f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Pakaian

Cerita Pria Hobi Berat Pada Peternakan

Setiap orang hadir di muka bumi dengan bakat dan kecenderungan bawaanya masing-masing. Sulit menjelaskannya dengan akal, mengapa Wahid Efendi bisa tenteram hatinya hanya dengan bermain dengan ayam. Demikian juga kegemarannya bercocok tanam sejak anak-anak merupakan bakat bawaan terus terbawa hingga kini.

Memelihara ayam sudah menjadi hal biasa baginya sejak dia masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Kepuasan yang diperolehnya setelah bersentuhan dengan ayam maupun itik susah diuraikan dengan kata-kata. Pada masa kecil ia sebenarnya juga tertarik untuk memelihara kambing, tetapi urung dilakukan karena kambing makananya lumayan banyak nanti malah menganggu waktu jam sekolah.

Demikian juga bila menyaksikan tanam-tanaman tumbuh menghijau di sekitarnya, hatinya baru terasa tenteram. Untuk urusan tanam-menanam ini ia biasanya bertanam cabe dan buah-buahan lainnya di sawah bersama keluarganya. Kebiasaan berdekatan dengan ungags dan tanaman terus terbawa hingga saat ini, sehingga ia selalu berdampingan dengan tanaman dan ternak. Misalnya, meskipun sekarang sudah merantau di perkotaan yang jauh dari rumah, maka di tempat kediamannya tetap harus ada beberapa ekor ayam, entok maupun kambing yang dirawat adiknya Shobirin.

Kegemarannya terhadap ayam berbanding lurus dengan selera makannya. Sekarang Wahid kulia di STKIP Lamongan, ternyata ia sangat gemar makan telur ayam setengah matang.

Ayamku sayang Ayamku Melayang

Di Desa Solokuro yang sejuk dengan hamparan sawah di sekitar desa menjadikan Wahid Efendi dapat ruang bermain-main yang luas. Wahid yang tinggal bersama orang tuanya waktu kecil memiliki sebuah permainan sekaligus pekerjaan yang menyenangkan, yaitu bermain ayam. Wahid kala itu mempunyai 25 ekor ayam dan anggon di sekitar halaman rumah saat selesai sekolah.

Setelah dirasa hewan peliharaanya aman mencari makan di halaman rumah, Wahid buru-buru masuk rumah untuk belajar menyiapkan diri untuk pergi menegaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Ikhwan Solokuro. Saat itu ia duduk di kelas 4 MI. Kebiasaan ini sudah lama ia lewati dan biasanya Wahid akan melihat ayamnya sebelum berangkat mengaji.

Baca Juga  Air Mata Doa

Namun hari  itu setelah pulang mengaji berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sebab Manakala sore itu ia sampai rumah, tempat di mana siang harinya ia meninggalkan ayam di halaman rumahnya. Terasa sunyi senyap. Hanya tinggal 5 ekor ayam yang tersisa, sementara itu ayam peliharaanya entah pergi ke mana.

Dengan menyusuri sudut-sudut gang rumah sambil bersiul-siul ia memanggil-maggil ayamnya. Sekali siualnya saja biasanya ayamnya segera datang merubung, namun sore hari itu sungguh beda. Tidak ada suara kecipak kaki ayam yang berlarian di antara sudut rumah, juga tak terdengar “kok, kok, kok.” suaranya.

Setelah memeriksa di areal sudut-sudut rumah sekitarnya, jejak ayam tidak kelihatan juga. Akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah menyampaikan hal itu kepada ayahnya yang ketika itu kebetulan dari sawah.

Mendengar kabar berita buruk dari anaknya. Sukanan dan anggota keluarga lainnya akhirnya turun ke sudut-sudut rumah untuk melacak jejak ayam-ayamnya yang hilang. Pencarian itu berlangsung hingga menjelang mangrib, namun hingga matahari semburat warna merah di ufuk barat para pencari itu gagal menemukan ayam yang rupanya telah dicuri orang.

“Seseorang penting mengenali bakatnya, dari bakat akan muncul kecintaan, dari kecintaan terbentuk cita-cita, dan cita-cita memberi motivasi untuk mencapai kessuksesan dalam hidup kita.”

Sukanan dan anggota keluarganya kemudian masuk ke rumah menyisakan kecewa. Berbeda dengan ekspresi Wahid yang biasa-biasa saja, meskipun sudah pasti ayamnya hilang entah kemana. Orang tuanya sempat heran juga melihat reaksi anaknya yang demikian rupa, karena dalam bayangannya tentulah anaknya bakalan sedih dan menumpahkan tangisan hebat karena kehilangan hewan peliharaanya. Kekhawatiran Sukanan tak terjadi, sebab Wahid mampu mengendalikan emosinya sedemikian rupa dan malam itu  pun anak itu melewatinya dengan normal-normal saja seolah tidak ada suatu yang istimewa terjadi hari itu.

Baca Juga  Menepis Kesedihan dengan Mencari Cuan, Kenapa Tidak?

Memang demikianlah Wahid Efendi kecil berpandangan bahwa sesuatu yang sudah hilang tentu tidak akan kembali lagi. “Kalau sudah hilang ya hilang,  untuk apa dipikirkan terlalu berlebihan. Sesuatu yang sudah lewat tetap akan lewat, lebih baik kita memikirkan yang tengah dan akan terjadi,” demikian Wahid Efendi mengenang masa kecilnya yang secaara alamiah sudah mengembangkan kecerdasan emosional. (Wawancara tahun 2017 kala itu penulis saat ngopi dipinggir desa bersama Wahid Efendi).

Berikutnya, Wahid sangat gemar terhadap ayam, sehingga seringkali ia menjadikan ayam sebagai teman bermain. Orang tuanya pun mengerti betul kecenderungan anak ini, sehingga jika Wahid tengah ngambek, maka biasanya ayahnya memberikan ayam  sebagai “Obat” penawar tangisan. Ayam itu sekedar memikat hasrat anak ini, tetapi lebih dari itu ia memiliki dorongan intuk mengetahui lebih jauh seluk-beluk satwa ini.

Pengalaman pahit kehilangan 25 ekor ayam tidaklah menjadikan Wahid Efendi kapok mengembangkan hobi beternaknya. Ia memang anak yang kreatif dan tak mudah menyerah. Selang beberapa waktu setelah peristiwa itu, ia pun kembali membeli beberpa ekor ayam. Sebelumya ia telah berhasil menyisihkan uang hasil penjualan untuk membeli ayam. Bila uangya ternyata belum cukup tentulah sang ayah dengan senang hati menambahinya.

Bagikan
Post a Comment