Mendidik Tanpa Memanjakan Anak
Obrolan di ruang guru hari ini kembali membahas salah satu siswa istimewa di sekolah saya, W namanya, siswa kelas X. Dia menjadi istimewa karena banyak catatan yang sudah dilakukan. Tidak berangkat tanpa keterangan, tidak mengerjakan tugas, tidak ikut penilaian harian, dan tidak punya catatan sama sekali adalah deretan laporan di buku catatan para guru.
Sosok perempuan sederhana hadir atas nama ibu dari W guna memenuhi undangan dari sekolah. Sambil berurai air mata dia bercerita bahwa iapun sudah tidak tahu lagi bagaimana harus mendidik anaknya.
“Semua sudah saya lakukan, Bu. W itu anak ragil saya, laki-laki sendiri. Jadi saya tidak ingin mengecewakannya. Dari kecil saya selalu menuruti apa pun keinginannya. Tapi semakin besar justru dia semakin susah diatur. Bahkan dia berani membentak jika keinginannya tidak saya penuhi. Monggo, Bu guru mau mendidik anak saya bagaimana, kulo manut mawon.”
Mendengar keluh kesah seorang ibu yang sudah menyerah dalam mendidik anaknya, tentu hal yang sangat miris. Namun, menelaah lebih lanjut kalimat ungkapannya tersebut, saya jadi tahu bahwa dari awal ada yang salah dalam caranya mendidik.
Dari kecil, sebagai anak bungsu, kakak-kakak maupun orang tuanya memanjakan W; dan semua keinginannya akan diupayakan untuk dipenuhi. Misalnya jatah uang jajan yang jauh melampaui kebutuhan. Lalu, saat kelas dua SMP menginginkan sepeda motor, dengan segera si hijau dengan suara menggelegar pun terbeli. Kemudian saat masuk SMA ingin sepeda motor yang lain, tanpa menunggu lama sepeda motor 160 cc dari merk dagang Honda pun hadir.
Namun, semakin besar sikap W semakin arogan dan kasar terhadap orang tuanya. Dia akan memarahi ibunya dan tidak mau menegur kakak-kakanya jika keinginannya tidak segera terpenuhi. Sudah sampai sedemikian buruk perilaku, pun orang tua tetap tidak mengubah pola asuh dan bahkan semakin berupaya agar semua keinginan W bisa segera terpenuhi. Di sini terlihat jika orang tuanya gagal dalam proses pendampingan perkembangan anak secara psikologis karena terlalu memanjakan. Sikap berlebihan orang tua dalam memanjakan anak nyatanya telah membentuk sosok yang semau sendiri, pembangkang dan sama sekali tidak mandiri.
Sejatinya bukan hal yang aneh saat ada anak-anak dengan perilaku yang buruk ternyata dididik dengan cara yang kurang tepat. Bagaimanapun, anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan mengikuti apa yang ia lihat pada mereka sejak kecil. Jangan lupakan, anak-anak terlahir tanpa norma dan budaya. Orang tua lah yang nantinya akan mewarnai dan membentuknya.
Seolah memang demikian lah hukum alam, betapa asuhan ibu pertiwi yang memanjakan dengan limpahan kekayaan alam pun telah menjadikan kita menjadi bangsa yang santai dan tidak terbiasa bekerja keras.
Hal yang lebih miris saya temui akhir-akhir ini di lingkungan sekitar saya. Adanya bantuan langsung berupa uang tunai bagi masyarakat yang masuk kategori tidak mampu justru menimbulkan gelombang rasa malas yang kian menggulung kaum miskin tersebut. Mereka tidak mau lagi menjadi buruh tani di sawah dan lebih memilih duduk santai sambil menunggu uang bantuan yang akan cair setiap empat bulan sekali.
Saya tidak menutup mata akan adanya anak-anak yang tetap menjadi baik meski hidup dalam kemanjaan orang tua. Namun, di setiap latar belakang anak-anak yang bermasalah di sekolah, selalu saja saya temukan pola asuh yang cenderung memanjakan.
Sikap orang tua yang cenderung memanjakan anaknya, sayangnya mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka justru merusak kepribadian anak. Mereka beralasan sayang dan tidak ingin anaknya merasa susah seperti apa yang mereka rasakan dulu waktu mereka kecil. Jadi, selagi ada uang, apa pun keinginan anak akan mereka penuhi.
Maka saya pun tidak heran saat menemukan masih banyak manusia dewasa di lingkungan sekitar yang belum bisa mandiri. Bayangkan, di usia 30 tahunan, mereka yang terdidik untuk selalu dimanja dan dilayani oleh orang tuanya pada akhirnya tetap menjadi beban orang tua meski usia mereka tidak lagi layak disebut sebagai anak-anak. Mereka tidak mau bekerja dan masih terus menadahkan tangan bahkan untuk sebutir permen sekalipun.
Saat mencermati berita kriminalitas, tak jarang saya menyaksikan kejadian memilukan saat anak-anak yang jelas-jelas sudah dewasa menganiaya orang tuanya gara-gara tidak diberi uang untuk membeli rokok oleh orang tuanya. Miris sekali bukan?
Anak-anak memang tetaplah menjadi bayi bagi orang tuanya. Tetapi pada kenyataanya mereka terus bertumbuh dan pada akhirnya akan harus menanggung hidup mereka sendiri. Maka sudah seharusnya orang tua mendidik anak-anak sesuai perkembangan usia dan mempersiapkannya untuk bisa mandiri agar pada saatnya bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang tua.


Elin Marlina
Tulisan yg sangat realistis… Faktanya memang terjadi di seputar orang tua masa kini. Kekhawatiran yg begitu tinggi akan “tidak ingin anak merasakan kesusahan seperti orang tua nya dulu” telah menghipnotis para orang tua untuk memanjakan anak. Perlunya keseimbangan sosialisasi nilai kemandirian, daya juang dan kasih sayang diberikan sejak dini untuk mengntisipasi segala persoalan remaja saat ini baik di dunia keseharian maupun dunia pendidikan.