Anak Nakal Haruskah ke Pondok Pesantren ?
Sesosok jejaka tanggung sempat mencuri perhatianku malam itu. Hatiku terusik untuk melontarkan pertanyaan ringan padanya. Walaupun udara di dalam bis malam yang kutumpangi menuju ibukota sangat dingin, tak menyurutkan niatku untuk bertanya ini itu. Dari pertanyaan singkat kutahu dia sedang menuntut ilmu kelas 9 di sebuah pondok pesantren di daerahku dan pulang ke Jakarta karena ada libur sekolah seminggu.
Tak banyak yang sempat kutanyakan karena setiap kutanya jawabannya selalu singkat. Mungkin dia tidak suka ditanya-tanya atau mungkin juga tidak ingin aku tahu banyak tentangnya.
Tapi malam itu aku benar-benar penasaran dengan penampilan bocah ini. Pakai jaket jeans celana pendek di atas lutut dan rambutnya gaya plonthos regem di atas telinga yang hanya sebelah. Dalam hati, bocah ini bener santri apa nggak ya?
Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan meski pepatah Jawa mengatakan “ajining raga gumantung saka busana”. Aku hanya bisa meraba apakah dia termasuk salah satu dari anak yang bermasalah lalu dibawa orang tuanya ke Pondok Pesantren?
Mengingat di Jakarta dan sekitarnya banyak Pondok Pesantren (PP) yang cukup terkenal, mengapa jauh-jauh ke PP daerah? Apakah ini merupakan bentuk memberi pelajaran kepada anak yang bermasalah, misalnya? Kenapa bermasalah? Sebagai orang tua, pikiranku jadi berputar-putar ingin segera mendapatkan jawaban.
***
Tepat jam 21.00 bis berhenti. Para penumpang istirahat, sholat dan makan. Jiwa keibuanku tidak bisa kusembunyikan dan akupun mengajaknya turun sambil bertanya dengan mimik seramah mungkin agar dia nyaman dengan pertanyaan dan ajakanku.
“Turun yuk! Sholat dulu apa maem dulu, Dik?” Aku berharap dia memberiku jawaban dengan memilih salah satu.
“Aku tidak sholat,” jawabnya tanpa menoleh dan aku pura-pura tidak terkejut padahal aku benar-benar tidak menyangka atas jawabannya.
“Kenapa?” lebih kulembutkan pertanyaanku.
“Gak bawa sarung,” jawabnya singkat dan padat.
Subhanallah, aku hanya tersenyum lalu mulutku membentuk lafal “o” tanpa suara dan penasaranku tak perlu bertambah karena sebagian agaknya sudah terjawab.
***
Masalah ibadah, khususnya shalat memang wajib bagi kita sebagai muslim. Tapi kalau kita menjumpai seseorang yang tidak atau malas melaksanakan kewajiban ibadahnya tentu bukan lantas menjadi urusan kita. Tapi kali ini lain.
Seorang santri, abg, tidak mau diajak shalat gegara tidak membawa sarung adalah wagu. Paling tidak dia bisa mengelabui aku dengan jawaban misalnya, ya ibu shalat dulu aja, sehingga tidak ada kesan buruk yang menghampirinya. Bukan mengajak berbohong, tapi setidaknya dia harus sedikit cerdas dalam bersikap agar kekurangan diri tak sampai orang lain tahu dan menganggap bahwa dia adalah sosok anak baik-baik.
Anak bermasalah atau katakanlah nakal, tentu bukan bakat alam tapi ada penyebab dan pemicunya. Karena sering kita lihat, banyak orang tua yang baik-baik saja tapi anak-anaknya nakal. Pengaruh lingkungan juga sangat berperan penting dalam hal ini.
Orang tua seperti saya, tentu lebih paham apa kira-kira penyebab mereka nakal. Apalagi di zaman sekarang ini banyak kita jumpai seminar-seminar parenting yang hampir setiap saat ada. Meski kita tahu tidak semua orang tua bisa mengikuti seminar.
Bagi orang tua yang sangat sibuk dan hampir tak ada waktu dirumah bercengkerama dengan anak akan menjadi lain ceritanya. Tak jarang justru orang tua menyerahkan pendidikan putra putrinya pada sekolah berasrama atau pondok pesantren. Yang terakhir ini seperti sebagai pelarian bagi sebagian orang tua agar beban pendidikan karakter anak cukup diserahkan di pondok pesantren (ponpes). Dengan menyekolahkan anak di ponpes sah- sah saja, karena itu merupakan lembaga pendidikan yang salah satu tujuannya membentuk karakter santri menjadi lebih mandiri, cerdas dan berahlak mulia. Saya setuju.
***
Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang baik dan sholeh yang kelak akan selalu mendoakan kedua orang tuanya. Kurikulum yang diajarkan di ponpes jelas berbeda dengan sekolah umum lainnya. Ilmu agama yang diajarkan ke para santri lebih luas, termasuk kelas tahfidz’ kelas budi pekerti dan kelas-kelas lainnya.
Bagi santri atau calon santri yang secara lahir batin ingin menekuni bidang agama lebih dalam, disinilah tempatnya. Juga bagi anak “khusus” tidak lantas salah bersekolah di sini, karena orang tua pasti punya tujuan dan target yang mau dicapai dengan memasukkan anak di ponpes.
Meskipun kini banyak ponpes yang makin maju, peran orang tua tetap nomor satu dalam pengembangan dan pembentukam watak pribadi anak. Tidak jarang orang tua yang pasrah menyerahkan anak pada ponpes lantaran sudah tak berdaya. Entah karena tingkat kenakalan yang sudah melampaui batas atau bisa juga, orang tua khawatir karena lingkungan sekitar yang kurang mendukung perkembangan mental anak.
Jujur, kita akui atau tidak, banyak anak bermasalah yang akhirnya menjadi lebih baik ketika menuntut ilmu di . Ini tidak bisa dipungkiri. Penting untuk kita sadari bahwa “mengirim” anak ke ponpes bukanlah solusi terakhir atas kenakalan anak. Apalagi merasa yakin satu-satunya tempat untuk menyembuhkan mereka dari kenakalan.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Setuju kakak..
Perlunya pendidikan karakter sedari dini ..
Pendidikan yg pertama ada di keluarga/ in formal .Selanjutnya pendidikan formal dan non formal.
Abatas
Terimakasih artikelnya sangat membantu sekali kak
Wurry Srie
Trmkasih kembali. Semua anak sama, nakal atau tidak tergantung bgmna orah tua menyikapi, sebab kriteria nakal itu relatif.
Wurry Srie
Trmkasih kembali. Semua anak sama, nakal atau tidak tergantung bgmna orah tua menyikapi, sebab kriteria nakal itu relatif.