f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pemain anak layangan putus

Layangan Putus: Perlindungan untuk Pemain Anak

Layangan Putus sedang hits. Sebelum liburan akhir tahun, film itu jadi bahasan guru dan staf di sekolah saya. Dari situ, saya mulai ikut aktif dalam menikmati tayangan tersebut. Namun semakin  saya menikmati tayangan Layangan Putus, semakin saya merasa bersalah kepada seorang pemain cilik di film itu, GA.

Masalahnya, film ini untuk orang dewasa. Pada bagian awal ada peringatan bahwa “Film ini memiliki tema yang hanya pantas untuk usia 17 tahun atas. Mohon patuhi batas usia tersebut.” Nah, kalau untuk penonton ada peringatan untuk batas usia, bagaimana dengan pertimbangan untuk pemain anak?

Paradoks Film vs Realita

Saat bermain di film Layangan Putus, GA berusia 8 atau 9 tahun. Menurut Jean Piaget, seorang psikolog yang melontarkan teori perkembangan kognitif, anak di kisaran 7-11 tahun berada di Tahap Operasional Konkret. Pada tahap ini logika anak sudah berkembang. Dia sudah mampu berpikir sistematis (menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi). Di tahap ini anak juga sudah mulai dapat meninggalkan pemikiran egosentris, dan mulai membangun pertemanan secara erat.

Kurikulum Indonesia memegang teori Piaget dengan ketat. Ini terlihat dari tema belajar untuk siswa kelas 3 hingga 6 SD  yang tidak lagi terkait dengan diri sendiri (misalnya, tema belajar “Tubuhku”, “Keluargaku”, dan “Temanku”), tetapi sudah mengarah ke dunia luas (misalnya, “Perkembangbiakan”, “Indahnya Kebersamaan”, dan “Globalisasi”).

Kemungkinan GA duduk di Kelas 3 atau 4 SD ketika dia bermain film Layangan Putus. Dia pastinya sudah  belajar tentang hidup rukun ketika Kelas 2 SD, baik melalui pelajaran PPKN, Matematika, Agama, maupun Bahasa Indonesia. Namun saat terlibat di film, dia berhadapan dengan cerita tentang keluarga yang tidak rukun. Papip (ayah Raya)   membohongi Mamim (ibu Raya) dengan berselingkuh. Ibu temannya, Brandon, juga berselingkuh untuk sebuah alasan yang terlalu pelik bagi anak. Ini bertentangan dengan kemampuan kognitifnya yang meninggalkan ranah egosentris dan mementingkan hubungan sosial.

Baca Juga  Perempuan di Balik Layar Perdamaian

Hal lain yang menonjol di film adalah seksualitas, baik seksualitas terlarang (perselingkuhan) maupun aktivitas seks tak wajar karena di tempat umum (lahan parkir). Di sekolah mainstream, isu ketubuhan baru ada pada pelajaran IPA Kelas 6. Pelajaran itu mencakup perubahan fisik yang menandai awal kedewasaan seseorang. Katakanlah GA tidak pernah terpapar adegan itu karena syuting berada di tempat terpisah.  Namun ada kemungkinan GA mendapat informasi saat kegiatan pemasaran film, baik ketika preview maupun konferensi pers. Dalam kegiatan itu pastinya ada percakapan tentang isu-isu dewasa, dan GA mendengar. GA memang berada di tahap berpikir sistematis, menurut Piaget, tetapi kemampuan nalarnya masih sangat dini untuk mengolah informasi.

Pendampingan Pemain Anak dalam Film

Justin Henry bermain dalam Kramer vs Kramer di tahun 1973 pada saat dia berumur delapan tahun. Di dalam film itu dia menjadi Billy Kramer yang diperebutkan oleh orang tuanya (Joanna dan Ted Kramer) yang akan bercerai. Menurut Justin, saat syuting, dia menjalin kedekatan seperti ayah dan anak dengan dengan Dustin Hoffman (berperan sebagai Ted  Kramer). Justin mengatakan bahwa dia tidak menghapal skenario, tetapi berakting dan berbicara sesuai hasil obrolannya dengan Hoffman. Jadi bisa dikatakan bahwa pendamping Justin Henry adalah Dustin Hoffman, yang kebetulan adalah ayah dari tiga anak sebaya Justin.

Sutradara memanfaatkan kedekatan itu. Pengambilan gambar pada momen perpisahan Billy dan ayahnya terjaI pada hari terakhir kegiatan syuting. Film itu berakhirdengan jatuhnya hak asuh pada ibu Billy, sehingga Billy harus berpisah dari ayahnya. Justin menangis tersedu-sedu karena dia memang harus berpisah dengan ayah dan pembimbingnya selama syuting.   

Tatum O’Neal tidak seberuntung Justin Henry yang mempunyai pendamping di film. Ketika berperan di film Paper Moon (1973), dia belum bisa membaca sekalipun usianya sudah 8 tahun. Sutradara kerap mengancamnya akan memakunya di pohon kalau dia tidak bisa menghapal dialog. Tatum tidak menghapal, dia menyerap pembicaraan orang-orang di sekitarnya.

Baca Juga  Corak Pemikiran Islam Kontemporer

Film itu berkisah tentang perjalanan Addie Logins, seorang anak yatim piatu, dari rumahnya di Kansas ke rumah tantenya di Missouri. Dia diantar oleh seorang pria, Moses Pray (diperankan oleh ayahnya sendiri, Ryan O’Neal). Perjalanan itu penuh dengan kekerasan. Bagi Tatum, kehidupan dalam film itu tidak ubahnya dengan kehidupan pribadinya, karena emosi ayahnya yang labil. Tatum membutuhkan pendampingan tidak hanya di dalam film, tetapi juga dalam kehidupan nyata.

GA hidup di era yang berbeda dari Justin Henry dan Tatum O’Neal. Dengan adanya internet, sorotan terhadap pemain film menjadi lebih besar, dan kalau ada sesuatu yang melenceng dalam perlakuan terhadap anak, pemberitaan bisa viral di sosial media maupuan. Sekalipun demikian, kehidupan pribadi GA tidak terakses publik. Pada akun IG GA, dikelola oleh ibunya, hanya ada kegiatan GA sebagai pemain film. Mungkin ibunya yang berperan sebagai manajernya menjaga ketat privasi GA. Mungkin ibunya juga memberi pendampingan kepada GA terkait dengan konten film yang akan dilakoni. Wallahu alam.

Peran Sekolah bagi GA

Kalau GA adalah murid di sekolah saya, saya akan melakukan pendampingan khusus agar tidak terjadi ketimpangan dalam perkembangan GA, dan lingkungannya.

Karena GA sudah berprofesi sebagai pemain film, saya akan meminta orang tuanya untuk memberi tahu apabila kelak GA mendapat tawaran bermain dalam film. Alur cerita di dalam film perlu transparansi dengan sekolah agar bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak sesuai harapan. Misalnya, di dalam cerita Layangan Putus ada tokoh psikolog sekolah yang berselingkuh dengan ayah dari siswa sekolah. Seandainya GA adalah siswa kami, kami perlu meluruskan persepsi anak tentang posisi psikolog sekolah. Siapa tahu ada yang jadi berpandangan negatif terhadap profesi itu. Kami perlu menyampaikan bahwa psikolog sekolah bertugas untuk membantu anak, bukan menyakiti hati anak. Pihak sekolah pun perlu berdiskusi dengan orang tua GA mengenai penokohan itu.

Baca Juga  Perlindungan Anak di Indonesia

Isu dewasa di dalam film, seperti di Layangan Putus, juga perlu jadi pembahasan karena mungkin saja teman-teman GA akan menonton. Kemungkinan,  ketika belajar tentang pubertas kelak, mereka sudah tahu tentang bagaimana laki-laki berhubungan dengan wanita. Kita tidak mungkin kan menghapus konten yang sudah masuk ke kepala anak.

Karena GA sudah terkenal, bukan hanya GA yang perlu dijaga, tetapi juga teman-temannya. Bukan tidak mungkin, teman-teman GA jadi rendah diri karena belum punya prestasi. Rasa rendah diri itu bisa memunculkan perilaku verbal abuse terhadap teman.

Dalam situasi kelas, guru perlu menempatkan GA dalam posisi setara dengan teman-temannya.  Ketika kerja kelompok pun, seperti halnya teman-temannya, GA bisa mendapat peran sebagai anggota dan pemimpin. Dalam kegiatan tanya jawab, semua anak GA dan teman-temannya mendapat giliran yang sama untuk berbicara.

Kesempatan GA berkiprah di luar sekolah bisa dimanfaatkan dan berdampak positif bagi teman-temannya dan GA sendiri. GA bisa menjadi narasumber tentang proses pembuatan film, profesi-profesi yang ada di dunia film, kerja sama dalam proyek film, dan lain-lain. Kesempatan untuk berbicara dalam posisi narasumber merupakan pengakuan terhadap prestasi GA, dan pada akhirnya akan membuat GA berperilaku wajar.

GA bukan siswa kami, tetapi keterlibatannya dalam Layangan Putus menjadi pelajaran apabila kelak seorang siswa kami menjadi seorang bintang.

Editor : Iefone

Bagikan
Comments
  • wahyu agung prihartanto

    Konsep layangan putus lebih baik daripada menangkap bola baseball

    Desember 29, 2021
  • Nurul Laily

    Komentar Ken, saat saya nonton film ini “Mama jangan nonton film yang marah-marah, nanti Mama sama Papa jadi marah-marah juga”. Kebetulan Ken lihat adegan Kinan marah tentang Cappadocia.

    Januari 3, 2022
  • Fajar Rochmiyatun

    Saya merasa sesak, saat melihat adegan seorang psikolog selingkuh dengan Papip, di sekolah anaknya (pula).

    Januari 3, 2022
  • Titis

    Ikut menonton berawal dari rekomendasi dari teman-teman 😊. Pemeran anak selama ini belum mendapat perhatian dan pendampingan dalam perkembangan.

    Januari 3, 2022
  • Terima kasih kak Endah sudah berbagi pandangan tentang film ini. Saya belum menonton. Lewat tulisan kak Endah, jadi paham bila berkarya harus pikirkan berbagai aspek

    Januari 3, 2022
Post a Comment