Orang Tua Wajib Tahu! 4 Aspek Pola Pengasuhan Anak
Anak adalah anugerah yang luar biasa dari Allah, anak merupakan titipan yang harus diasuh dengan sepenuh hati. Beberapa orang yang belum diberi kepercayaan mendapatkan buah hati melakukan berbagai cara. Seperti inseminasi, bayi tabung hingga mengadopsi anak. Namun banyak pula orang tua yang menelantarkan anaknya. Padahal ketika seorang anak lahir di dunia mereka memiliki hak untuk hidup layak dan mendapat kasih sayang. Orang tua adalah orang terdekat yang wajib melimpahkan kasih sayang kepada anak.
Sebuah idiom mengatakan “anak tak pernah meminta dilahirkan, maka jaga, rawat dan sayangi dia”. Titipan Allah ini wajib dijaga sebagaimana mestinya, salah satu cara menjaganya adalah dengan menerapkan pola asuh yang benar. Banyak orang tua yang menggunakan pola asuh otoriter yang awalnya bertujuan membentuk pribadi anak yang disiplin. Justru membuat anak tertekan dan tidak bisa explore dengan lingkungan sekitar.
Faktor pembentuk dari konsep diri anak adalah melalui pola asuh dari orang tuanya. Pola asuh merupakan cara orang tua membesarkan buah hatinya, memenuhi kebutuhan, memberikan perlindungan, mendidik, serta mengontrol tingkah laku anak setiap harinya. (Baumrind dalam Berk, 1994). Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, ketika lahir seorang bayi maka tanggung jawab orang tua bukan hanya membesarkan anaknya melainkan mengajarkan berbagai hal.
Anak ketika lahir bagaikan selembar kertas putih, orang tua memiliki peran untuk mengukir kertas tersebut. Menggunakan jenis pena apa, atau ingin mengisikan materi apa terhadap kertas tersebut. Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif yakni orang tua yang tidak mengekang anak dengan banyak perintah, tidak menggunakan kekerasan serta memberikan kuasa pada anak. Dengan dalih sayang, orang tua yang memilih pola asuh demikian justru membuat anak berbuat semaunya dan anak tidak dituntut untuk belajar bertingkah laku. Orang tua membebaskan semua kegiatan anak tanpa adanya kontrol.
4 Aspek Pola Asuh
Menurut Diana Baumrind dalam (Bee & Body, 2004) berikut 4 aspek dalam pola asuh yang diterapkan orang tua:
Pertama, kendali dari orang tua (Parental Control) orang tua memiliki tugas untuk dapat mengubah tingkah laku ketergantungan anak, sikap agresif anak, sifat kekanak-kanakan, serta menanamkan nilai tertentu dari orang tua pada anak.
Kedua, tuntunan untuk tingkah laku yang matang (Parental maturity demands) orang tua memiliki tugas untuk mendorong kemandirian anak serta mengajarkan tanggung jawab terhadap tindakan yang ia perbuat.
Ketiga, komunikasi antara orang tua dan anak (Parent-child communication) komunikasi antara orang tua dan anak adalah sebuah usaha untuk menciptakan komunikasi verbal dengan anak sehingga terjalin komunikasi dua arah.
Keempat, cara pengasuhan atau pemeliharaan orang tua terhadap anak (Parental nurturance) ini merupakan ungkapan orang tua yang menunjukkan kasih sayangnya terhadap anak, perhatian dan dorongan bagi anak. Dua unsur dari aspek pengasuhan bagi anak adalah unsur kehangatan dan keterlibatan. Tunjukan bahwa orang tua menyayangi anak dengan berbagai tindakan verbal maupun non verbal. Keterlibatan ialah kemampuan orang tua untuk mengenali tingkah laku dan perasaan anak. Ikutlah bangga dengan pencapaian anak, tunjukkan bahwa orang tua merasa beruntung memiliki buah hati dia. Berikan pula perhatian pada kesejahteraan anak. (Winanti, dkk, 2006)
Implementasi Pola Asuh
Dari teori yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan.
Pertama, setiap orang tua memiliki kendali penuh bagi buah hatinya. Kewajiban mengarahkan anak menuju hal baik, mengajarkan anak hal yang boleh dilakukan maupun tidak, mengajarkan anak bersikap serta mengendalikan anak untuk tetap berjalan di jalan Allah. Dalam arti lain, orang tua memiliki kendali untuk mengajarkan ilmu tauhid dan akidah kepada anak. Hal ini akan menjadi bekal kelak hingga ia tumbuh dewasa.
Kedua, menuntun anak untuk bertingkah laku secara matang. Orang tua memiliki kewajiban untuk membiasakan kemandirian pada anak. Ajarkan anak untuk tidak selalu bergantung dengan orang lain. Hal kecil yang bisa dibiasakan sejak dini adalah mengajari anak untuk mengambil makan dan makan sendiri, setelah anak masuk sekolah ajari anak untuk menata jadwal pelajaran sendiri. Kemandirian ini akan sangat bermanfaat bagi anak, ia bisa melakukan berbagai hal tanpa menunggu bala bantuan.
Ketiga, komunikasi antara orang tua dan anak. Komunikasi adalah sebuah hal penting yang harus selalu dilakukan. Banyak salah paham dan perpecahan karena komunikasi tidak berjalan dengan lancar. Sesibuk-sibuknya orang tua, luangkanlah waktu untuk anak. Mereka butuh untuk sekedar bercerita harinya, mimpinya dan hal-hal sederhana lainnya. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik kedekatan antara orang tua dan anak akan terjalin. Hingga mereka dewasa anak tidak sungkan untuk bercerita berbagai hal kepada orang tuanya.
Keempat, cara pengasuhan dan pemeliharaan. Dua unsur penting dalam cara pola asuh adalah kehangatan dan keterlibatan. Setiap keluarga pasti selalu dihadapkan dengan berbagai konflik, perpecahan, perbedaan pendapat dan pertikaian. Untuk mewujudkan sebuah keluarga yang hangat, maka sebagai orang tua sebisa mungkin menyembunyikan pertengkaran di depan anak. Kamu harus melindungi mental anakmu dengan tidak mempertontonkan pertengkaran kamu dengan pasangan. Hal kedua dari cara pola asuh adalah keterlibatan, ajak anak untuk terlibat dalam beberapa aktivitas. Ini menunjukkan bahwa kamu menganggap bawa anak ada dalam kehidupan mereka. limpahkan kasih sayang dan support bagi anak juga merupakan bentuk perhatian bagi buah hati. Jaga amanah yang telah Allah berikan kepadamu dengan baik, anakmu adalah anugrah.
Guru dan penggiat literasi pena aswaja STAINU Temanggung. IG: Anisa Rachma Agustina.
