f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
senyuman sekolah

Energi Senyuman untuk Lara

“Berikanlah senyummu maka bisa jadi kau menyelamatkan semangat hidup seseorang.”

Ungkapan yang menginspirasi bahwa dengan senyuman kita bisa melakukan sesuatu yang besar dalam ketidaksadaran kita. Di mana dengan senyuman seseorang bisa menularkan kebaikkan seperti semangat, rasa bahagia, dan rasa nyaman. Sehingga bisa membuat orang lain merasakan juga kebahagiaan, bahkan mampu membuat seseorang keluar dari segala pelik atau kekalutan hidupnya.

Pagi itu udara segar menyelimuti, binar matahari hangat menyapa bumi. Satu persatu muridku berdatangan dengan wajah segar. Ucapan salam mereka memenuhi ruang pojok kelas, saya tersenyum menjawabnya.

Dari kejauhan aku menangkap sosok yang baru pagi ini aku melihatnya, tidak seperti yang lain yang tampak rapi dan segar. Dia tampak ringkih dengan balutan seragam yang tampak lusuh.

“Selamat pagi,” kusapa dia dengan hangat. Matanya menatapku, kutangkap tatapan kosong dalam kelopak matanya yang sayu. Namun tidak kudengar dia menjawab sapaanku. Sesaat aku tertegun. Kuulang sapaanku lagi, “Selamat pagi.” Kali ini kusertakan senyuman lebar untuknya. Melihat aku tersenyum, sekilas kulihat binar di bola matanya tapi kemudian kembali menunduk tanpa menjawab sapaanku.

Dari informasi yang aku dapat ternyata dia anak yang selalu menyendiri dan sangat pendiam di kelasnya. Setiap kali bertemu dengannya selalu kesan yang sama yang aku temukan, satu yang aku ingat darinya bola matanya yang selalu berbinar saat aku tersenyum padanya, seolah dia menemukan harapan.

Namun akhir-akhir ini, aku tak menemukan lagi sosok kecil itu di kelas.

“Ada apa dengannya?” Beribu tanya memenuhi benakku. Dalam peranku yang merangkap sebagai BK, aku penasaran dengan ketidakhadiran gadis kecil itu.

Aku mulai pencarianku, mengikuti petunjuk yang aku dapat, dan sampailah aku di ujung gang desa. Saat itu mataku langsung tertuju pada rumah yang ada di hadapanku. Tampak sebuah rumah yang kurang terawat dan mulai rapuh.

Baca Juga  Bagaimana Bila Keluarga Bukanlah Rumah Bagi Anak?

Aku melangkah mendekat dan mengucapkan salam. Tak lama pintu berderit dan muncul seorang nenek yang tampak sudah tua dengan badan agak membungkuk. Aku mendekat dan menyalaminya, aku perkenalkan diri siapa aku dan maksud kedatanganku.

Nenek itu tampak mengangguk dan mempersilahkan aku untuk duduk. Dia tampak ramah menyambutku, ternyata beliau adalah nenek dari gadis yang aku cari, sebut saja Lara nama gadis itu. Dengan perlahan aku sampaikan bahwa sudah satu minggu Lara tidak masuk sekolah, tanpa diminta neneknya mulai bercerita tentang Lara bahwa Lara sudah menjadi piatu sejak usia 9 tahun.

Awalnya Lara tinggal di rumah neneknya bersama ibu dan bapak kandungnya. Namun setelah ibu kandungnya meninggal, dia dibawa oleh bapak dan ibu sambungnya pindah kota. Dan baru dua minggu ini dia tinggal lagi bersama neneknya karena ayahnya belum lama meninggal karena sakit.

Hidup 5 tahun tanpa kasih sayang utuh dari orang tua, membuat Lara harus menanggung beban berat yang tidak sesuai dengan usianya, hal ini membuat Lara menjadi anak yang pendiam, tertutup, dan sulit percaya pada orang yang baru dia temui.

Dia sangat merindukan sosok ibunya yang sudah tiada.

“Bolehkah saya bertemu dengan Lara, Nek?”

“Tentu boleh, sebentar Nenek panggilkan.”

Setelah beberapa kali dipanggil akhirnya Lara gadis ringkih itu muncul dari balik pintu.

“Hai, apa kabar Lara?” Sapaku pada Lara

Lara tak menjawab sapaanku, dia masih berdiri mematung, bola matanya bergantian melihat aku dan neneknya seolah meminta persetujuan. Kemudian neneknya meminta cucunya itu untuk duduk di samping beliau.

“Apa kabar Lara”, aku mengulang pertanyaanku, Lara masih menatapku, masih tak menjawab, dia melihat ke arah neneknya, melihat itu neneknya menganggukkan kepala seolah memberi isyarat bahwa ibu yang ada di hadapannya adalah orang baik, bukan seperti ibu sambungnya yang tidak menyayanginya.

Baca Juga  Menjadikan Anak Berprestasi atau Anak Berakhlak?

Aku tersenyum, kali ini kuulurkan tanganku padanya.

 “Sini Lara, Ibu mau bicara sama Lara,” aku berusaha meyakinkannya.

Dia masih tidak bergeming, hanya menatapku penuh keraguan. Tak menyerah aku berusaha kembali meyakinkannya.

“Ibu ke sini sengaja mau ketemu sama Lara, Ibu sayang sama Lara,” aku berusaha terus meyakinkannya, karena itu yang ingin aku sampaikan, yakni membuatnya percaya bahwa masih ada seorang ibu yang menyayanginya dan mau memeluknya erat.

Dia masih ragu, dan aku tidak memaksanya, aku kembali ke tempatku duduk. Saat aku membalikan tubuhku, tiba-tiba dia memanggilku lirih, “Ibu….”

Aku menoleh padanya dan tersenyum untuknya, kemudian dia menghambur ke arahku dan memelukku erat, sangaatt erat sampai-sampai hampir membuatku terjerembab. Aku membiarkan dia memelukku. Tangisnya pecah dalam dekapanku, aku seolah merasakan apa yang dia rasakan, kerinduan seorang anak akan sosok ibu yang mau memeluknya erat tanpa syarat.

Perlahan dia mulai tenang, dan melepas pelukannya, dia kembali menatapku, seolah mencari jawaban bahwa aku menyayanginya. Aku tersenyum padanya, sebagai tanda bahwa aku orang yang akan membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Aku mulai melihat ada percikan rasa percaya dalam matanya.

“Lara mau, kan melanjutkan sekolah lagi,” tanyaku perlahan. Lama dia tidak menjawab. Tapi kemudian akhirnya perlahan dia menganggukan kepala tanda mengiyakan. 

Aku menarik napas legaaa…kualihkan pandanganku pada sosok nenek disamping gadis itu. Tampak nenek yang sudah sangat sepuh itu tersenyum lega padaku, ku lihat dari sorot matanya dia berterima kasih padaku karena sudah membuat cucunya mau sekolah lagi.

Ternyata benar dari hal yang sederhana yaitu senyuman bisa menghadirkan harapan bagi seseorang. Seperti pada saat ini, saya datang mengunjungi Lara tidak dengan membawa sebuah atau berbagai bingkisan, tetapi saya hanya membawa sebuah niat dan senyuman yang tulus. Ternyata dengan apa yang saya bawa, yang tidak nampak oleh besar kecilnya angka, apa yang saya berikan mampu membawa sebuah energi yang luar biasa baiknya, Lara yang sebelumnya tidak mau sekolah karena ditinggal oleh ayah dan ibunya kini dia bisa tersenyum lagi, dia bersedia sekolah karena sebuah energi yang tidak bisa nampak oleh mata.

Baca Juga  Gadis Pemberani?

Besoknya, aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa menyambut murid-muridku, dan…senyumku mengembang saat aku melihat gadis ringkih yang kemarin aku temui, berjalan ke arahku, tampak berbeda, ada keyakinan dalam langkahnya, ada kekuatan dan harapan dalam matanya.

Dan kini dia berdiri tepat di hadapanku. Ku sampaikan sapaan pagi untuknya

“Selamat pagi anak hebaatt,” dan tak seperti biasanya kali ini dia menjawab sapaanku meski pelan dan ragu, “Selamat pagi Ibu….” dia  menatapku dan tersenyum padaku seolah mengucapkan terima kasih padaku.

Demikian pada hari-hari berikutnya, Lara gadis ringkih yang sebelumnya tampak lusuh dan kering sekarang tampak segar dan semangat, dia menjalani hari-hari sekolahnya dengan rasa bahagia dan penuh harapan.

Bagikan
Post a Comment