Rumah Rahasia Bapak
Sudah lebih dari 15 tahun keluargaku berpindah-pindah rumah. Terkadang pindah rumah hanya beberapa ratus meter saja dari rumah sebelumnya. Pernah juga berpindah rumah ke RT lain, dan yang paling jauh pindah kelurahan, yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah sebelumnya.
Kami terkenal memang suka berpindah-pindah rumah. Karena bapak sampai saat ini belum memiliki uang untuk membeli rumah. Aku sering berpikir kenapa teman-teman sekantor bapak dengan golongan yang sama bisa memiliki rumah. Entah bagaimana mereka mendapatkannya akan tetapi dibandingkan dengan bapak mereka jauh lebih baik hidupnya karena bisa punya rumah.
Bapak hanya karyawan perusahaan, dan Ibu hanya seorang penjahit baju. Sedangkan aku anak perempuan satu-satunya dan masih kuliah di semester akhir. Aku juga bekerja part time mengajar les bahasa Inggris dan bahasa Jepang di tempat tinggal ku.
**
Hidup kami sangat sederhana. Tidak ada yang istimewa dan ada yang dibanggakan selain dengan kebiasaan kami yang suka pindah rumah. Bapak dan ibu juga bahagia saja, walaupun terkadang ada juga perdebatan-perdebatan kecil yang terjadi. Biasanya perdebatan uang semesteran dan akan pindah ke rumah, selain itu tidak ada ku dengar perdebatan lainnya.
Waktu aku kecil liburan terjauh ku hanya ke pantai. Ikut rombongan orang-orang kampung dengan menyewa beberapa mini bus. Jika yang ikut banyak, kami menyewa angkot dengan beberapa tetangga. Yang pasti tidak nyaman, apalagi terkadang perjalanan yang sangat jauh dengan bangku mobil angkot yang menyamping sangat tidak nyaman. Setelah liburan kami pasti mengalami sakit dan anak-anak biasanya banyak yang demam.
Usiaku memasuki 21 tahun, aku merasa pindah rumah terus menerus tidaklah nyaman. Aku berusaha keras untuk menabung agar bisa membantu bapak dan ibu agar bisa membeli rumah. Akan tetapi itu tidak mungkin gaji sebagai pengajar les tidaklah besar. Sebulan hanya dua ratus ribu, terkadang jika ramai bisa tujuh ratus ribu. Tidak cukup habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebenarnya sku tidak malu jika berpindah-pindah rumah. Akan tetapi terkadang aku berpikir apa tidak ada cara dan upaya dari bapak dan ibu untuk memiliki rumah. Apa memang bapak tidak memiliki uang atau tabungan, atau memang gaji bapak terlalu kecil untuk bisa menabung dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.
***
Minggu malam di saat bapak dan ibu sedang bersantai di ruang tengah aku beranikan diri untuk menanyakan tentang keinginan untuk punya rumah.
“Pak… ndak ingin punya rumah tah pak…?” tanyaku membuka percakapan.
“Yo kepingin nduk, tetapi belum punya duit…” jawab ibu sambil merapikan baju hasil jahitan hari ini.
“Teman-teman yang satu kantor dengan bapak sudah punya rumah dan kendaraan bu, malah anak-anaknya juga banyak, dan juga punya kendaraan” tanyaku sambil berbaring di dekat ibu.
“Ya….itu kan orang lain, kamu malu? ndak punya rumah?” jawab bapak sambil menekan remote TV mencari saluran kesukaannya.
“Bukan begitu pak, kita sudah pindah berkali-kali, malah lebih dari sepuluh kali pak?” Jawabku sambil menatap ibu.
“Kamu malu? hidup pindah-pindah?, kalo kita tidak punya duit untuk beli rumah gimana? Mau utang?” Jawab bapak tegas.
“Ya ndak gitu pak? Maksudku apa tidak kredit rumah, atau cari rumah murah-murah di pinggiran kota kan bisa pak?” ucapku serius.
“Kamu mau bapak pinjam uang untuk beli rumah? Sama siapa? Emang kamu mau bapak utang sana, utang sini, kalo pun kita pindah-pindah dekat sini, itu agar langganan jahit ibumu tidak hilang, kasihan ibumu nanti mulai dari nol lagi,” jawab bapak sambil menatap ku serius.
“Sudahlah, saat ini rejeki kita cuma bisa mengontrak rumah, yang sudahlah diterima saja,” jawab ibu menenangkan.
“Tetapi bu…?”
“Husss…sudah, kuliahmu gimana? Kapan selesai skripsimu?” tanya ibu sambil beranjak memindahkan baju-baju dan memasukkannya ke dalam lemari etalase.
“Sudah bu, tinggal dikit lagi, dua bulan lagi akan seminar hasil penelitian kok bu..,” jawabku.
“Nah, mendingan fokus selesaikan kuliahmu, terus bekerja, cari uang yang banyak, agar bisa kamu beli rumah, biar tidak seperti bapak sekarang,” ujjar bapak sambil merapikan duduknya dan manatap layar televisi.
“Iya…iya pak, tetapi kalo bapak tua dan ibu sudah tua, masak masih pindah-pindah rumah?”
“Ya, gak masalah, yang penting tidak utang, dan kamu bisa kuliah dari biaya yang bapak berikan,” ujar bapak.
Percakapan pun berakhir dengan tidak memuaskan. Karena aku masih belum bisa menemukan jawaban yang pas tentang bapak yang belum bisa membeli rumah.
***
“Dua bulan lagi kita akan pindah rumah ya, rumahnya belum ketemu yang cocok, rumah ini akan dipakai pak Rahman untuk dijadikan tempat usahanya, kamu kalo ada lihat rumah di kontrakkan, coba ditanya-tanya ya nduk…” ujar bapak
Seperti biasa setiap beberapa bulan sebelum berakhir masa kontrak rumah, bapak selalu menugaskan aku untuk mencari rumah yang akan di kontrakkan.
Ke mana lagi aku mencari rumah, pikirku, aku mencoba mencari ke perumahan-perumahan baru, siapa tahu ada cicilan murah. Setidaknya walaupun nyicil rumah sendiri. Aku janjian berkeliling mencari perumahan bersama sahabatku Ajeng.
Aku berkeliling bersama Ajeng dari satu perumahan ke perumahan lain. Memang harga rumah tidak murah. Jika ada yang murah tetapi masih dalam bentuk tanah kosong belum ada bangunan dan harus bayar DP tiga puluh persen dahulu. Kalaupun ada rumah jadi harganya mahal dan selalu di jawab bagian marketing perumahan tinggal dua unit saja.
Aku selalu berpikir, mengapa setiap ke perumahan selalu saja di jawab tinggal beberapa unit saja. Mudah sekali orang beli rumah. Uangnya dari mana, seandainya bapak, ya sudahlah. Itu tidak mungkin. Membayangkan bapak bisa beli rumah aku tidak berani.
Aku berkeliling mencari perumahan-perumahan murah, sampai akhirnya menemukan perumahan yang menurutku cocok dan murah. Memang agak jauh dari rumah yang sekarang, dan untuk ke kantor bapak juga malah tambah jauh. Lokasi yang lumayan jauh mengarah keluar kota.
***
“Bapak ndak mau pindah ke perumahan!, apalagi tempatnya itu jauh, ke kampusmu jauh, langganan jahit ibumu juga pasti hilang, dan ke kantor bapak jauh” Jawab bapak agak kesal.
“Tetapi pak dengan kita pindah ke perumahan, kita hanya bayar bulanan dan jika sudah selesai rumah jadi milik kita pak..!” aku berusaha meyakinkan bapak.
“Kamu tahu bahan bangunannya bagus? Kamu tahu kualitas bangunannya, kamu kenal lingkungannya? Tidak semudah itu nyari rumah.” jawab bapak.
“Masak kita gini-gini terus sih pak….pindah-pindah rumah terus, pindahnya juga di sekitar sini-sini juga…!” keluhku ke bapak sambil memegang lengan bapak.
“Sudah kamu cari rumah kontrakkan di sekitar kampung ini saja, bapak juga berusaha nego dengan pak Rahman minimal bisa sampai akhir tahun,” kata bapak lirih sambil merangkul pundakku.
“Sudah gak usah capai -capai, berkeliling perumahan, mahal, kita tidak sanggup nduk…!” Bapak berusaha menenangkan ku.
Setelah kejadian itu aku kecewa dengan bapak. Juga keadaaan hidupku. Sampai hari ini masih hidup berpindah-pindah dari satu kontrakkan ke kontrakkan lain.
Melelahkan, mungkin bapak dan ibu juga lelah berpindah-pindah. Tetapi aku tetap kecewa dengan bapak. Bapak tidak mengerti perasaaanku dan aku tahu ibu juga sangat lelah dengan kondisi ini.
***
Sudah tiga hari aku tidak menuruti permintaan bapak mencari rumah kontrakkan. Aku masih kesal dengan bapak, tidak ada upaya agar bisa memiliki rumah seperti teman-teman kantornya.
Aku lebih sering menghabiskan waktu di kontrakkan Ajeng yang berada di belakang kampusku. Di sebelah kontrakkan Ajeng ada warung yang biasanya selalu ramai dengan ibu-ibu yang berbelanja untuk kebutuhan harian.
“Hati-hati bu Ayu, saat ini makin tua laki-laki makin aneh-aneh. Lapor ke istri gak ada uang ternyata diberikan ke istri ke duanya yang di tempat lain”
“Iya kalo istri bu, kalo simpenan, jadi sama istri baik-baik eh di belakang bohongi istri yang sah, hati-hati lah bu sama bapak-bapak sekarang!”
“Ada juga loh bu, yang suka maen perempuan, uangnya habis di pakai untuk foya-foya dengan perempuan gak bener.”
Pikirannku tidak tenang. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentang bapak. walaupun aku tahu bapak tidak seperti itu. Tapi tidak mungkin bapak tidak memiliki tabungan, selama ini, ibu hanya diberikan uang bulanan dari bapak, dan ibu hanya dibuatkan tabungan untuk menyimpan uang hasil menjahit. Dan ibu tidak pernah tahu apa bapak punya tabungan, itu yang pernah ibu sampaikan.
Aku khawatir dan berencana menyelidiki kegiatan bapak setelah pulang dari kantor. Aku harus memastikan apakah bapak tidak berbuat aneh-aneh di belakang ibu. Jangan-jangan apa yang dibicarakan ibu-ibu di warung tadi ada benarnya.
***
“Bapak di mana bu?, koq belum pulang?” Tanyaku ke ibu yang sedang menjahit.
“Bapak tadi katanya mau mampir ke rumah temannya, pulangnya malam.” Jawab ibu santai.
Pikirannku negatifku kembali muncul. Sepertinya aku memang harus meyelidiki bapak,harus !
“Bu, ibu apa ndak merasakan aneh dengan sikap bapak?” tanyaku ke ibu.
“Aneh apa? Ya begitulah bapak, sudah puluhan tahun sama-sama ya, biasa aja.” Jawab ibu sambil terus memutar mesin jahitnya.
“Bapak sudah puluhan tahun kerja bu, teman-temannya sudah punya rumah, punya mobil, apa gak aneh bu, gaji mereka kan sama dengan bapak bu.” Jelasku ke ibu.
“Ya..ndak tahu, memang kenyataannya sampai hari ini bapak tidak bisa beli rumah.”
“Lah iya itu bu, kan aneh, bapak tidak mungkin gak punya tabungan bu?”
“Ya adalah, bayar uang kontrakan setiap tahun, bayar kuliah kamu, bayar listrik, air dan biaya-biaya lain masak gak pake uang bapak,” jawab ibu sambil tetap fokus ke gerakan jarum jahitnya.
“Ih ibu ini, bapak ini sudah lama kerja bu, uang tabungannya pasti ada banyak, gak mungkin bapak gak bisa beli rumah!”
“Husss…kamu itu yang mikir aneh-aneh, bapakmu yang kamu bilang aneh, sudah, fokus kuliah saja kamu itu nduk…”
“Kamu sudah cari kontrakkan belum? Sesuai dengan apa yang bapak minta kemarin?”
“Belum bu, nanti malam sama Ajeng mau ngerjain tugas, sekalian tak cari”
***
Aku pamit ke ibu mau pergi bersama Ajeng untuk tugas kampus. Sekalian mencari rumah yang mau kontrakkan sesuai dengan permintaan bapak. Dalam perjalanan, aku dan Ajeng melihat bapak sedang mengendarai sepeda motor bututnya. Aku meminta Ajeng untuk mengikuti bapak.
Selama perjalanan pikiranku jadi tidak tenang. Karena merasa bersalah sudah mengikuti bapak diam-diam dan ada rasa khawatir jangan-jangan bapak seperti cerita negatif yang aku dengar waktu itu. Motor mengarah ke pinggiran kota. Aku dan Ajeng masih mengikuti bapak. Sepeda motor bapak memasuki jalanan kampung dan jalanan kecil berbatu dan agak gelap. Pikiranku pun dihinggapi ke khawatiran yang sangat dalam.
Motor bapak menghilang di jalanan kampung yang di penuhi pohon-pohon sengon yang tumbuh subur disepanjang jalan. Kami kehilangan bapak karena tidak menguasai jalan, dan akhirnya memutuskan untuk kembali esok hari. Aku dan Ajeng kembali melanjutkan kegiatan untuk ke rumah teman dengan pikiran yang tidak menentu.
***
Kamis siang, Pak Arul temannya bapak datang membawa surat dan ingin bertemu dengan bapak. Kebetulan bapak dari subuh sudah keluar rumah, bapak cuma pamit ke ibu jika ada urusan dengan temannya.
Pak Arul bercerita jika perusahaan akan diambil alih oleh manajemen baru. Beberapa pegawai akan d berhentikan dengan hormat. Ibu terlihat agak sedih, dan aku pun sama, jika bapak diberhentikan maka kami akan seperti ini terus hidup dengan berpindah-pindah rumah.
“Tetapi Pak Budiman enak bu…” pak Arul membuka cerita.
“Maksudnya gimana Pak Arul..? ibu keheranan.
Aku pun sama, kok sepertinya tidak ada kasihannya dengan kondisi kami jika bapak diberhentikan.
“Iya, Pak Budiman walaupun diberhentikan tetap punya kesibukan, jadi bisa fokus mengembangkan usahanya.”
Aku dan ibu mulai bingung dan sepertinya pak Arul salah orang. Apa yang disampaikan sepertinya tidak sesuai dengan kenyataannya.
“Usaha apa pak?” tanya ibu penasaran
“Oh begini saja bu, saya langsung ketemu pak Budiman saja kalo gitu, saya tahu di mana pak Budiman. jawab pak Arul sambil berpamitan dan berjalan menuju mobilnya.
**
Aku dan ibu saling berpandangan dan bingung, aku dan ibu memanggil pak Arul untuk ikut menemui bapak. Pak Arul tidak berkeberatan sambil tersenyum.
Dalam perjalanan aku dan ibu masih dalam kondisi bingung apa yang terjadi dengan bapak. Aku ingat jalan yang dilewati adalah jalan waktu aku mengikuti bapak malam itu. Setengah jam perjalanan, mobil pak Arul memasuki jalanan perkebunan dengan pinggiran pohon sengon yang rindang.
“Nah Sampai bu, itu pak Budiman lagi mengecat rumah impiannya?”
Dari jauh kulihat bapak dan beberapa orang sedang mengecat rumah yang lumayan besar dan bergaya etnik Jawa yang di depannya ada kebun sayur dan kolam ikan patin yang sangat luas.
“Itu bu kerjaan pak Budiman kalo pulang kantor bu, itu rumah sedang di kebut pembangunannya katanya pak Budiman, Anaknya sudah lelah pindah-pindah rumah..”
Aku dan ibu berdiri di pinggir jalan, sambil melihat bapak yang sedang merapikan bahan bangunan rumah.
Aku memeluk ibu dengan sangat erat, Air mataku tidak bisa ku bendung….
***

Ety Setiawati
Enak dibaca dan real banget..
Eva Septiana RA
Cerpen ini memesona dan mengandung bawang😭
inong islamiyati
Sedih saya jadi serasa membaca kisah saya sendiri, karena saya juga sering berpindah-pindah saat masih kecil