Jangan Berharap Ditolong Allah Jika Tidak Meminta
Seorang anak tengah mendorong lemari dengan begitu susah payah di dalam kamarnya. Ia mengerahkan segala tenaga dan upaya untuk mendorong lemari tersebut agar berpindah tempat ke posisi yang katakanlah paling “pas” untuk dilihat.
Memastikan seluruh benda dan perabot berada di posisi yang strategis serta mudah dijangkau. Pemandangan yang indah dalam kamar merupakan harapan banyak orang, terutama di masa pandemi yang hampir seluruh kegiatan agaknya lebih banyak dilakukan hanya dari kamar saja. Agar terlihat estetis. Begitulah sepertinya orientasi kamar ideal bagi kebanyakan orang saat ini.
***
Sebuah lemari besar masih jalan ditempat alias belum bergerak juga. Setelah beberapa menit sang anak telah berusaha mendorongnya, lemari tersebut belum juga tergeser. Tak hanya menggunakan kedua tangan, seringkali kedua kakinya ikut membantu dengan harapan dapat terdorong.
Barang kali kepalanya pun akan turut membantunya mendorong. Berlalu cukup lama dan masih nihil hasilnya, hingga ia berusaha sambil berteriak dengan cukup keras “Aduhhh… berat banget sihh…” “Ayo lahh, bergeser…”
Sontak Ayahnya yang saat itu sedang mengopi santai sambil membaca koran kaget mendengar teriakan itu. Sang Ayah pun beranjak menghampiri sumber suara tersebut—kamar anaknya—hingga kemudian mengintip dari luar pintu kamar yang sedikit terbuka.
Saat itulah, Ayahnya, tertawa dalam hati dan mendapatinya sedang kesulitan mendorong lemari yang berukuran jauh lebih besar dari dirinya.
Bagaimanapun, ia masih seorang anak SD yang berusia 8 tahun. Otot-otot paling besar seusia dia pun juga belum tentu sanggup mendorong beban berat seperti lemari tersebut. Wajar saja, lemari itu memang lemari yang terbuat dari kayu jati. Lemari yang sudah dibeli belasan tahun sebelum anak itu lahir.
***
Hingga sang anak melihat Ayahnya yang sedang mengintip dari kejauhan, lalu bertanya
“Ayah, ngapain di situ liatin aja?”
“Lagi liatin orang dorong lemari..” Jawab Ayah
“Sebenernya aku kuat sih dorong lemari ini sendiri, tapi sepertinya aku hanya butuh sedikit bantuan lagi. Mungkin jika Ayah memberikan sedikit saja bantuan, lemari ini bisa terdorong..” Ujar sang anak
“Lalu, apa?” tanya Ayah
“Apakah Ayah tidak berminat membantuku?, dari tadi aku lihat Ayah hanya mengintipiku dari kejauhan.” Tanyanya lagi
“Yaa… orang kamu nggak minta.” Balas Ayah.
“Ya seharusnya peka, dong. Udah keringetan gini loh aku dari tadi” Keluhnya
Sang Ayah pun beranjak membantu anaknya yang sedang kesulitan itu, lemari pun terdorong dan berpindah posisi.
Tak lama beberapa perabot dan hiasan lain yang ingin dipindahkan ikut tergeser dengan sempurna. Lemari, meja belajar, rak buku, dan pernak-pernik lainnya sudah berada di posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak lain dan tidak bukan juga karena bantuan Sang Ayah.
Setelah dekorasi kamar itu selesai, Sang anak masih penasaran mengapa Ayahnya tidak membantunya sejak awal. Padahal, tanpa diminta pun, melihat dirinya yang bersusah payah sedari tadi mendorong lemari, seharusnya Ayahnya dapat berbelas hati dan berinisiatif membantunya.
“Ayah, kenapa nggak bantu aku sih dari tadi?” Tanya Sang anak
“Ya… orang kamu nggak minta”. Jawab Ayah
“Masa aku harus minta dulu?” Balas sang Anak
“Lho iya dong, lagipula sepertinya tadi kamu merasa bahwa kamu cukup kuat mendorongnya sendirian. Kalau dari awal sudah paham bahwa kamu tidak mampu melakukannya sendiri, ataupun kamu sudah mencoba mendorongnya dan ternyata kamu mendapatkan kesulitan, seharusnya tanpa berlama-lama lagi, kamu bisa langsung cari bantuan kepada orang lain di rumah, yang punya power (kekuatan) lebih dari kamu..” Jawab Ayah
Sang anak pun terdiam, termenung akan kepongahannya yang enggan meminta bantuan.
***
“Begitu pula berbagai masalah dalam kehidupan, Nak.. Kita seringkali merasa bahwa kita dapat menyelesaikan semua masalah sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri memang pepatah yang cukup baik dalam beberapa hal. Tapi, kiranya kita sadar bahwa kaki kita sendiri adalah juga milik Allah.
Merasa diri cukup kuat dan mampu menyelesaikan segala macam cobaan dan persoalan, adalah bentuk egoisme yang selain kotor, juga sombong terhadap Tuhan.“ Jelas sang Ayah sambil merangkul Anaknya.
Barangkali ketika kita punya banyak hajat dan keinginan yang belum dikabulkan, adalah memang karena kita lupa meminta bantuanNya, kita tidak meminta kekuatan dari Sang Pemilik kuasa. Mungkin Allah juga akan berkata sama seperti sang Ayah “Ya, orang kamu nggak minta.”
Sering kali kita lupa bahwa Allah lah Sang pemilik super-power tersebut. Kita lupa untuk meminta bantuan kepadaNya. Padahal, selain kerja keras dan segala upaya yang telah kita lakukan, kita harus sadar bahwa kekuatan kita sendiri belum bisa melunaskan berbagai hajat dan keinginan karena memang diluar kuasa kita. Menjadi rendah hati dengan meminta (berdoa) kepadaNya adalah suatu bentuk keharusan. Allah sendiri bahkan yang memerintahkan kita untuk meminta:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah (memintalah) kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Q.S. al-Mu’minun: 60)
Maka sebelum berdoa, akuilah kepadaNya bahwa kita ini memang hamba yang lemah nan rapuh, hamba yang tak berdaya dihadapanNya, dan hanya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkaulah satu-satunya tempat meminta dan mengadu.
Berdoa adalah penawar bagi hajat yang ingin dikabulkan dan obat bagi kesembuhan jiwa. Dengan menyadari dan menegaskan bahwa kita memanglah hambaNya yang lemah, kita tidak akan hanya terfokus pada terkabulnya doa, melainkan menikmati proses berdoa sebagai ritual penghambaan yang sesungguhnya. Menyadari bahwa segala sesuatu memang ada pada kehendakNya. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.
Suka membaca, menerka-nerka, dan sewajarnya menjalani hari. Biasa-biasa saja.
