Manusia merupakan mahkluk sosial yang berarti saling membutuhkan satu sama lain. Dalam Islam, hubungan antarmanusia atau hablumminannas haruslah baik. Namun, apabila hubungan antarmanusia tidak baik, maka akan ada sentimen dan berbuah dosa.
Manusia saling berhubungan salah satunya dengan cara berkomunikasi satu sama lain. Dengan berkomunikasi, seluruh kegiatan sosial manusia akan mudah untuk dikerjakan. Apabila manusia dapat berkomunikasi dengan baik, maka akan menghasilkan pekerjaan yang baik pula. Bentuk komunikasi manusia salah satunya adalah saling berbicara.
Allah memerintahkan manusia untuk saling berperilaku lemah lembut terhadap sesama manusia. Surah Ali Imran 159 menyebutkan bahwa:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran, 3: 159).
Surah ini memiliki makna bahwa agar manusia dapat saling bersikap lemah lembut terhadap seluruh manusia, termasuk juga berbicara. Apabila manusia berbicara dengan nada yang kasar maka orang-orang sekitarnya bisa saja merasa risih atau terganggu dengan cara berbicara tersebut. Bentuk berbicara kasar adalah selalu membentak orang lain dan menggunakan kata-kata yang kasar.
Persepsi Emosi dan Prosodi
Sebuah penelitian membuktikan, dari nada bicara dan penggunaan kata, seseorang yang mendengarkan dapat juga merasakan emosi dari lawan bicaranya. Ketika situasi emosi misalnya, individu dapat ketakutan atau mungkin akan marah ketika mendapat bentakan.
Salah satu penyebab terbentuknya emosi ketika dibentak adalah karena individu mengenal bentuk emosi dari nada berbicara orang lain. Pada dasarnya, rasa emosi dapat diekspresikan melalui bahasa yang kita gunakan saat berbicara (Bryant & Barrett, 2008).
Selain emosi marah, otak manusia sangat hebat dalam mengenal emosi yang lain. Bryan & Barret (2008) menggagas, manusia dapat mengenal setidaknya 5 emosi hanya melalui suaranya. Emosi tersebut adalah emosi marah, sedih, bahagia, jijik, dan ketakutan. Menurut Bryan & Barret, 5 emosi ini merupakan emosi dasar yang manusia miliki.
Manusia dapat mengenal intonasi yang mereka dengar, dan hal ini sesuai dengan konsep prosodi. Prosodi merupakan jenis ritme, penekanan, dan nada yang menandakan jenis ungkapan yang akan dikeluarkan sehingga jenis pembicaraan yang diberikan menjadi jelas.
Prosodi biasanya terasa ketika kita membaca sebuah teks yang memiliki tanda baca; contohnya ketika membaca bertemu tanda koma maka manusia akan berhenti sesaat, jika menemukan tanda seru maka akan menaikan nada suaranya. Ketika bertemu tanda tanya manusia akan memberikan nada seolah olah bertanya, atau ketika bertemu tanda titik manusia akan berhenti ketika membaca (Carlson, 2013).
Dari prosodi ini manusia juga mengetahui jenis emosi karena adanya penekanan, ritme, dan nada yang berbeda pada tiap emosi manusia.
Tiga Tahap Emosi
Menurut Kalat (2009), mengenal emosi terbagi menjadi tiga tahap yakni kognisi, perasaan, dan aksi. Situasi emosional mengaktifkan autonomic nervous system yang memiliki dua cabang yakni parasimpatetik dan simpatetik. Kedua cabang ini ini saling bekerjasama dalam menghasilkan respon ketika dalam situasi emosional.
Kondisi emosional yang mungkin terjadi adalah ketika seseorang mendapat bentakan maka situasi emosi yang ada adalah kondisi ketakutan (tubuh merasa takut) dan menghasilkan aksi menangis.
Manusia memang dapat mengenal emosi dari suara manusia, namun bukan berarti semua yang ditangkap otak adalah bentuk emosi yang benar. Berdasarkan penelitian Gunawan & Yustanto (2019) menggambarkan bahwa, kelantangan suara oleh suku Jawa lebih rendah dari pada kelantangan suara penduduk suku Sulawesi dan Sumatera. Dengan adanya bias budaya dalam mengenal emosi pada suara manusia khususnya di Indonesia. Maka manusia tidak patut jika mudah menilai perilaku insan lain hanya berdasarkan suara.
Menjaga Lisan dan Tipsnya
Manusia yang beriman diharapkan mampu menjaga lisannya. Surah Qaaf ayat 16 menyebutkan:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf, 50:16).
Telah berfirman kepada manusia bahwa, malaikat selalu mencatat seluruh ucapan kita bahkan apa yang ada pada hati kita. Maka untuk menjaga lisan agar terhindar dari segala dosa manusia dapat melakukan kebaikan dan menghindari ucapan yang buruk.
Jenis ucapan buruk yang pertama adalah ucapan yang memancing emosi. Manusia yang memancing emosi biasanya akan menimbulkan situasi emosi yang kurang baik bagi manusia sekitarnya. Karena manusia dapat mempersepsikan emosi dari suara atau lisan seseorang, maka akan timbulnya aksi yang memicu putusnya tali persaudaraan antar manusia.
Kemudian manusia tidak sepantasnya untuk saling mengejek. Manusia yang mengejek biasanya akan mengeluarkan nada emosi yang tidak enak untuk didengar. Dari ejekan ini biasanya akan berujung bullying antar manusia. Bullying dapat memutuskan tali persaudaraan manusia serta dapat memberikan efek traumatis pada individu yang di-bully. Maka dari itu mengejek orang lain merupakan hal yang buruk.
Terakhir, tips paling ampuh adalah untuk berbicara dengan lemah lembut sesuai dengan potongan surat Ali Imran. Sikap lemah lembut dapat menyebarkan situasi emosi yang nyaman bagi kondisi sekitarnya. Pun lemah lembut dapat meningkatkan nilai manusia.
Dari ilmu ini, kita dapat mengetahui bentuk emosi seseorang dengan suaranya. Suara manusia memiliki nada, ritme, dan penekanan yang berbeda pada tiap bentuk pembicaraan . Kemudian dari pengetahuan tentang suara ini manusia akan mempersepsikan emosi dalamnya.
Setelah mengetahui ilmu ini, input yang kita dapat ialah berusaha semaksimalnya berbicara dengan lemah lembut terhadap sesama manusia agar tercipta suasana emosi yang baik.
Referensi
Bryant, G. A., & Barrett, H. C. (2008). Vocal Emotion Recognition Across Disparate Cultures. Journal of Cognition and Culture, 135-148.
Carlson, N. R. (2013). Physiology of Behaviour. New Jersey: Pearson.
Gunawan, F., & Yustanto, H. (2019). SISTEM PROSODI SUARA MAHASISWA MULTIETNIS DI SURAKARTA. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 143-163.
Kalat, J. W. (2009). Biological Psychology. Belmont: Wadsworth Cengage Learning.
