Kebutuhan Mendesak: Pendidikan Seksualitas bagi Anak
Riuh obrolan pagi itu di forum bapak pemersatu Ibu-ibu komplek alias akang sayur, tentang putri Bu Yayuk yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah.
“Ih, malu-maluin orang tua ya? Kalo aku jadi ibunya wis blas nggak punya muka.” Ujar Bu Ningsih berapi-api, alih-alih empati. Disambut komentar beberapa Ibu yang ambigu antara heran atau setuju.
Heran tentang perilakunya di lingkungan rumah yang nampak santun dan kalem. Tentang ketidakjelasan siapa ayah dari janin yang dikandung. Heran bagaimana cara orang tuanya mendidik. Entah heran sungguhan atau pura-pura heran, sekedar buat gayeng gayengan.
Untung Bu Sri segera berinisiatif menghentikan pembicaraan yang semakin lama semakin memanas. Seiring matahari kian meninggi dan akang sayur yang menunjukkan gelagat akan segera beralih ke komplek sebelah.
Menyetop pembicaraan sekumpulan ibu dengan gosip seru tentu bukan perkara main-main, bahaya sodara! Hanya orang bernyali besar yang sanggup melakukannya.
“Halah bu, nggak usah sok bijak!” sahut Bu Yuni berang, sambil membanting seikat kangkung ditangannya. Nah kan saya bilang juga apa. Tapi bukan Bu Sri, kalau tidak thas thes trengginas, Pas betul dengan namanya: Srikandi.
“Ya nggak gitu juga, bwhambuang! saya cuma jadi mikir saja bagaimana kalau kejadian pada anak saya. Mau digunjing juga? Apa nggak seperti sudah jatuh, tertimpa tangga? Saya kan jadi was-was. Nah, daripada sibuk menggunjing, apa nggak lebih baik, memastikan agar anak-anak kita nggak kejadian gitu juga?”
“Iya sih. Tapi gimana caranya?” yang lain manggut-manggut, meskipun dengan mulut merengut
***
Badyala! Ternyata sebagian besar yang pintar berkomentar, jiper juga seandainya hal seperti tersebut terjadi pada dirinya lalu dirumpiin orang sekomplek. Bagaimana enggak jiper kalau hari gini mulut tetangga lebih pedas dari ayam geprek level sarjana.
Netijen julid yang maha benar nan sempurna bergentayangan di mana-mana. Belum lagi kalau diingetin soal dosa, perhitungan di yaumul hisab sana. Dih…Sereeem.
Nyatanya, sesudah selesai memilih sayur dan aneka keperluan dapur lalu mengangsurkan uang pembayaran; kami pulang membawa beban. Bukan, bukan tentang tentengan kantong belanjaan yang hampir pasti semakin ringan di hujung bulan. Mungkin Ibu-ibu lain juga sama sepertiku yang sibuk membayangkan seandainya anak-anak mengalami; entah perkosaan, entah persukaan.
Lebih-lebih, karena sadar belum melakukan upaya spesifik untuk menjaga anak-anak dari penyimpangan perilaku seksual. Tidak yakin juga anak-anak tahu tentang batas aman pergaulan, perilaku seksual beresiko dan lain sebagainua. Lha gimana mau yakin, wong di rumah obrolan tentang pendidikan seksualitas saja jadi hal yang diharamkan . Skip..skip..skip.
Anak perempuan bertanya tentang vagina saja emaknya sudah siyok ternganga-nganga. Anak laki-laki bertanya tentang penis, sang bapak cuma bisa meringis. Mayoritas orang tua akan bilang: “Stop! Ora ilok (tidak pantas), Nanti bakal tahu sendiri pada waktunya.”
Lha pada waktunya itu kapan, Esmeralda??
Belum lagi reda perbincangan tentang anak tetangga, kita dikagetkan tentang berita beredarnya video syur (diduga) artis ibukota.
Tidak bisa tidak, anak-anak kita harus mendapat pendidikan seksualitas. Orang tua tidak boleh menutup mata, pun menunda-nunda. Mulai saja dari hal yang sederhana. Bimbing anak untuk mengenali dirinya, tubuhnya. Mengetahui apa fungsinya. Mengajarkan cara merawat dan menjaganya.
***
Saat puber, sejatinya mereka sedang sangat penasaran. Mereka bingung dan cemas dengan perubahan-perubahan yang dialaminya; kok tumbuh rambut di area kemaluan, keluar darah, tumbuh kumis, seneng kalau diperhatikan lawan jenis, lalu deg-degan saat nggak sengaja lihat gambar erotis. Dan yang lain. Ini normal tidak? Aman atau bahaya? Aku harus bagaimana?
Parahnya, setiap kali anak bertanya pada orang tua (yang dianggap paling bisa dipercayainya) malah mendapatkan penolakan. Orang tua menghindar, merasa lebih aman dan nyaman mengabaikan rasa ingin tahu anaknya dengan harapan anaknya akan mengabaikan juga rasa ingin tahunya.
Ah..andai semudah itu. Lalu berlindung dengan alibi: saya dulu tidak diberitahu ini itu, aman-aman saja kog. Menafikan kenyataan bahwa sekarang akses informasi berada dalam genggaman.
Lihat, anak-anak anda fasilitasi dengan hape full kuota, bisa mengakses apa saja. Bagi mereka mudah; orang tua menolak menjawab, ya naik banding dong. Bertanyalah mereka pada kakek guru yang maha tahu bernama Mbah Google. Belum lagi kalau mereka tergoda mampir ke situs-situs porno. Ngeri nggak? Oh bisa dikondisikan itu, ada program untuk memproteksi supaya anak-anak nggak mengakses situs begituan.
Okesip. Biarkan anak steril, tetap baik dan lugu. Eh… tapi di luar sana anak bisa jadi bertemu predator, oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan keluguannya. Ya, kecuali jika anda bisa mengawasi 24 jam sehari. Tak melepaskan sedetikpun mereka dari pandangan mata. Ke sekolah, ke rumah teman, ke tempat nongkrong, ke kamar tidur, ke kamar mandi, ke manapun. Memastikannya aman dan tidak melakukan hal yang tidak diinginkan. Mustahil bukan?
***
Saya? ya jelas angkat tangan, lambaikan bendera putih, nggak sanggup. Saya juga ogah 24 jam dikintilin bocah. Ha gimana, wong saya juga harus kerja. Urusan pergombalan yang bersih-pakai, kotor-cuci, kering-setrika itu cuma muter gitu-gitu saja sepanjang masa.
Boleh saja anda tidak percaya bahwa: 63% remaja sudah melakukan hubungan seksual pranikah, 20% dari 94270 perempuan mengalami hamil di luar nikah berasal dari kelompok remaja, dan 21% di antaranya pernah melakukan aborsi (survey KPAI & Kemenkes, 2013). 98% pelajar terpapar pornografi, penggunaan gawai tanpa pengawasan merupakan salah satu faktor penyebabnya (Kemenkes, 2018).
Sepanjang 2016 sd 2018, 8 perempuan mengalami perkosaan setiap harinya. Pengaduan yang masuk ke Komnas perempuan sebanyak 1290 kasus; terdiri dari 168 kasus incest, 195 kasus dilakukan oleh orang terdekat, 408 kasus dilakukan oleh orang yang dikenal korban, dan hanya 36 kasus yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal (Komnas perempuan, 2019).
Tahun 2018 peningkatan kasus kekerasan seksual mencapai 300%, dalam 1 minggu terdapat 7 sd 10 aduan kasus kekerasan seksual masuk untuk memohon perlindungan (LPSK, 2019), pada tahun 2019 di satuan pendidikan tercatat 21 kasus pelecehan seksual dengan jumlah korban 123, terdiri dari 71 perempuan dan 52 laki-laki (KPAI, 2020).
***
Bahkan, buat orangtua yang merasa cukup dengan memberi bekal pendidikan agama sebanyak-banyaknya, lalu merasa tidak perlu memberikan pendidikan seksualitas, boleh juga mencari/browsing tentang kasus pelecehan/kekerasan seksual yang terjadi di pesantren.
Atau di rumah ibadah dan tempat yang identik dengan aktifitas keagamaan oleh para ahli agama. Tidak perlu buru-buru sepakat dengan pendapat saya bahwa kejahatan seksual bisa menimpa siapa saja (dengan jenis kelamin apa saja), di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.
Daripada mencari, lalu jadi tahu. Paling enak memang pura-pura nggak tahu. Kalau mengerti, malah ngeri. Lakukan saja yang menurut anda baik.
Optimislah, tapi juga nggak usah terlalu percaya diri. Perhitungkan juga kemungkinan terburuk; kalau sampai kejadian seperti Mawar, sebut saja begitu. Bisa jadi hanya soal waktu.
Siapa mau? Siapa tahu?
Maka, mari mulai pendidikan seksualitas sejak dini!
Ibu rumah tangga dengan 5 anak, tinggal di Klaten, Jawa Tengah.
