f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

5 Hal Penting Saat Mendidik Anak Usia Dini

Anak itu istimewa. Fitrah mereka adalah belajar. Sejatinya, mereka suka mencari tahu. Namun, bagaimana mengajar dan menghadapi mereka sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan emosionalnya?

Sudah pasti, berkomunikasi dengan anak beda dengan orang dewasa. Ada hal-hal yang wajib kamu tahu dan ulik lagi. Sebenarnya, anak banyak memberi inspirasi dan pelajaran istimewa kepada guru dan orang tua.

Masalahnya adalah, kamu kadang lupa bahwa kamu juga pernah kecil tapi kamu memperlakukan mereka seperti orang dewasa. Akibatnya, ada banyak hal tumpang-tindih karena perlakuan ini.

Lalu bagaimana mengajar juga berkomunikasi kepada anak usia dini, misalnya usia KB/Kelompok Bermain dan TK/Taman Kanak-kanak?

15 Maret 2022 lalu, saya berkesempatan ngobrol santai dengan Siti Zaitun. Beliau adalah Kepala Sekolah KB/TK Penguin Family Islamic School.

Pada kesempatan itu, Zae -sapaan beliau, membagikan tips-tips mengajar siswa KB dan TK.

Selama 8 tahun, wanita asal Bekasi ini terjun dan menyelami dunia pendidikan mereka. Selama itu pulalah ia selalu menerbitkan semangat baru setiap harinya, tak hanya pada diri namun pada anak didik dan orang-orang di sekitarnya.

Berikut hal-hal yang perlu kamu cermati ketika mendidik siswa di rentang usia 2 hingga 6 tahun:

Sabar

Usia belajar di KB itu 3 – 4 tahun. Sementara TK A di usia 4 – 5 tahun dan TK B di usia  5 – 6 tahun.

Di usia-usia ini, anak banyak mengalami perkembangan emosi. Ia juga belum bisa mengelola emosinya dengan baik. Kontrol dirinya terhadap regulasi emosi perlu kamu bantu.

Jadi, kalau kamu sebagai guru atau orang tua terpancing emosi, ini menjadi runyam. Oleh karena itu, kamu perlu sabar.

Sabar ketika anak tantrum, mengamuk, menangis, dll yang bisa saja terjadi saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung.

Baca Juga  Menjadikan Anak Berprestasi atau Anak Berakhlak?

“Tugas kita adalah membiarkan anak mengeluarkan emosinya. Kita bisa peluk dia dari belakang tanpa kata. Biarkan ia menangis. Jika sudah tenang, kita bisa tanya. Kenapa sedih? Dan kenapa marah? Kenapa menangis? Setelah mengetahui alasannya, kita boleh jelaskan. Misal, ia nangis karena mainan yang ia mau sedang dipakai oleh temannya. Kita bisa jelaskan kalau mau main, ia harus antri. Setelah ia paham, kita boleh bertanya, Nanti kalau mau main lagi dan teman sedang pakai, tidak perlu nangis ya, tapi antri dulu, bisa?” penyuka warna biru ini menjelaskan.

Biasanya hal demikian tidak langsung otomatis berhasil di kemudian hari. Bisa jadi peristiwa yang sama berulang. Tidak apa-apa, ini butuh proses hingga akhirnya si anak bisa mengerti untuk tidak menangis dan antri bila mainan yang ia mau sedang dimainkan anak lainnya.

Berkomunikasi dengan baik

Komunikasi dengan anak itu beda dengan komunikasi dengan orang dewasa.

Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan di antaranya: menyamakan posisi tubuh kita dengan anak, muka sejajar dengan muka, beri perhatian – bisa dengan gesture, menatap wajah anak, dll.

Intinya, kamu fokus ke anak, tidak mengerjakan hal lain atau sambil lalu.

“Tak sedikit orang tua yang bicara sama anaknya, tapi ngomongnya di dapur atau sambil lewat aja. Padahal, tak hanya posisi tubuh dan gesture yang perlu diperhatikan, frekuensi suara juga mesti sama, loh. Frasa yang kamu pilih juga jangan berbelit tapi to the point aja, yang jelas.”

Misal, kamu mau anak merapihkan mainan, kamu bisa bilang, “Mainannya berantakan, ayo bereskan.”

Atau, “Ayo solat, sudah azan.”

Kesimpulannya, mengajak bukan menyuruh. Anak usia dini tidak suka disuruh.

Baca Juga  Menyulam Kasih di Tengah Kesibukan: Menciptakan Keluarga Sakinah di Era Modern

Tulus

Mengajar anak usia dini membutuhkan effort yang besar. Kalau kamu tidak tulus, kamu bisa menyerah di tengah jalan. Apalagi tantangannya banyak.

Selain faktor emosi, anak usia dini juga belum cakap mengurus dirinya sendiri, misal toilet training. Biasanya anak KB – ada yang 2,5 tahun, masih pake diapers. Guru mengajarkan toilet training di sekolah. Tentunya orang tua melanjutkan pendidikan ini di rumah. Sehingga, apa yang menjadi harapan bersama bisa menjadi kenyataan – lulus toilet training.

“Anak peka terhadap emosi. Ia mengetahui mana orang dewasa yang tulus mana yang tidak. Jika kamu tulus, ia akan perhatian. Proses enggagementnya pun lebih cepat,” imbuh Zae.

Mengerti tahap perkembangan anak

Kamu harus paham tahap perkembangan anak. Manusia kecil ini usia berapa, anak ini siapa, perkembangannya pada tahap apa, dll.

Jadi, pembelajaran sesuai usia. Sesuai perkembangan. 

Perlu diketahui bahwa di usia dini anak tidak suka dibandingkan. Mereka perlu penghargaan. Setiap anak punya kelebihan masing-masing. Biarkan ia percaya diri dengan dirinya sendiri – termasuk kelebihannya.

Oleh karena itu, kamu harus mengemas kurikulum bersifat fleksibel. Satu kurikulum tidak bisa mentah-mentah kamu terapkan pada semua anak.

Menyamaratakan kurikulum untuk semua anak merupakan tindakan kurang tepat. Hal ini akan mengakibatkan insecure, hilang jati diri, kebingungan akan diri di kemudian hari karena penyeragaman tadi.

Open mind

Kamu harus terus belajar. Jaman terus berubah. Ilmu terus berkembang.

Tidak ada salahnya kamu terus mengosongkan gelas. Kosongkan, belajar, kosongkan lagi. Begitu seterusnya.

Jadilah pembelajar sejati yang pura-pura tidak tahu. Selanjutnya, kamu akan menjadi banyak tahu dan bisa maksimal.

“Saya pernah berkunjung ke sebuah sekolah di mana sekolah tersebut sangat memanusiakan manusia. Hal inilah yang membuat saya mengurai jalan hidup saya yang sesungguhnya. Bila saya harus mengulang hidup saya, saya akan tetap berkiprah di dunia pendidikan TK,” ujar jebolan Universitas Indraprasta PGRI ini dengan mantap.

Baca Juga  Mengapa Anak Menjadi Nakal?

Bagi Zae, bertemu dengan anak kecil, berinteraksi, bergembira bersama, belajar bareng-bareng, merupakan hal terindah dalam hidupnya. Ia rela tenggelam dalam lautan kehidupan mereka.

“Bersama mereka, saya ikhlas menenggelamkan diri di samudera mereka yang luas. Menyelami fitrah saya sebagai manusia yang seseungguhnya, menyelami peran saya di bumi ini, menemukan Tuhan, dan menemukan kebahagiaan saya yang sejati,” pungkas wanita usia 30 tahun ini.

Bagikan
Post a Comment