f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
seding yang diratapi

Sedih yang Diratapi

“Hei, tersenyumlah. Jangan bersedih!”

Kau lambaikan tangan tanda hari sudah petang. Wajahmu terlihat lelah setelah menyelesaikan segudang tugas harian. Kau merasa belakangan ini hari-hari terasa suntuk. Ditambah dengan tanggung jawab yang kian bertumpuk.

Diam, senyap, dan lesu. Sore itu, tanpa sepatah kata, kau langsung pergi begitu saja dengan motor kesayanganmu itu.

Tadi pagi, kau hanya datang untuk mengeluh dengan satu kata berucap lelah. Bahkan selama sembilan puluh menit terakhir, kau hanya tertunduk di kursi paling belakang. Kau sandarkan tubuhmu ke dinding kelas. Sesekali kau dongakkan kepalamu. Itupun hanya untuk sekedar menjawab celetukan kawan kanan-kirimu.

Kumandang adzan maghrib terdengar di berbagai sudut kota. Segera kau rampungkan kertas-kertas yang berserakan di hadapanmu. Kemudian, kau terdiam sejenak sembari menunggu sunyi ruangan. Terlihat hela napasmu begitu dalam, juga terkesan berat. Seolah ada beban yang tak sanggup kau pikul. Kaupun terus menunduk sembari melangkah berjalan.

“Yan, kenapa sih? Keliatannya galau banget dari tadi,” ujar salah satu teman perempuannya yang kebetulan bertemu di depan ruang kelas. Temannya sengaja melirihkan jangkauan kakinya demi memastikan bahwa temannya itu baik-baik saja.

“Enggak papa kok. Aku enggak papa, tenang aja. Cuma akhir-akhir ini lagi ngerasa capek aja.”

Kau tetap berusaha tersenyum meski senyummu itu tak seperti biasanya. Kemudian tak lama kau segera meninggalkan lorong yang masih begitu ramai. Kelas sore memang baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Kendati demikian, gedung kuliah ini masih terasa sesak dengan lautan mahasiswa yang kelelahan dan kelaparan.

Kau bergegas pergi. Tapi kali ini kau lebih memilih untuk pergi ke balkon daripada pulang ke kamar. Entah apa alasannya, yang jelas kau hanya perlu sekedar merebahkan tubuh lelahmu. Saat itu cuacanya mendung. Tak lama, hujan mulai membasahi bumi. Kaupun rela menatap satu per satu rintik air hujan yang turun bergantian. Semakin lama semakin deras. Air hujan yang kau tatap itu kian menghampirimu begitu saja dan kemudian membasahi jaket abumu. Walaupun demikian, kau merasa tenang. Betul kata orang, air hujan memang selalu memberi ketenangan.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (1)

Tak terasa hari itu makin petang. Di samping itu, tatapmu kian nanar. Saat itu kau merasa hujan hari itu agak berbeda, tak seperti biasanya.

Mengingat kembali momen yang sudah berlalu di mana kau selalu datang membawa kentang goreng kemudian duduk dan bercerita panjang lebar di saat hujan tiba. Kau merasa setiap kali hujan selalu mengundang tawa. Namun kali ini agak berbeda. Ya, hujan hari itu tidak sedikitpun mengundang tawa, melainkan kesedihan.

“Segeralah reda, wahai hujan!”, gumammu dalam hati.

Sesedih-sedihnya hari ini, hari esok tetaplah menjadi hari yang baru dengan cerita yang baru pula. Kau ingat persis kalimat itu. Dan kau harap kalimat itu bukan hanya sekadar kalimat masyhur semata. Inilah ratap sedih.

Keesokan harinya sebelum berangkat ke kampus, kau sempat merapikan seisi bilik kecil yang sudah kau tinggali hampir setahun belakangan. Setelah beres, kau segera bersiap menuju kampus, mengingat waktupun sudah semakin mepet. Kau hampir telat.

Hanya beberapa menit saja, suara deras di luar itu berhasil membuatmu berbalik badan. Lagi-lagi hujan deras kembali membasahi tanah di pagi ini. Seketika kau pun sadar bahwa tinggal di kota dengan curah hujan yang tinggi akan membuatmu kian akrab dengan cuaca mendung dan hujan deras. Namun pada akhirnya, kau tak lagi hiraukan air hujan yang semakin mengguyur. Lagi pula, kelas akan dimulai sebentar lagi, pikir kau.

Belum sempat kau ucap salam, kelas terlihat sepi. Tak ada siapa-siapa. Ternyata memang tak ada tanda-tanda kehidupan kuliah di sana. Seketika kau teringat ponsel untuk mencari tahu info apakah benar hari ini tidak ada kelas. Kau lekas buka tas punggungmu, mencari ponsel.

Baca Juga  Pendidikan Sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

‘Hei, sekarang jam kuliah di ruang 219 bukan? Kok sepi ya?’

‘Semestinya iya. Tapi, hari ini kosong alias diliburin.‘

‘Hah? Kosong?’

‘Iya, kan kemaren udah dikasih info. Pasti kamu enggak baca chat grup kelas nih.

‘Haduh.. kalau tau gitu mending aku berangkat siang aja.’

‘Kamu udah di kampus belum?’

‘Haha makanya jangan galau mulu. Udah nih, di masjid.‘

‘Ngapain di masjid?’

‘Ngerjain tugas karena dateline-nya lusa. Kalau mau kamu ke sini aja.‘

‘Oke segera ya aku ke sana’

Menggerutu. Kau begitu kesal dengan pagi ini. Sudahlah hujan sejak pagi, datang ke kampus dengan basah kuyup, sampai kelas ternyata libur. Kau semakin kesal dengan hujan yang sejatinya nikmat Tuhan seperti kata-kata yang biasa kau ucapkan.

Kemarin sore, hujan membuatmu meratap di balkon. Mengingat banyak memori mengesalkan juga mengesankan. Hujan membawamu berlari di tanah lapang, bermain sepak bola tanpa alas kaki, pulang ke rumah disambut masakan ibu. Itu dulu. Hari ini, hujan datang mengembalikan kalut yang baru saja tertimbun dalam tidur.

“Kalau berat, sekiranya mau berbagi, ya silakan. Jangan dipendem sendiri. Kau jangan sok kuat, enggak papa kok.”

Entah berapa kali seminggu ini kau selalu dengar kalimat itu dari teman-temanmu. Kalimat itu membuatmu semakin pilu. Di tengah gelak tawa saat mengerjakan tugas kuliah, ponselmu berdering. Raut mukamu berubah seketika. Sejak hari itu hingga saat ini, kau tak lagi sama.

“Yan, ada apa sih? Udah semingguan loh kayak gini terus.”

Salsa tak lagi tahan melihat gerak-gerikmu akhir-akhir ini. Dia berbincang dengan teman-teman lain mengenai kondisimu dan mereka kian mengkhawatirkanmu. Tidak mungkin hanya lelah yang kau rasa. Pikirmu terlalu berat. Matamu terlalu suntuk setiap harinya. Ada yang berbeda darimu.

Baca Juga  Ayah Pahlawanku

“Ayolah, Yan. Cerita aja, barangkali bisa dibantu.”

Kau tetap diam tertunduk. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutmu. Hening. Semakin hening hingga terdengar isak tangismu. Mungkin, hanya itulah jawaban yang kau berikan. Tangisan.

Rintik hujan mulai turun. Kau tetap memilih duduk di depan kelas. Tak lagi kau hiraukan orang memandangimu. Tumpah bersamaan dengan air hujan yang akhir-akhir ini selalu kau maki.

“Bapak.”

Tertatih kau ucapkan disusul dengan tangis dan sedih yang makin dalam. Kemudian kau pergi tanpa berkata lagi. Menerobos hujan yang semakin deras. Emosimu tak lagi tertahan.

“Pak, maafin aku ya… Yanuar belum bisa pulang. Pak, kenapa bapak maksa kerja padahal di sana cuaca lagi enggak bagus? Bukannya bapak yang selalu marahin aku ketika sengaja main bola pas hujan deras? Pak, pasti bapak capek ya sama Yanuar. Saking capeknya, bapak enggak mau nunggu Yanuar pulang dulu . Tapi, engga papa, Pak. Minggu depan Yanuar pasti pulang. Ya, meskipun kita belum sempat ketemu. Pak, Yanuar kangen bapak .”

Salsa menemukan jawaban atas sedihmu, diammu, hingga tangismu. Tangismu di kala hujan turun adalah rindumu pada seorang laki-laki hebat yang mengantarmu hingga hari ini. Laki-laki yang sering kali kau ceritakan itu.

Bagikan
Post a Comment