri yang disebutkan si bapak.
***
“Yang halus pipinya, berhidung mancung dan bagus pangkal hidungnya.” Si bapak meneruskan ceritanya dengan sangat rinci sampai pada hal-hal kecil. Dia seperti hafal betul dan tampak begitu bahagia mengisahkan mimpinya itu, entah kenapa.
Sementara sedikit demi sedikit mulai menggenang kilau-kilau air di kedua mata Kang Dwi. Dia masih menyimak namun tidak tahu harus bagaimana sehingga lebih memilih diam.
“Renggang jarak antara dua tulang belikatnya,” si bapak tetap fokus memberitahukan apa yang dia alami kepada santri bersuara merdu itu. “Sederhana dua tapak tangannya, tulang-tulang sendinya besar, tipis tapak kakinya, tebal rambut jenggotnya, kepalanya besar, rambutnya panjang terurai hingga di bawah telinga.”
Kang Dwi terisak namun tetap menahan lubuknya yang sedu itu.
“Wajahnya berseri-seri bagaikan bulan pada malam purnama, …” belum sempat bapak itu melanjutkan kisahnya hingga akhir, tiba-tiba pecahlah tangis Kang Dwi karena tidak mampu lagi membendung air matanya. Perasaannya campur aduk tidak karu-karuan: menyesal, bahagia, kangen; semua menjadi satu dalam dadanya. Macam-macam kekhasan yang si bapak sebutkan tentang seseorang yang dia temui dalam mimpinya itu ternyata adalah makna dari kumpulan lantunan yang dia baca tadi di dalam kitab Barzanji.
