Terima Kasih Ibu (1)
Suasana terasa begitu sunyi. Kedua matanya bergerak pelan melihat sekeliling menelurusi tiap sudut rumah sederhana ini dengan tatapan sendu. Hati kecilnya tiada henti terus berharap bisa mengubah kesunyian ini dengan hangatnya keharmonisan sebuah keluarga. Keluarga. Hanya satu kata. Namun, hatinya begitu sesak mendengarnya. Ia menggeleng pelan dan tersenyum. Jangan ada air mata untuk hari ini. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan suasana ini karena memang beginilah takdirnya hanyalah seorang gadis biasa yang tidak akan pernah merasakan arti sebenarnya sebuah keluarga.
Ancia Lesvina biasa dipanggil Ancia sekarang sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya. Jarak sekolah dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Untuk menghemat uang ia memilih untuk berjalan kaki. Berkat kepintarannya ia mendapatkan beasiswa penuh selama di SMA. Meskipun ia baru SMA. Namun, ia sudah bekerja paruh waktu di café dekat rumahnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena ia hidup seorang diri. Ia akan berusaha belajar segiat mungkin agar dirinya juga bisa diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa juga nantinya. Untung saja hari ini ia mendapatkan izin untuk cuti kerja sehari . Hari ini ia akan menemuinya, ia tidak sabar untuk bertemu, dan menatap wajahnya. Hari-hari sebelumnya karena sibuk sekolah, persiapan olimpiade, dan juga bekerja ia tidak ada waktu untuk berkunjung. Namun, hari ini rasa rindu itu akan terbayarkan.
“Kelihatan senang banget kamu hari ini.” Fani terus memperhatikan Ancia yang terus menatap kotak bekal yang ia letakkan di atas mejanya dengan wajah berseri-seri. Ancia menoleh kearah sahabatnya itu seraya tersenyum. Fani sudah hafal betul alasannya.
“Jadi kamu akan berkunjung nanti sepulang sekolah?” tanya Fani.
“Iya aku udah buatin kue brownis kesukaannya. Aku harap dia suka.” Seakan rasa senang itu tidak bisa ia sembunyikan dengan baik. Ia tiada hentinya tersenyum.
“ Jangan lupa kamu bilang dulu sama Pak Arhan takutnya nanti kamu dicariin lagi gak ikut bimbingan buat olimpiade minggu depan.” Fani mengingatkan.
“Iya deh iya.”
Tring…Tring
Bel pulang sekolah berbunyi. Sesuai perkataan Fani ada baiknya Ancia mengkonfirmasi terlebih dahulu bahwa ia izin tidak ikut bimbingan hari ini. Ancia berjalan cepat menuju ruang guru. Namun, belum saja ia sampai ia sudah berpapasan dengan Pak Arhan. Beliau juga mengetahui keberadaan Ancia dan berjalan menghampirinya.
“Ancia kamu udah makan?” tanya Pak Arhan.
“Oh nggak saya masih kenyang pak,” sanggah Ancia.
“ Makan jangan sampai telat atau mau makan bareng bapak di luar?”
“Nggak usah pak terima kasih. Saya menemui bapak cuma mau bilang hari ini saya izin tidak ikut bimbingan ya.”
Sebelah alisnya terangkat. Pak Arhan menatap bingung Ancia yang mengatakan hal itu dengan wajah tidak sabaran.
“Kamu ini terburu-buru mau kemana?” heran Pak Arhan.
Ancia tersenyum singkat dan menjawab
“Saya mau menemui seseorang pak. Seseorang yang berharga bagi saya.”
Pak Arhan ikut tersenyum dan mengusap pelan rambut Ancia.
“Yaudah hati-hati ya.”
Saat Ancia bersama Pak Arhan entah kenapa ia selalu merasa seakan ia memiliki seorang ayah. Ia tidak tahu pasti alasan Pak Arhan selalu baik terhadapnya. Apapun itu Ancia merasa bersyukur setidaknya ia dikelilingi oleh orang-orang baik dan peduli padanya. Setelah berpamitan Ancia pun langsung beranjak pergi menuju halte didepan sekolahnya. Untuk perjalanan kali ini ia tidak akan jalan kaki. Pak Arhan menatap kepergian Ancia dengan tatapan penuh makna.
Akhirnya, ia sampai. Perlahan ia menarik nafas lalu membuangnya dan melakukannya berulang kali sampai ia merasa tenang. Ancia mengetuk pelan pintu didepannya dan mengucapkan salam. Begitu pintu ia buka terlihat seorang wanita sedang berdiri menatap kearah luar jendela dengan tatapan kosong. Hembusan angin menerpa rambutnya lembut hingga terlihat seakan sedang menari dengan gemulai. Ancia terdiam sesaat menatap wanita itu dalam diam. Ia tersenyum getir. Wanita itu mulai menyadari keberadaan Ancia dan akhirnya menoleh kearah pintu. Di sana ia melihat Ancia berdiri dengan kotak bekal ditangannya yang ia bawa menggunakan kantung plastik.
“ Maaf kamu siapa?” tanyanya.
Nyut
“Kata itu lagi,” gumam Ancia.
“Saya hanya ingin mengantar makanan.” Ancia berjalan menghampiri wanita itu berusaha lebih dekat namun isyarat tangan wanita itu menghalangnya. Ancia lupa akan hal itu ia hanya bisa memaksakan senyumnya.
“Terima kasih. Saya tidak mengenal kamu tapi terima kasih sudah datang.” Wanita itu menerima pemberian Ancia.
Nyut
Tidak kenal ya
Ancia dipersilahkan untuk dudu. Ia mengangguk dan mulai duduk. Wanita itu tersenyum sekilas. Ancia menatap sendu jarak antara mereka saat ini. Lagi dan lagi jarak ini sangat Ancia benci. Jarak ini tidak bisa ia tembus. Ingin sekali Ancia memeluknya namun ia tidak bisa. Tangannya mengepal kuat.
“Apakah saya boleh memanggil Anda ibu?” Ancia tidak kuasa menatap mata itu. Ia menunduk lemas. Sia-sia saja ia menahannya namun nyatanya air mata itu tidak kuat lagi untuk ia tahan.
“Saya menerima takdir ini; saya nyaman berada didekat Anda. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi, bolehkah saya menganggap Anda ibu saya?” tangisnya pecah.
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Desi Riska
Cerpennya baguss.
Semangat Icha👍👍😁