f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bima

Sengkuni : Kupilih Jalan Takdirku Sendiri

Padang Kurusetra berdebu kala itu. Bagaskara memancar terik dari singgasananya. Suara denting pedang dan gada yang saling beradu membawa aroma darah yang amis. Ringkikan kuda, derik kereta kencana, hingga besutan anak panah menjadi nyanyian yang mendendangkan rentak kematian.

Semua orang saling menebas, memburu nyawa dari lawan yang ada di hadapannya. Membunuh atau terbunuh. Aliran darah deras mengalir, memompa jantung para ksatria yang sedang bertempur membela negeri dan rajanya.

Bima berdiri di hadapanku dengan tatapan nyalang. Salah satu putra Pandu itu kelelahan setelah berkali-kali mengayunkan gada Rujakpolo miliknya. Peluh bercucuran membasahi tubuhnya yang kokoh. Hantaman gada tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Beberapa kali tubuhku hancur dan menyentuh tanah. Namun ajian pancasona membuat bumi seakan memeluk tubuhkan dan sesaat kemudian mengembalikannya dengan utuh.

Tentu saja menjadi sebuah kesenangan tersendiri saat menyaksikan gerak laku anak Kunti itu. Tubuhku telah kebal dari senjata apapun berkat minyak lenga tala milik Abiyasa yang hendak diwariskan untuk anak-anak Pandu, yang justru ku oleskan ke seluruh tubuh. Bima mengernyit geram, sudut bibirku tersenyum melecehkan.

Bima melemparkan gadanya dengan wajah yang tampak merah padam. Tentu, dendamnya kepadaku sangat menyala. Penghinaan terhadap Drupadi hingga kejadian Bale Sigala-gala, masih diingatnya dengan lekat. Aku kembali tertawa, menatap Bima dengan penuh kemenangan.

****

Tidak ada yang akan meragukan kecerdasan dan kepandaianku dalam bersiasat. Kerajaan Hastinapura dan Indraprasta adalah buktinya. Tidak perlu naik takhta untuk bisa menguasai keduanya. Biarlah anak-anak Destarasta yang menduduki tampuk kekuasaan sebagai simbol rajanya, sedangkan aku cukup menjadi patih di Kerajaan Hastina. Bagiku, merubuhkan sebuah bangunan dapat dilakukan dengan menggerogoti pondasinya. Tanpa menggunakan mahkota dan jubah kebesaranpun, sejarah telah mencatat bahwa aku adalah raja sesungguhnya di Kerajaan Hastina.

Baca Juga  Barang Titipan (Part 2)

Aku adalah simbol kesetiaan pada tujuan. Semua yang kulakukan adalah pengabdian,  meninggalkan gelar raja di Kerajaan Gandhara demi membela kehormatan keluarga. Menemani kepedihan Gandhari yang dicampakkan oleh Pandu dan menyerahkannya pada Destarasta seolah Gandhari tiada memiliki hati untuk memilih takdirnya. Aku membela airmata Gandhari yang merasa terhina. Memupuk kebencian pada Pandu yang juga telah merebut Kunti, perempuan yang kucintai.

Dan aku bisa melihat pada kilatan mata Werkudara itu, betapa kebencian kepadaku telah tertanam nyata. Aku kembali tertawa, melihat segala upayaku bertahun-tahun telah berbuah. Perang Baratayudha menjadi puncak keberhasilan siasatku yang tertinggi. Memecah belah dua keluarga hingga saling menumpahkan darah.

Kebencian yang kutanamkan sejak dini di dalam relung sanubari Kurawa tentu telah berdaun rimbun hingga mereka kesulitan memangkasnya. Bahkan tidak bisa lagi Kurawa menemukan beda keburukan dan kebaikan, yang ada hanya keinginan untuk menyingkirkan Pandawa layaknya penyakit yang tiada berguna. Doktrin itulah yang telah menghunjam ke dalam dada Duryodana dan saudara-saudaranya.

***

Aku berhasil menduduki kekuasaan tertinggi dalam kerajaan. Menjadi penasihat sekaligus paman bagi Kurawa. Kerajaan Hastina berada dalam genggamanku tanpa perlu ada mahkota ataupun jubah kebesaran yang harus kukenakan. Akulah raja, memainkan pion-pion untuk menyerang, mengarahkan benteng untuk bertahan, bahkan mengorbakan ratu demi keselamatan. Kurawa dan Pandawa hanyalah pion-pion yang bisa kuatur sedemikian rupa.

Aku tahu kematian sudah dekat, seiring kemenangan siasatku yang telah mencapai puncak kegemilangannya. Bima maju semakin mendekat. Aku merasakan degupan jantung semakin terpacu. Dalam satu kali kedipan, kuku pancanaka miliknya telah menembus rongga mulut dan tenggorokan ini.

Aku terhenyak, bagaimana ia bisa tahu kelemahanku? Minyak lenga tala itu tidak melumuri bagian mulut. Kuku pancanaka menembus hingga ke jantung. Aku mulai kesulitan bernapas. Namun aku terus ingin menertawai Bima serta Pandawa yang belum juga sadar bahwa mereka hanyalah perantaraku dalam menuntaskan pengabdian pada keluarga serta kesetiaanku pada tujuan.

Baca Juga  Tiga Kisah Tentang Handphone

Raja yang sesungguhnya tidak pernah menginginkan kekuasaan dan jabatan, ia hanya membutuhkan kelanggengan dinasti dan kemulyaan keturunan. Dan Pandu telah merusak tujuan itu dengan mencampakkan Gandhari, seorang putri dari Kerajaan Gandhara.

Bagiku, takdir tidak pernah bisa dipercaya. Kerapkali ia mengecewakanku hingga jejak-jejaknya tertinggal dan membatu dalam relung jiwa. Hati ini diasuh oleh kecewa, dibuai oleh derita dan diayun-ayunkan oleh hinaan. Maka membulatkan tekad menuju tujuan dan bersetia kepadanya adalah sebuah kewajiban.

***

Akulah raja, tiada sesiapapun bisa meniru caraku bersiasat karena kekuasaanku bukan pada takhta namun pada hati yang saling memeluk dendam dan kebencian.

Suara tawaku yang tersengal-sengal membuat amarah Bima semakin memuncak. Dendam dan kebencian adalah sumber kekuatanku selama ini. Aku hidup di atas keduanya. Maka saat Bima mulai menguliti kulitku dengan bara dendam, di situlah aku memperoleh kesaktianku kembali. Kususupi Putra Pandu itu dengan kelicikan dan dendam yang semakin berkobar.

Saat seluruh kulitku terlepas dari raga, maka jiwaku telah bersemayan dalam hati Bima. Aku akan kekal di sana, memeluk erat jiwanya dengan dendam dan kebencian. Tidak ada lagi sosok Sengkuni, namun jiwaku tentu tak pernah mati merasuk pada Bima dan meminjam raganya.

Aku kembali tertawa, menyeringai buas, tanganku mencabik hati Sengkuni dan memakannya. Dendamku pada paman Kurawa itu telah tuntas. Tawaku menggema menyelimuti padang kurusetra yang berbau darah.

Bagikan
Comments
  • Wurry Srie

    Hemm, mahabarata. Ceritanya tak pernah usang. Keren Mbk Puspa Seruni.👍

    Februari 10, 2021
  • Puspa Seruni

    Terima kasih, Mbak.

    Februari 11, 2021
Post a Comment