Ning Khilma Anis; Perempuan dan Budaya Jawa
Ibunya Suhita, begitulah mungkin sebutan bagi Ning Khilma Anis. Memiliki nama lengkap Khilma Anis Wahidah, ibu dari 2 anak dan salah satu Pengasuh PP An Nur Jember. Sosok beliau mulai dikenal setelah diterbitkannya novel best seller Hati Suhita. Padahal ini bukan pertama kali karya beliau diterbitkan.
Karya sebelumnya adalah novel berjudul Wigati dan Jadilah Purnamaku Ning. Tapi begitulah realisasi dari kalimat bunga mekar pada waktunya. Beliau adalah seorang perempuan yang memiliki background pesantren. Selain memang dilahirkan dari keluarga pesantren, beliau juga menimba ilmu di beberapa pesantren seperti PP As Sa’idiyah Bahrul Ulum Jombang dan PP Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Ning Khilma Anis adalah salah satu penulis yang karyanya erat dengan topik-topik yang membahas tentang esensi perempuan. Jika umumnya orang mengatakan bahwa Wanita itu ‘wani ditata’ atau diartikan berani diatur. Maka Ning Khilma menyampaikan pada novelnya bahwa wanita itu bukan hanya sekedar ‘wani ditata’ tapi juga ‘wani tapa’ atau bisa diartikan berani bertapa.
Bertapa di sini adalah tetap tenang. Tenang ketika mendapat ujian apapun itu dalam hidupnya. Tidak berhenti pada sikap tenang tapi juga harus tetap selalu terhubung dengan yang Maha Kuasa. Beliau juga menuliskan bahwa kekuatan Wanita terletak pada Tapa – Tapak – Telapak.
Tapa atau bertapa menghasilkan keteguhan diri, kemudian dari itu akan mewujud tapak atau telapak. Di sinilah kekuatan perempuan itu berada, pada telapaknya. Pada doa-doanya. Sesungguhnya di bawah telapak seorang wanita eksistensi dan esensi surga berada.
Beliau turut menyertakan pepatah jawa mikul dhuwur mendhem jero pada tulisannya. Kalimat ini bemakna bahwa kita sebagai seorang perempuan harus bisa mikul dhuwur (menjunjung tinggi), mengangkat dan tidak menjatuhkan nama baik keluarga.
Untuk itu mendhem jero adalah senjatanya yaitu memendam dalam – dalam serta menutup rapat – rapat aib keluarga. Harus bisa berpura – pura bahwa semua seakan baik – baik saja. Bukan berarti perempuan di sini didesak atau ditekan dengan hal itu. Tapi ini adalah salah satu bentuk birrul walidain.
Hal lain yang menarik perhatian saya tentang Ning Khilma adalah kecintaan beliau terhadap budaya Jawa. Mungkin akan banyak orang yang tidak percaya dengan hal ini, dilihat dari background beliau dari lingkungan pesantren. Namun, siapa sangka berkat novelnya yang berisi tentang esensi perempuan dengan menyelipkan budaya-budaya Jawa membuat banyak perempuan di Indonesia ikut mengenal dan menyukai budaya Jawa.
Di saat banyak penulis memakai nama-nama popular untuk nama tokoh dalam karyanya, Ning Khilma lebih memilih menggunakan nama seorang putri dari Kerajaan Majapahit yang mungkin tidak semua orang tau yaitu Suhita, dalam novelnya yang berjudul Hati Suhita.
Kemudian pada novel itu juga terdapat tokoh yang bernama Kang Dharma diambil dari nama Prabu Dharmawangsa nama lain Yudhistira pemimpin para Pandawa dalam kisah Mahabharata. Juga tokoh Rengganis yang berasal dari Bahasa jawa yang artinya putri jelita, Rengganis sendiri dalam kisah legenda adalah seorang putri dari Raja Brawijaya yang merupakan salah satu raja di Kerajaan Majapahit.
Selain itu, karya beliau sebelumnya yaitu sebuah novel berjudul Wigati yang isinya sangat erat dengan keris dan falsafah Jawa. Kisahnya menceritakan seorang santriwati bernama Wigati yang diwarisi keris magis oleh kakeknya yang memang seorang Empu atau pembuat keris. Nama Wigati sendiri dalam kata jawa berarti penting atau memberikan sesuatu dengan sepenuhnya.
Selain pada novel, Ning Khilma menuangkan kecintaanya terhadap budaya jawa pada karya lain yang menjadi bagian dari produk usahanya seperti bros wayang, jilbab, tas dan gamis yang bermotifkan wayang dan candi – candi Kerajaan Majapahit. Sehingga banyak perempuan Indonesia yang turut merasakan indahnya budaya jawa dengan memakai souvenir produk beliau.
Tidak sampai di situ, desain interior rumah beliau juga sangat erat dengan nuansa jawa. Mulai dari pintu rumah yang menggunakan gebyok, di setiap kaca depan rumah bergambar para Pandawa. Belakang rumah pun juga turut diberi berbagai tanaman obat-obatan juga sirih yang membuat nuansa jawanya sangat kuat.
Beliau pernah bercerita pengalaman beliau saat mengunjungi Perpustakaan Nasional. Dengan background pecinta budaya jawa, ketika di sana beliau mendatangi lantai yang memang khusus berisi serat, babad juga buku–buku jawa yang sudah diterjemahkan.
Pada lantai itu dengan ruangan yang sangat luas betapa terkejutnya baliau karena hanya beliau dan suami yang berkunjung kesana. Melihat itu beliau menangis sesenggukan sambil memandangi banyaknya buku yang beliau cintai tetapi tidak bisa dipinjam karena memang itu aturannya.
Setelah merasa cukup di sana, beliau pun berniat untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi betapa terkejutnya beliau sebelum keluar dari tempat itu beliau dihampiri oleh penjaga ruangan dengan membawa beberapa tumpukan kardus yang berisi buku-buku Jawa yang awalnya memang tidak untuk dipinjamkan melainkan untuk dibaca ditempat.
Petugas itu mengatakan bahwa buku-buku itu khusus dipinjamkan untuk Ning Khilma karena beliau adalah salah satu orang yang istimewa, sangat jarang seorang perempuan benar-benar menekuni budaya Jawa.
Jadi, dari kisah ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang perempuan yang memiliki minat berbeda daripada perempuan pada umumnya bukan berarti dia rendah. Justru dengan itu membuatnya dianggap menjadi seseorang yang istimewa.
Berasal dari Kediri tetapi sekarang berdomisili di Tulungagung. Mahasiswa aktif di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung jurusan Psikologi Islam. IG: @_rizkaarrr FB: Ziadhaa Ahmad.
