Anak-Anak yang Berisik dan Salah Kaprah tentang Salat
“Hei le.. jangan salat di situ. Tempatmu di teras. Nanti kualat kalau kamu disitu,” teriak seorang tetua di Masjid Kampung di desa saya. Orang tersebut melarang seorang anak ketika akan masuk ke dalam area masjid.
Entah beliau itu ta’mir di masjid tersebut atau orang yang hanya sekedar mampir untuk melaksanakan salat. Buat anak yang ditegur, itu bukanlah hal yang penting. Yang lebih penting adalah teguran itu membekas dan sedikit membuat trauma tersendiri untuk salat di masjid kala itu.
Dan itu adalah pengalaman seorang anak, sekitar 30 tahun yang lalu, ketika janjian dengan teman-teman sebayanya untuk salat di sebuah masjid di kampung. Pada akhirnya, anak-anak tidak bisa salat dengan tertib karena ditempatkan dipinggiran masjid yang tidak mengikuti ritme salat berjamaah.
Memang di zaman itu, pesan yang sudah terlanjur dipercaya seperti itu akan disampaikan secara turun temurun, tanpa ada yang berani bertanya ataupun membantah. Seperti hal-hal lain yang sudah menjadi ‘titah’ dari Sang Pemimpin. Padahal toh, sampai sekarang juga ga ketemu apa sih maksud dari pesan tersebut.
***
Khusyu, sepertinya kata itu yang menjadi alasan terbitnya peraturan tidak tertulis itu. Keberadaan anak-anak di dalam masjid yang dikhawatirkan membuat keributan akan mengganggu kekhusyuan para jamaah. Dan sudah pasti itu mengusik norma sosial yang ada di wilayah tersebut.
Padahal jika kita perhatikan, kiat agar salat menjadi khusyu salah satunya adalah dengan menghadirkan rasa yakin dilhat oleh Allah. Hal itu sangat dipengaruhi sekali oleh kesadaran diri dan tingkat konsentrasi masing-masing individu ketika melaksanakan salat.
Lantas, apakah khusyu ketika salat itu, seakan kita menyelam ke dalam samudera alam bawah sadar dan tidak menyadari lingkungan sekitar?
Bagaimana dengan masjid/musala yang ‘kebetulan’ terletak di tengah kota dengan lalu lalang kendaraan bermotor, yang terkadang memasang knalpot yang lebih nyaring dari suara petasan? Toh, kita tidak mungkin melarang kendaraan itu untuk lewat di area sekitar masjid/musala kan!
Tentu bagi individu dengan tingkat konsentrasi tinggi, salat dalam kondisi bising sekalipun tidak akan mempengaruhi kualitas konsentrasinya. Apalagi tidak semua masjid/musala terletak di pinggiran desa yang sunyi, yang pasti kondisi tersebut sangat ideal.
Jika kita mempelajari sejarah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggendong Umamah bintu al Ash, putrinya Zainab bintu Rasulullah, di pundak beliau. Apabila beliau shalat maka ketika rukuk, Rasulullah meletakkan Umamah di lantai, dan apabila bangun dari sujud maka beliau kembali menggendong Umamah”.
Beliau juga pernah mempercepat bacaan salat karena mendengar ada anak kecil di masjid yang menangis. Artinya Rasulullah pun masih memperhatikan kondisi sekitar ketika melaksanakan salat. Kita tidak mungkin bilang kalau salatnya Rasulullah nggak khusyu kan?
Sebenarnya di sinilah peran dari setan yang bernama Khanzab, setan yang bertugas mengganggu manusia ketika salat. Ia akan selalu membisikkan kata-kata dan solusi-solusi palsu ketika kita sedang atau akan melaksanakan salat.
Padahal tanpa gangguan pun, toh sering pikiran-pikiran kita melayang-layang, hingga kita lupa rakaat salat kita. Bahkan tidak jarang kita ingat barang yang kita lupa letaknya di mana, justru ketika salat, hahahaha.
Tapi jangan khawatir, tipu daya setan itu tidak akan berpengaruh bagi orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah,” (Q.S. An-Nisa:76).
***
Oke, kita kembali ke laptop. Walhasil, akibat ‘larangan’ anak kecil memasuki masjid, banyak para orang dewasa masa kini kurang mengenal atau malah mungkin tidak pernah berkunjung ke masjid kecuali 1 pekan sekali, yaitu salat Jum’at.
Bahkan mungkin ada yang hanya setahun sekali, Salat Ied..
Masjid hanya diisi oleh para orang sepuh yang mulai sadar tentang kehidupan akhirat, sesekali saja terlihat ada orang dewasa yang salat itupun bisa dihitung dengan jari. Apakah ini imbas dari dilarangnya anak-anak kecil dimasa lalu untuk belajar salat dengan membawa fitrah bermain mereka ke masjid? Wallahua’lam.
Kabar baiknya, masjid-masjid yang sekarang diurus oleh anak-anak di 20-30 tahun yang lalu, sepertinya meninggalkan ‘peraturan’ itu. Banyak masjid yang mulai menempatkan 1 orang takmirnya untuk mengawasi anak-anak yang salat.
Mungkin sudah timbul kesadaran, bahwa bukan melarang anak untuk datang ke masjid, tapi mengatur dan mengarahkan mereka ketika berada di masjid. Anak-anak hanya belum mengerti bagaimana harus bersikap ketika salat di masjid.
Memang sudah tugas seorang orang tua untuk mendampingi anaknya ketika salat, tapi jika tidak memungkinkan, ta’mir masjid bisa ikut membantu mengatur jamaah anak-anak sekaligus menjaga barang-barang milik jamaah dewasa yang sering ditaruh dipinggiran masjid.
Lain cerita untuk masjid/musala yang masih diurusi oleh ta’mir yang sudah lanjut usia, ‘peraturan’ itu tetap ditegakkan. Bahkan ada yang jelas-jelas menempelkan tulisan “Anak-anak dilarang masuk masjid.”
Seorang penguasa Yahudi pernah berkata, “Kami baru takut terhadap umat Islam jika mereka telah melaksanakan shalat subuh seperti melaksanakan shalat Jum’at.” Nampaknya hal ini sulit terjadi jika para generasi penerus umat tidak terbiasa mendatangi rumah ibadah mereka.
Buruh rakyat. Institusi : Bappedalitbang Kabupaten Paser. FB : Andi Wardhana Ig : Andi Wardhana
Twitter : Andi Wardhana
