Terima Kasih Ibu (2)
Kedua mata mereka bertemu. Wanita itu sedikit terkejut. Wanita itu tak lain adalah ibu kandung Ancia. Satu bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan berat di bagian kepala dan akhirnya lupa ingatan. Untung saja orang yang menabrak ibunya mau bertanggung jawab dan menanggung semua biaya administrasi ibunya selama di rumah sakit. Setelah kecelakaan itu ibunya benar-benar tidak mengingat apapun bahkan anaknya sendiri tidak mampu ia kenali. Ancia sangat sedih akan hal itu. Fakta bahwa ibunya sendiri tidak mengenalinya terus membuatnya tak kuasa untuk menerimanya. Bahkan, Ancia juga tidak pernah bertemu ayah kandungnya. Dulu ibunya hanya menjawab kalau ia sangat membenci ayahnya itu dan menyesal sudah mempercayainya itu saja. Ancia benar-benar tidak tahu apa-apa.
“ Saya bukan ibumu,” balas Dahlia.
Nyut
Rasanya sakit sekali. Hatinya begitu sesak. Tangan Ancia mengepal kuat. Betapa bodohnya dia. Ancia hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Selamanya akan tetap seperti ini. Apa yang ia harapkan? Ia tidaklah lebih dari sekedar orang asing di depan ibunya sendiri. Terkadang takdir memang sesakit ini. Ancia mengusap air matanya kasar.
“Baik tidak apa-apa. Tapi, saya boleh kan sesekali berkunjung? Saya juga akan terus membawakan makanan untuk Anda. Saya pandai memasak lo.” Ancia menjawabnya dengan tertawa dalam tangis. Ia sudah cukup mahir dalam hal itu.
Dahlia menganggukan kepalanya. Setidaknya seperti ini saja sudah cukup baginya. Biarlah seperti ini alurnya. Ancia akan berusaha menerima takdirnya. Setidaknya Dahlia tidak membencinya cukup itu saja Ancia sudah senang.
Seminggu kemudian
Perjuangannya membuahkan hasil. Ancia berhasil memenangkan olimpiade matematika tingkat nasional dan mendapat juara satu. Sudah sejak seminggu yang lalu terakhir kali ia mengunjungi Dahlia. Kali ini ia berharap ibunya itu bangga melihat pencapaiannya. Ia begitu bersemangat tidak sabar ingin melihat ekspresi ibunya itu. Akhirnya, ia sampai. Seperti biasa ia mengetuk pintu didepannya itu terlebih dahulu dan mengucapkan salam. Begitu pintu terbuka Ancia mengangkat sebelah alisnya.
“Loh kok nggak ada?” gumamnya.
Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan.
“Ancia ya?” tanya suster itu.
“Eh kok suster tahu nama saya? Oh iya pasien di sini di mana ya sus kok nggak ada?”
Suster itu tampak ragu untuk menjawab. Melihat ekspresi suster di depannya entah kenapa perasaan Ancia jadi tidak enak.
“Pasien di kamar ini sudah meninggal dunia.”
Deg
“Apa?”
Bagai dihantam batu yang sangat besar. Ancia terjatuh lemas mendengarnya. Ia sepenuhnya tidak percaya.
“Pergilah seseorang menunggumu di sana.”
Drap…drap
Ancia berlari menuju TPU dengan kondisi berantakan. Hujan turun namun tidak terlalu deras seakan ikut menangis bersamanya. Ancia mencari letak makam ibunya dan ketemu. Ancia berlari dengan cepat. Tangisnya pecah seketika.
“Ibu Ancia datang bawa kabar baik kenapa ibu sudah pergi? Huhuhu ibu bangun ibu bangun!! Nanti ibu kedinginan di sini. Ini lagi hujan ibu! Kenapa ibu suka berbaring disini?! Nanti ibu basah ibu bangun!!”
Ancia menangis keras dan memeluk tempat peristirahatan terakhir Dahlia. Ancia tidak mengira Dahlia pergi secepat ini.
“Ibu Ancia udah nggak punya siapa-siapa lagi. Ancia sendirian ibu. Ancia takut! Huhuhu ibu ayo bangun ayo pulang ibu! Ancia mohon!”
Ancia merasa berada di titik terendah dalam hidupnya sekarang.
“Ikhlaskan saja Ancia.”
Ancia menoleh dan ternyata ada Pak Arhan.
“Pak Arhan?”
Pak Arhan mengecup pelan batu nisan itu.
“Aku tidak mengira kamu pergi duluan Lia. Maafkan aku Lia.”
Ancia menatap Pak Arhan bingung kenapa bisa Pak Arhan mengenali ibunya? Lia? Apakah itu panggilan khusus?
“Mungkin kamu bertanya-tanya Ancia. Maaf bapak tidak bisa menjadi ayah yang baik.”
Ancia bingung seketika.
“Ayah? Apa maksud bapak?”
Pak Arhan menatap dalam mata Ancia.
“Sayalah ayah kamu. Maafkan ayah karena dulu meninggalkan kalian. Ayah meninggalkan kamu dan ibumu saat kamu masih dalam kandungan. Itu semua karena kakekmu tetap membenci ibumu. Ayah terpaksa melakukan itu Ancia maafkan ayah. Maaf baru sekarang ayah bilang. Tapi, sekarang izinkan ayah menebus kesalahan itu. Ayo Ancia pulanglah bersama ayahmu ini,” ia mengulurkan tangannya.
Ancia menepisnya. Ia berdiri dan menjauh.
“Saya tidak punya ayah! Selamanya akan seperti itu! Saya tidak mengakui bapak sebagai ayah saya! Ibu udah benci sama bapak dan saya juga seperti itu! Pergi! Saya bilang pergi!”
Pak Arhan memeluk Ancia dan mereka menangis bersama.
“Ayah jahat huhu.” Sesekali Ancia memukul ayahnya.
“Maafkan ayah Ancia maafkan ayah.”
Kini Ancia tahu siapa ayah kandung yang ia cari selama ini. Keluarga utuh yang selama ini dia impikan sudah di depan mata. Namun, kini semua tidak ada gunanya. Ibunya telah pergi meninggalkannya. Padahal sedikit lagi ia bisa merasakan rasanya memiliki keluarga. Ancia terus menangis dan menatap makam Dahlia, Ancia akan berusaha ikhlas menerima kepergiannya.
“Ancia akan berusaha menerima kepergianmu ibu. Istirahatlah dengan tenang.” Ancia mengusap air matanya.
“ Terima kasih ibu.”
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
