f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pesantren

Kehidupan Pesantren

Waktu itu, aku baru lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan aku mempunyai keinginan untuk lanjut di pondok pesantren.

Awalnya orang tuaku yang menginginkan aku mondok sejak aku lulus  Sekolah Dasar (SD). Tapi aku menolaknya, karena pikirku aku masih terlalu kecil untuk jauh dari oang tua; dan aku juga tergolong anak yang manja. Jadi keputusan kali ini harus sudah tepat untuk mondok di pesantren.

***

Pada malam hari dengan suara gemercik air hujan, suasana yang dingin dan teh hangat yang nikmat menemani. Aku dan keluargaku berkumpul di ruang TV. Ayahku bercerita tentang kehidupan pondok. Aku mendengarkan ayah yang sedang asyik bercerita, lalu aku bertanya padanya. “Ayah aku nanti mondok di mana?”

 “Ayah belum tau, nanti hari minggu kita mulai survei ke pondok pesantren ya”. Setelah pembicaraan berakhir. aku pun mengantuk dan aku masuk kamar untuk tidur.

Suara adzan berkumandang, waktu subuh telah datang. Aku bergegas bangun dari tempat tidur untuk shalat berjamaah bersama keluargaku. Setelah itu, aku dan ayah bersiap-siap untuk survei ke pondok. Kata ayah, “kita coba ke pondok saudaramu dulu ya”

“Iya ayah, terserah ayah, aku ikut aja”. Jawabku sambil menganggukkan kepala.

Waktu menunjukkan pukul 06.00, aku dan ayah sudah siap motor pun sudah dikeluarkan oleh ayah. Ibu berkata

“Hati – hati di jalan nak, ayah kalau ngantuk istirahat dulu jangan terlalu memaksakan.”

“Oke, siap mah. Doakan kita selamat ya.” Aku dan ayah serentak menjawab.

**

Setelah empat jam dalam perjalanan, akhirnya aku dan ayah tiba di pondok pesantren Al – Hikmah. Di sana kami bertemu pengurus pondok tersebut, lalu diarahkan menuju ruang pendaftaran. Dalam hatiku berkata, “Wah gede banget pondoknya”. Kami langsung diberi brosur pondok dan sekolah oleh pengurus, lalu aku membacanya, sedangkan ayah bertanya – tanya mengenai pondok tersebut kepada pengurus. Ayah bertanya padaku

“Gimana Put, kamu mau di sini? InsyaaAllah bagus ada bahasa dan program tahfidznya”

“Emm iya deh yah, aku mau di sini.”

“Jangan iya deh, ayah terserah sama kamu.”

Baca Juga  Saya Diduplikasi Oleh“nya” (bagian akhir)

“InsyaaAllah iya yah, di sini juga ada dua bahasa. Ayah kan tau aku pengin banget bisa bahasa Inggris dan Arab.”

“Alhamdulillah, Ayah ngurus registrasi pendaftaan dulu ya.” 

“Oke Ayah.”

Sebenarnya Ayah tak ingin aku mondok terlalu jauh, makannya ayahku memilih pondok itu  yang lumayan tidak jauh dari rumah karena agar ayah bisa menjengukku dengan mudah.

***

Beberapa minggu setelah pendaftaran, akhirnya hari ini sudah tiba waktunya aku berangkat ke pondok pesantren. Memang dari semalam aku tak bisa tidur, tak terasa aku akan meninggalkan rumah dan menemukan keluarga baru dis ana. Setelah sarapan aku masih mempersiapkan barang – barang yang akan dibawa nanti, ibuku membantu aku mempersiapkannya, lalu ibu berkata;

“Putri anak ibu, besok di sana jangan nakal ya. Belajar dan mengaji yang sungguh – sungguh.”

“Iya ibu, InsyaaAllah Putri akan sungguh – sungguh menuntut ilmunya. Dokan selalu ya bu.” Jawabku sambil menahan air mata.

“Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu.”

Semua barang – barang sudah siap dimasukkan ke dalam mobil. Waktu menunjukkan pukul 08.00, saatnya aku berangkat ke pondok pesantren. Kita tiba di pondok di waktu zuhur. Dan kami santri baru disuruh berkumpul di masjid.

Setelah berkumpul di masjid, aku membawa barang – barangku ke asrama dan ibu membantuku karena laki – laki tidak boleh masuk asrama, jadi ayahku menunggu di masjid. Azan ashar mulai berkumandang, waktunya ayah dan ibu pulang. Di saat mereka ingin pulang aku menangis tersendu – sendu sambil memeluknya dan ayahku berkata padaku.

“Putri ngga usah menangis ya, kamu harus belajar yang rajin. Ngga usah mikirin rumah”

“Turutin kata pak kyai, ustaz ya, jaga kesehatan. InsyaaAllah kalau ayah dan ibu ada rezeki pasti jengukin Putri”. Sahut ibu sambil matanya yang berkaca – kaca.

“Iya ayah, bu. Doain Putri biar betah di sini ya”.

Ternyata teman – teman santri juga banyak yang menangis. Dan setelah perpisahan dengan orang tua, kita shalat ashar berjamaah terlebih dahulu lalu melanjutkan merapikan barang – barang. Sambil merapikan kita berkenalan satu sama lain, di kamarku ada dua orang kaka kelas dan sepuluh santri baru termasuk aku.

Baca Juga  Yang Tak Terdefinisikan (2)

Awal pekenalan masih malu – malu, wajar saja karena masih beradaptasi. Kaka kelasnya bernama kak Aisyah dan kak Fitri merekalah yang akan membimbing kita santri baru.

***

Pada pukul 05.00 sore kita waktunya makan, kita makan ngambil sendiri – sendiri di catering pondok. Maghrib pun tiba, “All of student prepare for maghrib prayer” (pengumuman speaker dari pengurus pondok). Kita langsung mengambil air wudhu dan siap siap ke masjid untuk shalat maghrib berjamaah.

Setelah shalat sambil menunggu waktu isya, pak kyai memberikan sambutan kepada santri baru sekalian berkenalan. Beliau bernama KH. Sholahudin, pesan yang beliau sampaikan adalah “sekarang di sini kalian adalah keluarga, maka kalian harus saling menyayangi, mengasihi, kyai dan guru kalian adalah orang tua kalian, belajar yang sungguh – sungguh karena orang tua kalian sudah menitipkan kalian kepada kami.”

Setelah itu, adzan isya berkumandang kita sholat berjamaah dan pas dzikir aku menangis merindukan keluargaku; tapi aku harus sabar karena ini ujian kita mondok.

Kemudian kita istirahat karena besok ada kegiatan Mos di sekolah.  Malam yang sepi dengan suasana yang dingin, aku tidur sambil dengan selimut dan air mata jatuh tiba tiba. Tepat jam 03.00 pagi kita bangun untuk shalat tahajud sekaligus shalat shubuh.

Pagi yang cerah dengan udara yang segar, setelah sarapan kita berkumpul di halaman sekolah, panitia Mos akan membagikan kelompok. Kelompokku bernama “Maryam” beranggotakan sepuluh orang yang diketuai oleh Anis anak Cirebon yang didampingi kak Laela kemudian kita membicaraka yel yel. Setelah kegiatan Mos kita siap – siap untuk shalat dzuhur dan aku berkenalan dengan seorang santri baru ketika di masjid.

“Hai siapa namamu?” aku sambil tersenyum

“Namaku Fitri, kamu siapa? Sahutnya.

“Aku Putri kamar lantai satu nomor satu”

“aku di lantai dua nomor tiga”

***

Kita berkumpul di lapangan dan menyanyikan yel – yel. Kegiatannya asik dan menyenangkan sekali. Akhirnya azan ashar pun berkumandang dan kegiatan juga sudah selesai. Kita mandi dan bersiap – siap sholat asar berjamaah kemudian makan sore. Setelah shalat maghrib kita dibagikan kelompok mengaji oleh pengurus kemudian lanjut istirahat, karena besok sudah aktif pengajian pondok dan sekolah.

Baca Juga  Sisi Lain Gemerlap Kota

Seperti biasa dengan suasana yang sejuk dan dingin, kita dibangunkan jam 03.00 untuk sholat tahajud dan sekaligus sholat shubuh. Setelah itu, pengajian Al-Qur’an perkelompok, pengajarku Umi Azkiya. Lalu jam 06.00 pengajian lagi yaitu kitab tafsir Al-Qur’an Jalalain sampai jam 06.45 oleh Abah Muhlas.

Pada  jam 07.05 kita berangkat sekolah. Pertama masuk sekolah kita berkenalan terlebih dahulu dengan wali murid dan teman kelas. Aku berkenalan dengan teman sebangkuku. Pertama dia yang menyapaku

“Hai boleh aku duduk di sini?”

“Oh iya silakan, kosong kok” jawabku.

“Terimakasih, kenalin aku Audi. Kamu siapa?

“Aku Putri” sambil bersalaman

Pulang sekolah jam 03.00 sore karena full day school, setelah sholat asar kita ada pengajian kitab fiqih bersama Gus Nasr. Kemudian shalat maghrib selesai kita pengajian kitab tentang akhlak oleh Abah Sholah.

Dari kitab itu aku jadi tambah mengerti bagaimana kita harus berbakti kepada orang tua, cara ta’dzim pada kyai dan guru – guru salah satunya ketika beliau lewat kita harus diam sambil menundukan kepala itulah tradisi yang ada di pesantren adab kita terhadap kyai.

Setelah sholat isya kita sekolah agama di pondok banyak yang diajarkan seperti Nnhwu shorof, fiqih, sejarah Islam. Pulang sekolah agama pada jam 09.00 malam kemudian dilanjut belajar bahasa Inggris dan Arab serta setoran kosa kata pada pembimbing. Lalu kita istirahat pada jam 11.00 malam.

***

Hari demi hari aku lalui, dari kegiatan yang padat membuatku tidak memikirkan rumah. Namun rasa rindu ini belum terobati tapi tidak mengapa meski sesekali aku merasakan kebosanan karena kegiatannya tetapi aku harus tetap semangat dan mencari ilmu dengan sungguh – sungguh. “Carilah ilmu walau sampai ke Negeri Cina”

Bagikan
Post a Comment