f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbicara orang tua

Birrul Walidain pada Etika Berbicara

Saya adalah seorang anak. Tak rasa berlaku kurang pas dan kadang kurang semestinya pada anak dalam berkehidupan dengan orang tuanya. Semua orang tua ingin anaknya bertutur kata yang baik, berbakti, dan menghargai kesempatan bersamanya.

Posisi sosok anak selalu berkaitan erat dengan sosok Ibu dan Bapak. Bagaimana tidak? Hadirnya anak adalah berkat anugerah dari Allah kepada sepasang suami istri. Sudah sepatutnya anak mengikuti arahan dan nasihat kedua orang tua. Jika diingat-ingat orang tua adalah seseorang yang paling berpengaruh dalam kehidupan seorang anak. Mulai dari lahir sampai maut memisahkan antarkeduanya, anak selalu butuh keberadaan orang tua: Ibu dan Bapak.

Etika Berbicara

Seringkali saya melihat anak zaman sekarang cenderung acuh terhadap sesuatu hal, terkhusus dalam hal ini adalah keberadaan orang tua yang sebetulnya perlu dipenuhi oleh anaknya dengan kasih sayang. Beberapa kali saya melihat anak-anak (usia SD-SMA) selalu berkata, “Sebentar, Pak,” atau “Sebentar, Buk,” dalam setiap orang tuanya meminta bantuan atau hanya sekadar memanggil atas dasar kepentingan tertentu. Padahal orang tua bisa saja hanya butuh waktu untuk berbicara sebentar saja atau perkara lain yang tidak membutuhkan waktu yang lama. Kita hanya perlu, “Iya, Pak,” “Nggih, Buk,” dan lekas menghampiri.

Kemudian juga anak-anak acapkali berbicara dengan nada tinggi di hadapan orang tua. Saat ngobrol sesuatu ada momen di mana anak meninggikan nada bicaranya lantaran kecewa atau lainnya. Dan seketika wajah orang tua membalik, merasa dirinya dibentak dan tidak dihargai sebagai orang tua. Bisa saja kalau sosok Bapak akan menampar anaknya atau menegur dengan cara lain, tapi kalau Ibu? sakit hati dia dan agak tak kuasa untuk menegur. Padahal, saat ngobrol orang tua hanya butuh didengarkan dan di-iya-kan, tak perlu meninggikan suara, pelan-pelan saja.

Baca Juga  Suplai Gizi Melalui Keprihatinan
Fitrah Sebagai Seorang Anak

Anak dan orang tua adalah satu kesatuan, yaitu yang terhimpun dalam satu lingkup beratapkan keluarga. Dalam kitab suci Al-Quran, Allah menyebutkan Birrul Walidain itu lebih dari satu kali. Saya ulangi, lebih dari satu kali. Ayat yang mungkin familiar adalah surat Al-Isra ayat 23 yang menyeru seorang hamba untuk berbuat baik kepada ibu bapak dan jangan sesekali berkata “ah” dan jangan membentak, ucapkanlah qoulan karima: perkataan yang mulia.

Adapun surat lain, terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 83 dan Al-Luqman ayat 14 yang masing-masing memiliki arti untuk berbuat baik kepada orang tua dan bersyukur kepada kedua orang tua. Fitrah sebagai seorang anak tercermin dari ayat-ayat tersebut. Bahwasanya sebagai seorang anak yang tali pusarnya menyatu dengan ibu; yang besarnya atas keringat seorang ayah, mestinya berbaktilah, berbuat baiklah, dan bertutur kata yang karim lah.

Bicara adalah Doa

Rahmania pasti tak asing mendengar istilah, “ucapan adalah doa”. Jangan sampai kata yang terucap smelukai hati kedua orang tua. Anak harus menyadari bahwa kata-kata yang terucap kepada orang tua, tidak hanya berdampak pada hubungan dengan orang tua, tetapi juga pada kehidupan secara keseluruhan.

Dalam Islam, ada keyakinan bahwa berbicara itu ibarat berdoa. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 53 yang berbunyi:

وَقُلْ لِّعِبَادِىۡ يَقُوۡلُوا الَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ​ؕ اِنَّ الشَّيۡطٰنَ يَنۡزَغُ بَيۡنَهُمۡ​ؕ اِنَّ الشَّيۡطٰنَ كَانَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوًّا مُّبِيۡنًا‏  ٥٣

Artinya: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Ucapan atau bicara ialah cerminan isi hati dan isi pikiran seseorang. Bila seseorang mempunyai pemikiran dan prasangka yang baik, maka ucapan-ucapannya atau pembicaraannya juga akan baik. Setiap kata yang kita ucapkan adalah doa yang bisa membawa dampak positif ataupun negatif.

Baca Juga  Father Time, Cara Membangun Bonding Ayah dan Anak

Menghargai dengan kata-kata. Ketika berbicara dengan penuh hormat dan kasih sayang kepada orang tua, sebenarnya kata itu sedang mengirimkan doa baik bagi mereka dan bagi diri sendiri. Kata-kata positif seperti ucapan terima kasih, pujian, dan ungkapan sayang adalah contoh sederhana namun kuat dalam menghargai jasa mereka.

Sebaliknya, kata-kata kasar, sinis, atau mengeluh kepada orang tua tidak hanya merusak hubungan anak dengan mereka, tetapi juga dapat menjadi doa negatif bagi diri sendiri. Kata-kata buruk yang kita ucapkan kepada orang tua bisa menjadi sumber kesulitan dalam kehidupan kita.

Dilansir dari kumparan.com, hal tersebut juga dijelaskan oleh Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad sebagai berikut:

 احفظ لسانك ان تقول فتبتلي ان البلاء موكل بالمنطق

Artinya: “Jaga lisanmu saat mengucapkan sesuatu jika tidak ingin terkena musibah. Sesunggguhnya bala atau musibah terwakilkan pada apa yang diucapkan.”

Sungguh mengerikan bila setiap kata yang mewakili adalah kata-kata buruk, bagaimana jika di-Amiin-kan langsung oleh Allah Swt, naudzubillah.

Oleh karena itu, kepada diri saya pribadi dan rahmania untuk senantiasa bertutur kata yang baik, berkehidupan yang baik, dan berbakti. Khususnya kepada kedua orang tua yang telah sangat berjasa kepada hidup kita. Dari mulai ditiupkan ruh di dalam janin ibu, sampai menjadi seorang sarjana, seorang pendidik, seorang insinyur, dan apapun itu. Kita tetaplah anak kecil di hadapan kedua orang tua. Berbakti dan berbicaralah yang mulia. Hargai momen kebersamaan selagi orang tua ada. Pun, kalau sudah tiada, berbaktilah. Ikuti wasiatnya, kunjungi makamnya, doakan, mohonkan ampun kepada-Nya.

Bagikan
Comments
  • Taqiyyazzah

    wah menarik 😺

    Januari 6, 2024
Post a Comment