Mahalnya Sebuah Karya
Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Buya Hamka
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer-
Kutipan di atas pasti tidak asing lagi. Kenapa beliau kiranya sampai akhir hayat masih sangat dikenang dan dihormati. Tidak lain dan tidak bukan karena karyanya. Iya, bahkan ada peribahasanya ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama‘. Setiap orang pasti akan lungo, bukan lungo pas sayang – sayange, tapi lungo (pergi) ngadep marang pangeran (red:Allah) untuk memertanggungjawabkan segala apa yang telah diperbuat dengan segala nikmat yang dirasakan di Bumi Allah ini.
Tokoh yang saya kutip di atas adalah yang mempunyai karya yang mampu memberikan manfaat baik dalam dakwah dan kesusasteraan Indonesia. Selain tokoh – tokoh di atas sebenarnya masih banyak lagi yang tidak mampu saya sebutkan. Tidak lupa dengan Muhammad Saw yang mampu memberikan contoh tauladan untuk semua manusia di muka bumi.
Karya di sini adalah berupa ide, tulisan dan gagasan yang nantinya mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Selain itu, jelas dalam Kitab yang saya Imani (Al-Qur’an) juga menganjurkan manusia untuk selalu berbuat baik dan menggunakan akalnya. Dengan pemaknaan tersebut, maka kita akan tertuntut untuk melahirkan sebuah gagasan yang bisa diwujudkan dalam sebuah karya.
Bagaimana Ber-karya ?
Dalam KBBI, karya merupakan hasil perbuatan; buatan; ciptaan (terutama hasil karangan). Memunculkan sebuah karya pastinya harus ada pergeraka , pembacaan dan pengalaman. Lantas bagaimana kita harus memulai sebuah karya, bisa kita analogikan munculnya sebuah karya pasti harus ada sebuah peristiwa ataupun pengalaman dari si pembuat karya itu sendiri.
Contohnya, gelas itu bisa diminum melalui proses pengisian air dalam gelas itu sendiri. Jadi sebelum gelas itu diminum oleh orang, harusnya diisi dengan air dari teko dulu. Atau bahkan bisa dicontohkan sumur itu tidak akan pernah kering ketika semakin seringnya di ambil airnya, karena itulah sebenarnya manusia itu mampu menghasilkan suatu karya melalui proses berpikir.
Selain itu sekarang ini banyak media kita untuk berkarya, melalui Tulisan, Youtube, melalui apapun bisa. Bahkan selain untuk mengabadikan diri melalui karya itu nantinya juga mampu memberikan pendapatan untuk si pembuat karya tersebut. Allah sebenarnya telah memberikan kelebihan baik berupa akal, hati dan seluruh tubuh yang diberikan manusia untuk memunculkan sebuah karya itu sendiri. Walaupun memang menciptakan sebuah karya itu harus melalui berbagai rintangan tetapi akan sebading dengan apa yang akan diterimanya baik di dunia dan diakhirat. Karena dengan karya – karya yang bermanfaat ketika kita sudah tidak ada, dengan karya tersebut bisa amal yang tidak pernah putus bagi kita, karya yang menjadikan ilmu yang bermanfaat.
Berkarya dengan Mengenali Diri
Yang harus ditekankan dalam berkarya selanjutnya adalah mengenal siapa diri kita sendiri. Di era yang semakin deras dengan berbagai macam informasi yang tidak terbendung ini, selayaknya kita harus mengenali diri kita, untuk melahirkan sebuah karya. Khususnya remaja yang masih asik pencarian jati diri, semakin kita lebih mengenal diri kita akan semakin lebih dini dalam kita berkarya, dengan melalui berbagai perlombaan, organisasi, mengikuti pertukaran remaja, bertinju di arena itu semua merupakan karya yang nantinya bisa menghidarkan untuk melakukan hal yang sia-sia.
Selain itu berkarya harus diniatkan untuk kebaikan, dengan berkarya kita akan mengenali diri kita dan lebih mendekatkan pada yang maha kuasa. Dengan berbagai akses dan media yang seperti ini selayaknya perbanyak untuk berkarya di ruang ruang media, dan gunakanlah karyamu untuk menerangi dunia, bukan berkarya untuk mencari kepentinganmu sendiri dan merugikan yang lainnya.
Mulai sekarang perbanyak karyamu, melalui bidang yang kamu senangi. Dirimu adalah dirimu dirinya adalah dirinya dan teruslah bertumbuh sebelum nyawa yang kau punya habis ditelan sang waktu. Hidup cuma sekali mulai berkarya tanpa nanti dan jangan menua tannpa arti.
Guru BK SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Alumni BK Universitas Ahmad Dahlan
